a choice that change my life

Sabtu, 16 Februari 2013

Merasakan Suasana Italia di Thailand



Jalanan sempit bersih dengan batuan halus, tembok berwarna bata, menara jam yang menjulang, ukiran khas eropa, taman kecil yang indah, dan toko mungil. Suasana pedesaan Tuscany Italia itu kurasakan di Palio Khaoyai Thailand. Palio dapat dituju dari Bangkok dengan lama perjalanan 2.5 jam. Aku mengunjungi tempat ini pada Desember 2012 karena kegiatan PERMITHA (Persatuan Mahasiswa Indonesia di Thailand) AIT. Jadi aku menuju kesana dengan menyewa van.
Penjual sedang menata dagangannya
Shopping @Palio

Jalanan khas pedesaan Italia di Palio

Saya :P (ga penting banget)

Suasana perbelanjaan di Palio

Sebenarnya Palio Khaoyai merupakan komplek wisata belanja dengan desain pedesaan Italia. Disini tersedia toko souvenir, restoran, cafe, hotel, dan bioskop 3D. Poin utama yang menarik wisatawan kesana adalah suasana pedesaan Italia berlatar bukit yang dibawa ke Thailand. Meski tergolong sempit, mengintari Palio cukup membutuhkan waktu karena jalanannya berliku seperti labirin. Kita tidak tahu pasti ada dimana tapi bisa menikmati setiap sudut di Palio dengan berpatokan jalan pada menara jam yang menjulang. Setiap sore juga terdapat parade beberapa orang yang mengenakan baju unik.
Toko mungil di Palio
Foto-foto di taman
Kartu pos
Parade unik di Palio
Setelah puas berfoto di Palio Khaoyai, rombongan menuju ke Smoke House. Ini adalah restoran mewah dan toko wine. Sebenarnya kami tidak ingin makan disini ataupun membeli wine. Tujuan ke Smoke House adalah datang-muter-foto-pulang. Kebacut sih tapi cuek, lha memang Smoke House memiliki arsitektur unik yang baru pertama kali ini kulihat. Smoke House bangunan dengan batuan berwarna putih dan terdapat cerobong asap, diluarnya terdapat taman dengan tempat duduk kayu. Dari kejauhan terlihat perbukitan menjulang mengelilingi Smoke House.
Smoke House, bagian belakang.
Smoke House, tampak samping.
Toko wine didalam Smoke House.
Bukti pernah ke Smoke House :P (narsis).
Zjahra, di jalanan Smoke House
Destinasi selanjutnya adalah Farm Chockchoi. Namanya Farm/peternakan, pikirku kami akan mengunjungi peternakan yang banyak sapi atau kambingnya dengan bau-bauan gak enak. Namun ternyata Farm Chockchoi sudah dimodifikasi untuk tujuan wisata. Peternakan sesungguhnya berada didalam area dan harus mendaftar tour jika ingin masuk kesana. Diluarnya terdapat areal rerumputan untuk piknik, toko hasil produk peternakan, dan kandang untuk kuda/ kambing/domba/ sapi mungil. Tak jauh dari sana juga terdapat areal untuk gokart. Aku mencoba membeli susu segar sebotol besar (sekitar 1-2 liter) dengan harga 40 Baht dan diminum berempat. Rasa susu segar dari peternakan memang benar-benar fresh! Lalu kami mengadakan piknik disini dengan menggelar tikar di rerumputan dan makan ikan goreng penyet khas Indonesia yang dimasak di AIT. Ahoyy sedaap.

Toko di Farm Chokchai
Piknik :)
Ikan penyet dan lalapan.Arroy :D
Aku dan Kakak Stev
Sebenarnya jalan-jalan kali ini tidak ada cerita haru-biru yang menyedihkan atau surprise seperti cerita mbolangku yang lain. Hal ini karena aku ikut acara, tinggal membawa badan dan memasrahkan diri. Hal yang dapat kuambil dari tiga wisata tersebut adalah Thailand benar-benar pandai menjual keunikan untuk wisata. Misalnya kalau Palio hanya didesain pasar biasa, siapa yang mau kesana? Seperti halnya restoran Smoke House, semua orang boleh datang kesana meski hanya untuk berfoto. Kita tidak dipaksa makan di restorannya untuk bisa foto. Wine yang ditata rapi juga menjadi daya tarik sendiri di negara tropis. Ataupun peternakan chokchai, konsep yang mereka bawa benar-benar unik. Mereka mengelola peternakan dan menarik pembeli dengan cara menjadikan peternakan sebagai destinasi wisata. Jadi pembeli akan datang dengan sendirinya. Andaikata konsep seperti ini diterapkan di Indonesia, tak perlu lagi adanya rentenir yang membeli susu dengan harga murah ke peternak, dan menjual ke konsumen susu yang tidak segar karena distribusinya yang mbulet dan lama. Wew sepertinya saya ingin membangun kebun atau peternakan di Indonesia dengan konsep seperti ini.
Kuda unyu @Farm Chokchai
Arena ATV di dekat Farm Chokchai.
Read More

Senin, 11 Februari 2013

Belanja Sampai Bokek di Bangkok (I)

Benar adanya bahwa Bangkok Thailand adalah surga bagi para penggila belanja. Disetiap sudut kota Bangkok pasti ada pusat perbelanjaan mulai kaki lima sampai mall, mulai yang sementara sampai yang tetap, mulai harga murah sampai mahal. Tak ayal banyak barang-barang di Indonesia yang dibeli dari Thailand.
Sepertinya perempuan Indonesia dilahirkan dengan hasrat belanja yang besar. Buktinya teman-temanku Indonesia pasti shopping tiap minggu, entah kemana. Jangan heran kalau mereka bisa menyebutkan nama semua mall di Bangkok tapi ga tau Khaosan Road itu dimana. Awal-awal aku sempat stress karena mereka kerjanya hanya belanja, lama-lama ikutan juga sih :D. Berikut ini daftar nama tempat belanja yang pernah kukunjungi:

1. Cathucak Weekend Market/ JJ Market

Dagangan di Cathucak Market
Inilah pasar yang paling terkenal se-Thailand dan menjadi destinasi wajib bagi pelancong. Pasar ini dapat dituju dengan menggunakan BTS atau MRT jurusan Mo Chit. Pasar ini hanya buka saat hari Sabtu-Minggu. Apapun ada disini, ya apapun! mulai dari ayam hidup, baju, souvenir, tumbuhan, dan lain-lain. Pasar ini layaknya pasar tradisional biasa dengan stand sempit dan ada juga yang kaki lima. Yakin, sehari takkan cukup untuk mengintari pasar ini karena aku sudah pernah mencobanya. Herannya lagi aku tidak dapat mengingat letak stand. Minggu ini nemu barang murah, minggu depan pas kesana lagi tiba-tiba standnya sudah ga ada.
Buah-buahan palsu di Cathucak.

Adrenalin kita sebagai perempuan dipacu untuk menemukan dan menawar barang murah disini XD.Berikut ini patokan harga souvenir di Cathucak, harusnya bisa lebih murah:
1. Gantungan kunci gajah kecil: 65 Baht, isi 7
2. Gantungan kunci tebal: 90-100 Baht, isi 6
3. Tas gajah: 90 Baht
4. Sarung Thailand langsung jadi: 200 Baht
5. Songket Thailand: 400 Baht/ 4 meter
6. Songket Thailand campur satin: 300 Baht
7. Kaos (tergantung jenis dan ukuran): 80-120 Baht
8. Lampu hias: 120-150 Baht

2. MBK

Belanja sebelum pulang kampung.

MBK merupakan mall di daerah Bangkok. Kalau lagi apes ga bisa datang ke Cathucak, bisa mencari souvenir di MBK namun harganya lebih mahal dan kebanyakan harga pas. Tapi tetap saja kalau dibandingkan dengan di Indoensia, banyak barang yang lebih murah disini. Contohnya tas segala macam jenis berharga 200 Baht, padahal kalau di Indonesia bisa dijual ratusan ribu. MBK dapat dituju dengan BTS ke National Stadium. Disini juga ada prayer room buat orang Islam.

3. Terminal 21

Pemandangan dari toilet di lantai teratas Terminal 21.
Mall yang letaknya di jalan Sukhumvit dan berhenti di stasiun BTS Sukhumvit ini memeliki keunikan sendiri. Setiap lantai didesain dengan tema kota negara yang berbeda, misal: Paris, Istanbul, Tokyo, Hollywood, dan London. Hal yang wajib dicoba adalah ke toilet. Ya toilet!! Desain toiletnya sangat unik menyesuaikan dengan tema kota. Toiletnya sendiri memiliki banyak settingan: bisa pilih mau buang air kecil atau air besar, pilih air hangat, normal, atau dingin, dan kecepatan air. Bahkan waktu disini, aku mencoba semua toilet disetiap lantai :D.
Jalan masuk ke toilet, di lantai bertema Paris.
Suasana didalam toilet >_<

4. Platinum

Merupakan mall fashion terbesar. Mall ini bisa dituju dengan BTS ke Ratchadewi dan berjalan dikit. Disini sistemnya ada yang harga pas, ada yang ditawar. Namun beli tiga bisa jauh lebih murah daripada membeli hanya satu.

5. Union Mall

Sebenarnya ini mall biasa yang menjual berbagai macam baju/sepatu/dll. Bisa dituju dengan naik MRT ke Phahon Yotin. Namun jika ingin mencari barang secondhand dengan kualitas tinggi, mall ini wajib dikunjungi. Silahkan naik sampai lantai teratas. Banyak baju dan sepatu secondhand yangmasih bagus dan bermerk. Contohnya sepatu boot untuk musim salju (entah dipakai dimana) dijual seharga 300 Baht. Baju-baju lucu dijual sekitar 50-200 Baht. Bahkan saat aku kesana, tergoda juga untuk beli jaket ala korea yang masih bagus dan dijual 200 Baht.

6. Future Park

Future Park saat bertema candy.
Ini mall segala umat di daerah Rangsit. Mall ini menjadi jujukan minimum kalau lagi weekend karena letaknya yang dekat dan lumayan lengkap. Tiap bulan juga pasti belanja keperluan bulanan disini: beras, telur, dll. Sampai-sampai aku hapal letak setiap toko. Uniknya mall ini memiliki banyak bunga dan berganti-ganti setiap minggunya. Sering juga ada tema dan stand-stand lucu-lucu, misalnya: tema candy, imlek, valentine,go green, dan lain-lain.

7.Pasar Malam

Masak di penggorengan raksasa @Kaset Fair
Kalau boleh dibilang, pasar malam di Thailand itu kebacut. Masa disetiap sudut pastri ada pasar malam setiap minggunya. Sangat berbeda sekali dengan di Indonesia, pasar malam hanya diadakan di tanggal tertentu, meski ada juga pasar malam yang diadakan setiap minggunya. Tapi disini pasar malamnya selalu besar, rame, dan ada jadwalnya. Contohnya pasar malam yang dekat dengan asramaku ada tiga: Thalaknad (parkiran di Thammasat) yang buka hari Senin dan Kamis sore-malam, Thamassat hospital yang buka hari Senin dan Kamis saat pagi-sore, dan TU Dome yang buka hari Senin, Rabu, dan Jumat. Jadi setiap minggu, minimal aku mengunjungi satu kali pasar malam. Nah kalau ada hari perayaan spesial, pasar malamnya bisa lebih besar lagi dan berlangsung seminggu. Misalnya waktu festival Loi Krathong,pasar malamnya begitu meriah ditambah semarak kembang api.
Festival Loi Krathong @Thammasat
Dekorasi rumah yangdipajang di salah satu stand.
Barang yang dijualpun bermacam-macam, biasanya separuhnya adalah makanan. Contoh yang jualan barang: aksesoris, kosmetik, baju, peralatan rumah tangga, sepatu, dan meja. Contoh jajananya: onigiri, jajanan pasar (lemper, kue tok,klanting, dll), kebab, ayam briyani, sosis, dorayaki, jus sari buah, buah potong, penyetan, cake, cupcake, dan buanyak lagi jajanan lucu-lucu lainnya. Dulu waktu awal-awal kuliah, pasti tiap minggu beli baju di pasar malam, lha murah banget sih. Hihi.

8. Talad Thai

Mangga manis.
Ini central pasar tradisional di propinsi ini. Jangan bayangkan seperti pasar tradisional di Indonesia. Talad Thai merupakan pasarnya pasar dan ukurannya besaaaarrrrr bangeeet. Aku aja belum pernah berhasil jalan kaki dari ujung ke ujung. Bayangkan setiap komplek hanya menjual barang khusus. Misalnya ada komplek yang khusus menjual jeruk dan komplek itu besarnya seperti lapangan indoor futsal yang isinya ada 4 lapangan. Itu segitu gedenya cuma jualan jeruk doang. Saat aku kesana untuk membeli buah-buahan untuk pesta, aku stres sendiri. Masalahnya mereka kurang bisa bahasa Inggris dan pasarnya segitu besarnya. Jualan anggur sendiri, apel satu kompek, sayur sekomplek, ikan sekomplek, daging sekomplek dan lain-lain. Aku kesusahan cari yang eceran. Saat di ambang keputus asaan, akhirnya kutemukan yang jual buah eceran di dekat komplek labu =__= Oh God, thanks.
Read More

Two Days Escape to Pattaya: Budget dan Tips


Taraa inilah hal teknis yang sering ditanyakan yaitu Budget. Berikut ini budget perjalanan selama dua hari. Asumsi mbambung, ga dianterin temen, dan jalan-jalan sendirian.

Budget:

1. Van Rangsit-Pattaya (PP): 140 Bx2 =280 B
2. Makan siang : 40 B
3. Tiket di Budha Hill: 20 B
4. Tiket naik kereta di Silverlake: 80 B
5. Jus anggur: 35 B
6. Makan malam di Jomtien: 50B
7. Penginapan: 250 B
8. Sarapan: 30 B
9.Songthew Jomtien-Balihai: 20 B
10.Kapal Pattaya-Kohlan (PP): 30Bx2= 60B
11. Muter-muter di Koh Lan: 50+40+20+20=130 B
Total: 995 Baht

Tips:

1. Silverlake hanya buka sampai jam 5 sore
2. Bawa baju renang sebelum menyesal karena tidak dapat menikmati air pantai
3. Bawa topi karena panas
4. dan hal-hal standar lainnya yang sudah menjadi kesepakatan umum seperti: bertanya bila tersesat, bawauang, bawa baju ganti, punya itenary, bawa peta, dan sebagainya.

Happy travelling in Pattaya!! ^0^
Read More

Two Days Escape to Pattaya: Terdampar di Lima Pantai

Itenary-ku di hari kedua ini adalah jalan-jalan disekitar Pattaya dan Koh Lan. Pagi hari, aku menyusuri sepanjang pantai Jomtien yang hanya sepelemparan batu dari hostelku. Pantai Jomtien ini mengingatkanku akan pantai Kuta Bali yang disepanjang tepi pantainya berjajar hotel, bar, dan toko. Aku menyusuri sepanjang pantai berpasir kuning ini. Sesekali berhenti untuk memandang bule-bule gendut berjemur, menuliskan kalimat di pasir pantai ala remaja alay, dan melempar-lempar batu ke air. Tujuan utamaku pagi itu adalah mencari sarapan sambil menikmati semilir angin pantai. Jam menunjukkan pukul 7.30 pagi,lapak-lapak di pinggir pantai baru saja ditata. Akhirnya aku memutuskan untuk membeli sesuatu di 7eleven: kripik,biskuit, dan yoghurt. Yahh hitung-hitung berhemat setelah hedon makan enak-enak di hari sebelumnya.
Menulis kalimat di pasir pantai Jomtien,semacam anak alay.

Aku memakan jajananku sambil duduk sendirian di batuan pantai Jomtien. Enaknya jalan-jalan sendirian itu ga ada yang mintain jajan kita (ih pelit :p), bebas menentukan kemana dan kapan, dan menikmati segala sesuatu dengan lebih detail. Ga enaknya ga ada yang kasi kita jajan, ga ada teman ngobrol, ga bisa foto narsis, dan ga ada yang disuruh-suruh nanya kalau kita tersesat. Saat itu, aku berharap bisa menemukan kenalan baru untuk perjalananku. Doaku langsung terkabul, anjing hitam dari kejauhan tampak mendekatiku dan berusaha mengendus jajananku. Kontan saja aku yang phobia sama anjing jelek langsung berdiri, berjalan menjauh pelan-pelan, lalu lariiiii...... biar rada cool, larinya macak lagi joging ala bule di pinggir pantai bedanya sambil bawa kresek jajan 7eleven.

Aku kembali ke hostel dan mengemasi barang-barangku. Cewek Prancis yang sekamar denganku masih tampak tertidur lelap. Aku check out dari hostel menuju ke pinggir jalan dan mencegat songthew. Pantai Jomtien ini letaknya disebelah pantai Pattaya yang tersohor, jadi aku harus naik songthew untuk menuju ke Balihai yang terletak di sepanjang pantai Pattaya. Balihai adalah pelabuhan kecil tempat bersandarnya kapal-kapal menuju  Koh Lan yaitu Pulau Koh yang terletak didekat Pattaya. Biaya songthew seharusnya cuma 20 Baht, tapi entah kenapa saya dipaksa bayar 50 Baht T.T huuu,yah mungkin juga gara-gara aku naik dari ujung ke ujung.

Sesampai di Balihai,aku celingak celinguk dan mengikuti arus turis bule naik kapal. Benar saja, kapal tersebut menuju Koh Lan. 30 Baht untuk sekali jalan, namun harus menunggu kapal penuh dengan penumpang biasanya sekitar sejam. Kapal ini tersedia setiap jam mulai jam 07.00 sampai 17.00 dari Pattaya ke Koh Lan dan sebaliknya. Kalau lagi kaya,ingin eksklusif dan cepat,bisa sewa speed boat yang harganya berkalilipat. Seniorku yang pernah merasakan naik speed boat harus membayar 500 Baht untuk PP Pattaya-Kohlan. Setelah menunggu sejam, akhirnya kapal itu penuh juga dengan turis yang kebanyakan berbahasa "Je, vous, tous, nous" ini. Perjalanan memakan waktu sekitar 1 jam. Semilir angin laut membuatku mengantuk pol-polan.
Pattaya dari kapal yang sedang melaju

Aku turun di pelabuhan Naban Pier di Koh Lan. Tempat itu merupakan pelabuhan kecil biasa dan banyak penduduk yang berprofesi sebagai ojek. Awalnya mereka berbicara bahasa Thai denganku "was wes wos.." mboh opo. Dengan nyengir aku bilang "Pu thai mai chai" yang artinya saya tidak berbicara bahasa Thailand. Lalu mereka ganti bicara bahasa Inggris. Kalau menurut opini temanku yang Thailand, lebih baik mengucapkan "I don't know" daripada "Pu thai mai chai". Namun menurutku jika aku berbicara seperti itu, mereka akan lebih interest karena aku berusaha mengucapkan bahasa mereka.

Aku ditawari untuk menyewa motor, sehari penuh: 200 Baht. Memang, Koh Lan ini memiliki total enam pantai dan sedikit berjauhan. Semuanya bisa dijangkau dengan sepeda motor. Setelah berpikir pendek,akhirnya aku memilih naik ojek daripada sewa sepeda motor.Pertimbangannya: 1. Aku sudah 2 bulan tidak nyetir sepeda motor 2. Ga punya sim lokal (apalagi sim internasional) 3. Ga tau medan 4. Lebih murah jika aku hanya ingin mengunjungi beberapa pantai.

Aku diantarkan oleh Kun ojek yang menyetir sepeda motor vario. Tujuanku adalah Pantai Tawaen, 40 baht dari Naban Pier. Kun nya nanya-nanya aku darimana, awalnya nebak Philiphine, lalu Malaysia, ternyata aku bilang Indonesia =_=. Lalu dia kaget kok bisa-bisanya aku mbolang sendirian sampai situ. Tampangku yang (seperti) masih muda dengan kerudung ini menarik perhatian Bapak-bapak ojek yang lain saat turun di parkiran Pantai Tawaen. Isok kabeh nyapa "swadhicrab". Aku senyam senyum ae, saat berlalu aku dengar Bapak ojek itu bilang "Indo na".Ngiikk....ternyata cewek kecil berkerudung kalau mbolang sendirian itu menarik perhatian karena orang-orang pada mikir "Nih anak mana orangtuanya".
Turis di Pantai Tawaen
Ternyata Pantai Tawaen begitu indah. Airnya berwarna bening berwarna hijau toska. Pasirnya berwarna putih dan sangat halus. Itu adalah pasir terhalus yang pernah kurasakan. Langsung saja kulepas sandalku, kujinjing celanaku, dan mencelupkan 1/7 kakiku ke air laut nan bening. Aku senyum-senyum sendiri karena bahagia bisa berada ditempat seindah itu. Bisa jadi aku adalah orang teraneh di pantai yang sedang ramai itu. Kebanayakan orang mengenakan bikini, aku malah menganakan baju lengan panjang lengkap dengan kerudung berwarna merah menyala dengan tas ransel kotak-kotak ungu dan kamera pocket warna merah. Kebanyakan orang berenag, berjemur,bermain air atau pasir, aku malah celap celup dengan pakaian lengkap sambil mengambil jeprat jepret sana sini.

Indahnya pantai Tawaen

Sedih, tak ada fotoku di kameraku. Aku menyapa Bapak yang kelihatan nganggur."Excuse me, can you help me to take photo of me?" tanyaku sopan sambil menyodorkan kamera. Ehh Bapak itu tak manatapku, malah memandang ke arah kejauhan dengan pandangan kosong lalu meninggalkanku. Whatt??!!! zzzzz,,, sakit hati. Akhirnya aku meninggalkan pantai dan mencari tempat teduh di pinggir pantai sambil makan keripik kentang. Aku melihat didepanku ada ibu-ibu, akhirnya kutanyakan pertanyaan yang sama. Untung saja Ibu itu bisa bahasa Inggris dan memfotokanku yang mbolang sendirian itu. Sayangnya fotonya gelap >_< akhirnya kucari tempat yang agak tinggi, kulihat keadaan sekitar: Aman, sahutku dalam hati. Aku meletakkan kameraku yang sudah ku timer dan cheese!! klik klik. Ini adalah pengambilan foto termelas sepanjang hidupku.
Foto termelas sepanjang perjalananku.
Setelah cukup menikmati Pantai Tawaen, aku menuju ke Pantai Samae diantarkan Bapak Ojek dengan tarif 40 Baht. Pantai ini lebih sepi daripada Pantai Tawaen yang merupakan pantai utama di Koh Lan. Namun pantai ini lebih menarik bagiku, kenapa? Karena adanya bangunan yang menggunakan sumber energi matahari: Photovoltaic yang dipasang diatapnya (dasar engineer!). Pasir di Pantai Samae lebih kasar,lumayanlah buat terapi kaki.

Bagunan dengan PV di Pantai Samae (ujung).

Destinasi selanjutnya adalah Pantai Naul yang ternyata bayar ojeknya 100 Baht karena harus jalan memutar. Katanya sih ini pantai monyet. Tapi karena mahal, aku tanya pantai yang lain yang lebih dekat yaitu Pantai Tien, 20 Baht. hoho... langsung saja "Oke Kun, Tien Beach". Tapi aku minta diberhentikan di titik yang agak tinggi untuk mengambil foto "1 million baht," canda Kun ojeknya. "Mai chai," sahutkuberkata tidak dalam bahasa Thai. Kunnya kaget kok aku bisa bahasa Thailand dikit-dikit, beh dikiranya aku turis tersesat pada umumnya. Akhirnya aku bilang kalau lagi sekolah exchange di Thailand,Kun ojeknya seneng saat aku bilang "Kha phon kha, tammay,alayna,chai, maichai," dan lain-lain dalam bahasa Thailand.

Pantai Tien ini sedikit tersembunyi namun lebih ke barat-baratan. Masa isinya bule yang lagi berjemur. Di pinggir pantai terdapat stand-stand yang menjual bir. Sama seperti Pantai Samae,pantai ini berpasir keras dengan air yang jernih. Disini aku hanya jalan muter-muter di pantai lalu memutuskan untuk kembali karena kepanasan. Sebenarnya aku ingin mengintari semua pantai di Koh Lan, tapi apa daya tenaga dan uang terbatas. Jam menunjukkan hampir pukul 2 siang, aku naik ojek kembali ke Tawaen untuk naik boat ke Pattaya. Kita bisa naik kapal dari Tawaen atau Naban Pier.
Pantai Tien yang tenang.
Sepanjang perjalanan,aku hanya tertidur ngiler di kapal. Angin yang berhembus, nuansa panas, dan kecapekan membuatku tidur sejenak.  Setelah turun dari kapal,sebenarnya aku masih ingin ke Pattaya Hill lagi. Lalu mikir dengan galau karena bingung kesana naik apa,kalau jalan juga pegel dan arahnya berlawanan dengan pantai Pattaya. Okeh next time.Aku memilih jalan kaki menuju Pantai Pattaya.

Setelah beralan kaki selama 15 menit,aku melihat plang pantai Pattaya. Saat aku melongok ke pantainya....lha ngene thok, pikirku. Sumpah elek, bagusan pantai Jomtien atau lebih jauh lagi pantai-pantai di Koh Lan. Fantasiku tentang pantai Pattaya terkenal yang fotonya pernah kulihat di note ibuku, yang selalu diceritakan ibuku meski beliau belum pernah kesana, langsung drop. Ternyata Pantai Pattaya "begini saja". Pasirnya berwarna kuning pucat mendekati tua, airnya keruh,dan yang terlihat ditepinya bagunan-bangunan.

Aku melanjutkan jalan kaki menuju soi 8, disanalah pangkalan van untuk tujuan Rangsit, begitu kata penjaga Jomtien Hostel saat kutanyai pagi tadi. Enak-enaknya menikmati kesendirian tiba-tiba ada angin kencang dan hujan. Untung saja aku membawa payung, kesulitannya adalah mempertahankan payung agar tidak terbalik karena hempasan angin.Aku terus berjalan melewati Pattaya walking street. Disinilah pusat hiburan malam. Bar dan tempat tak jelas bertuliskan "A go go" berjajar sepanjang jalan. Secara terbuka, mereka juga memajang gambar wanita/pria yang memakai pakaian "mini". Alhamdulillah aku kesini sendirian pas siang-siang. Kalau kesini pas malam, entahlah.
Jalanan di Pattaya walking street, penuh dengan tempat hiburan malam.
Nyari pangkalan van aja sampai kudu semaput,sudah jalannya jauh dan ga tau tempatnya. Tempat itu berhasil kutemukan setelah nanya ke empat orang dan naik songthew. Aku kembali dari Pattaya jam 4 sore. Sepanjang perjalanan menuju Rangsit, aku hanya tertidur dengan bajuku yang basah kuyup terkena hujan.
Read More

Minggu, 10 Februari 2013

Two Days Escape to Pattaya: Danau Perak dan Bukit Budha

Lama tak menulis menjadikan sense of belonging tulisan mbolang telah hilang.Oh no! Sebenarnya perjalanan ini kulakukan saat 10-11 November 2012 silam. Ini adalah  perjalanan yang sedikit gila karena idenya tercetus seminggu sebelumnya dan kulakukan setelah begadang pentas tari di welcome show sampai pagi. Perjalanan dadakan yang bertema "escape from regular activities" dengan judul kegiatan "enjoy backpacking alone when you are still here" ini kukarang sendiri. Pasalnya teman-teman Indonesia ku selalu merespon "ayo, ayo" saat ku-posting rencana jalan-jalan ke Pattaya di group, tapi tak pernah terjadi kesepakatan tanggal. Akhirnya aku nekad mencari tanggal weekend yang kosong, mencari alamat hostel aman dan murah, tempat wisata di Pattaya, dan transportasinya. Aku menanyakan ke M, temanku yang tinggal di Pattaya. Dia menjelaskan seluk beluk wisata disana. Dan pada akhirnya"Oke aku antarkan kamu ke Pattaya, sekalian aku pulang," katanya.

Perjalanan ke Pathum Thani-Pattaya memakan waktu sekitar empat jam. Tujuanku di hari pertama adalah: Silverlake atau danau Perak. Saat aku memberitahu itenary-ku pada M, dia menjelaskan tak ada angkutan umum yang menuju Silverlake. Akhirnya dengan kasihan dia mengantarkanku ke Silverlake karena takut aku yang masih (seperti) dibawah umur ini akan tersesat dan diculik.

Silverlake berada cukup jauh dari Pantai Pattaya, sekitar 23km. Jika tak punya kendaraan pribadi, harus naik taksi atau van ke tempat ini. Temanku yang bulan lalu baru saja dari Silverlake, mengatakan bahwa biaya taksi sekitar 200 Baht dari Pattaya. Aku menetapkan Silverlake sebagai tujuan wajibku karena suasanya yang seperti di Eropa (maklum mimpi ke Eropa belum tercapai ;p).

Welcome to Silverlake!!

Ternyata disana juga ada wisata khao chee chan, yaitu Bukit Budha. Taman dengan pohon hijau rimbun ditata sedemikian rupa untuk mendukung Bukit Budha. Gambar Budha 2D berwarna perak dipahat di bukit yang berukuran setinggi gedung berlantai lima. Konon ini adalah gambar Budha terbesar di dunia. Tiket masuk ke tempat ini adalah gratis (kalau ga salah :p lupa sih), kalau bayar paling cuma 20 Baht.
Khao chee chan
Perjalanan dilanjutkan ke wisata utama disebelahnya yaitu Silverlake. Tempat ini sebenarnya adalah kebun anggur, namun didesain sedemikian rupa dengan aneka taman dan kincir angin yang indah. Saat pertama kali masuk, sepanjang jalan akan terlihat tempat duduk nyaman dengan dekorasi taman yang indah. Lalu disambut oleh bangunan berwarna merah kekuningan, khas gedung pengolahan anggur. Ditengahnya terdapat  air mancur dengan patung dewi Yunani. Gedung tersebut difungsikan sebagai toko souvenir dan toko olahan dari anggur. Bagunan ini didesain lebih tinggi daripada tanah perkebunan dibawahnya. Dari sini, terlihat danau berwarna keperakan di kejauhan, dikelilingi oleh kebun anggur yang hijau dan belum berbuah, dan bangunan kincir angin terlihat menonjol diantara kebun bunga. Kalau masuk sampai sini saja bayarnya gratis.

Bagunan toko di Silverlake

Lalu aku masuk ke gerbang kebun anggur yang dibatasi oleh pagar kayu. Tiketnya 80 Baht dan diangkut dengan transportasi bis terbuka ke sekeliling kebun anggur yang luas itu. Tour ini melewati kebun bunga yang didesain dengan indah untuk mendukung pariwisata di Silverlake. Bis akan berhenti di beberapa titik dan membiarkan pengunjung untuk mengambil foto. Tour ini memakan waktu sekitar 1,5 jam. Kita juga bisa memilih untuk bersantai di suatu tempat dan naik bis berikutnya. Banyak spot yang unik di Silverlake: danau keperakan, kincir angin, bunga warna-warni, green house anggur, dekorasi lucu, dan permainan anak-anak standar.
Anggur di green house

Kincir angin

Perjalanan di Silverlake diakhiri dengan membeli jus anggur seharga 35 baht. Indahnya dunia terasa saat meminum jus anggur sambil duduk santai memandang panorama Silverlake di sore hari. Cahaya mentari yang berwarna keemasan memantul dari danau. Cahaya itu terasa hangat dan menenangkan.

Sepulang dari Silverlake, M mengantarkanku sampai di Jomtien Hostel, hostel dengan rating tertinggi yang ku search di hostelworld.com yang berlokasi di Pattaya. Aku memesan kamar dormitory female untuk semalam, biayanya 250 Baht. Setelah menaruh barang dan booking hostel, M yang menjadi guideku mengantarkanku keliling Pattaya City. Dia menjelaskan arah, transportasi, dan sebagainya untuk mendukung mbolangku sendirian di hari esok.

Malam itu, kita ke Pattaya Hill untuk memandang lengkungan pantai Pattaya dan kerlipan lampu dari atas bukit. Setelah itu kita makan buffet sampai kekenyangan pol-polan di Yayoi- Central Festival Mall Pattaya. Masa satu porsi isinya: steak sapi crispy, kimchi, nasi, soup miso, rumput laut, salad, dan teh hijau sepuasnya, sumpahh ga ukuran. Setelah itu M mengantarkanku kembali ke hostel, memberi wejangan padaku tentang tips ini itu, dan dia pulang ke rumahnya. Kha phon kha M sudah jadi tuan rumah dan guide yang baik hati & tidak sombong,,,

Jam masih menunjukkan pukul 9 malam, aku menuju kamarku. Aku sekamar dengan dua bule Prancis. Di hostel ini ada fasilitas handuk bersih dan minuman botol dingin. Lumayanlah. Niatanku untuk berjalan-jalan di pantai Jomtien depan hostek buyar sudah setelah mandi air hangat dan merasa nyaman dengan kasur. Aku memilih untuk tidur nyenyak dan menyiapkan tenaga untuk perjalanan sendirian esok pagi.
Read More

Happy School in Thailand (Curhat Part 2)

Sudah lebih dari 3 bulan kulewatkan di Thailand. Rasanya hidupku datar-datar saja tapi menyenangkan. Semakin lama semakin menyenangkan saja, tapi aku sadar ini hanya euforia happy schooling selama setahun.  Setelah itu harus kerja atau melanjutkan sekolah S3 lagi (forever student).

Kuliah

Rutinitasku tiap hari terfokus pada belajar. Pagi hari, berangkat naik sepeda pancal 5-10 menit ke jurusan Energy. Melewati pohon-pohon teduh dan lorong bagunan. Dulu di Surabaya, tiap hari naik peda motor dari kosan ke jurusan. Tiap hari ngeeng, ngabisin bensin dan nambah emisi CO2. Habis panas dan kebiasaannya memang motor oriented. Saya sangat mendukung apabila ITS menetapkan regulasi untuk menggunakan sepeda pancal didalam lingkungan ITS. Lebih banyak dampak postifnya: sehat, hemat, dan ramah lingkungan :p . Oya kalau mau ngukur carbon footprint bisa lewat website http://www.carbonfootprint.com/calculator.aspx . Ini berguna untuk mengukur seberapa besar emisi yang kita hasilkan dan dampaknya terhadap global warming. Disana juga diberi solusi bagaimana mengurangi carbon footprint (tambah ngomongin mata kuliah Climate Change -__-).
Lab AC

Lab Pressure Drop

Kuliahku tiap hari jam 8 pagi sampai sore, yang bikin berat itu bangun sebelum jam 8 pagi. Di dalam kelas datang sambil bawa minum dan memperhatikan penjelasan dosen dengan tenang. Kuliah disini bebas, tak ada absen, boleh pakai sandal jepit, kaos oblong, gak bawa tas, minum didalam kelas atau bahkan pakai tank top dan rok mini. Asal didalam kelas diam dan memperhatikan dengan seksama. Tapi aku masih aku yang kuliah di ITS. Aku selalu memakai sepatu dan baju kuliah seperti di ITS, karena aku menghormati dosenku yang selalu berpakain kemaja rapi dan bersepatu. Aku masih membawa tas ransel dan laptop berat.    Bedanya aku tak pernah absen kuliah meski tak ada absensi. Aku pernah sekali absen kuliah karena mengurus perpanjangan VISA dan aku meminta ijin ke dosenku lewat email. Meski tak ada absensi, semua dosen hapal dengan mahasiswanya. Dosen tak masalah dengan nilai, tapi mereka lebih kwatir kita tidak tahu tentang suatu ilmu karena bolos kuliah.
Lab shading

Lab Chiller & Audit

Aku mengambil 13 sks, mungkin ini porsi kecil dibandingkan 24 sks yang pernah kuambil di tahap sarjana. Namun ini porsi yang besar karena disini maksimal sks adalah 14/15 sks. Beberapa dosen kaget saat aku memutuskan mengambil 13 sks karena aku terlambat masuk. Mata kuliah yang kuambil juga benar-benar full energy (termodinamika, fossil fuel, renewable energy, efisiensi di industry, climate change). Aku punya dasar tentang ilmu energy dari tahap S1 dan S2 di Teknik Fisika. Namun tetap saja menyimpang dari bidangku, aku harus mempelajarinya lagi dari 0. Mata kuliah yang gak engineer blas adalah Climate Change. Beh ini mbulet soal teori global warming dan kebijakan mengenai global warming. Sumpah ga cocok blas buat otak engineer. Hapalan semua tapi dimengerti dulu, mana pakai Bahasa Inggris lagi. Tapi semester dua ini (hanya) tinggal 4sks kuliah dan 12 sks thesis. Mata kuliah wajibnya mengenai finansial ngitung-ngitung duit, bener2 ga punya ilmu dasarnya >_<.

Aku paling senang dengan dosen dari AIT. Mereka mengajar sampai mahasiswa benar-benar mengerti. Gak pernah curi waktu kuliah (absen). Jika mereka ada kesibukan, pasti diganti di waktu lain. Bahkan beberapa dosen meminta tambahan waktu diluar kelas. Dosennya juga bukan orang sembarangan. Kesibukannya bukan hanya mengajar, tapi juga anggota organisasi kelas internasional. Bikin aku geleng-geleng saat lihat profilnya. Pokoknya ngeriiii.....

Teman

Aku merasa beruntung bisa memiliki teman yang baik seperti mereka. 16 Fighters dari Indonesia, 9 classmates, dan banyak lagi teman yang sejurusan. 16 Fighters itu adalah teman-teman seperjuanganku semenjak les bahasa Prancis dan membawa kita ke Thailand dengan kemampuan Bahasa Inggris pas-pasan. Komunitas inilah yang bisa diajak cerita-cerita bahasa Suroboyo-an. Kita juga punya ciri khas sendiri: yang perempuan mengenakan kerudung warna-warni dengan model yang khas. Paling enak jalan-jalan sama mereka karena: 1. Bisa ngerasani pakai Bahasa Indonesia 2. Sama-sama narsis kalau jalan-jalan.
16 Fighters dan bapak anak2: Pak Burhan

Kalau 9 classmates-ku ini agak gila dan asyik. 7 orang Thailand, 1 orang Indonesia, dan 1 orang Myanmar. Kadang kalau lagi jam kosong kita main game Raja Opera di IPad rame-rame. Main game-nya sampai teriak-teriak segala. Aku sampai mikir sendiri, iki kuliah master apa sekolah taman kanak-kanak. Atau terkadang makan bareng di U-House Thammasat. Makanan favoritku adalah Pla Phaow, yaitu ikan gurami goreng, sayur, bihun, dan saus. Cara makannya sayur seperti selada atau kubis putih ditata dalam piring, lalu ditasnya diberi bihun, terus dikasi daging ikan, dan diberi campuran saus pedas atau manis. Sayuran yang isinya bihun,ikan, dan saus digulung dan dimakan. Wuih rasanya maknyus, apalagi kalau makan rame-rame. Namun terkadang mereka juga mem-bully-ku. Masa aku disuruh pesen makanan dan dikasi daftar menunya. Masalahnya daftar menunya bertuliskan huruf Thailand dan aku ga bisa baca -__- aseem.
Makan Pla Phaow rame-rame

Ditraktir es krim oleh advisor Lab, sepulang short field trip dari Dede Center building


Tempat Tinggal

Aku sekarang tinggal di asrama level tiga N-103 yaitu: 2 kamar tidur dan 1 kamar mandi. Aku sangat kerasan di asramaku pasalnya:
1. Kamarku cukup luas sekitar 3x3 meter
Lampu tidur

2. Baru direnovasi setelah banjir bandang
3. Tanpa AC (kalau ada AC malah mubazir karena aku selalu masuk angin kalau pakai AC -__-")
4. Lantai dasar, ga perlu capek-capek naik turun tangga
5. Ada dapur kecilnya di kamar sebelah, jadi bisa masak sendiri
6. Rommateku: Zjahra, si ahli masak
7. Ada semacam "hutan kecil" di belakang kamar. Aku sangat menyukainya apalagi saat bunga-bunga pink dan kuning berguguran memenuhi tanah. Terkadang juga ada tupai bercengkrama di pohon, anjing lewat, bahkan nyambik lagi berjemur!!
Pot kecilku
8. Koneksi internet menggunakan LAN dari kamar dan wuihh buanterrr. Nonton Youtube tanpa streaming. Jadi kalau aku mau nonton movie tinggal buka YouTube.
9. Ada yang membersihkan setiap minggunya :D

I love my school! I love my friends! I love my dorm! Live happily and smile everyday :)

Read More

Kamis, 03 Januari 2013

Resolusi 2013 (^_^)/

Lama tak memposting hal baru di blog. Ini karena disibukkan oleh UAS dan kegiatan backpacking mulai utara Thailand sampai ibukota Malaysia lengkap sudah saya jelajahi di bulan Desember. Tak terasa sudah berganti tahun menjadi 2013. Tak bertanggung jawab rasanya kalau tidak mengevaluasi mimpi dari tahun 2012. Menuliskan mimpi dan mempublikasinya bisa saja diaggap sombong. Tapi mimpi lebih mudah tercapai bila ditulis apalagi dipublish. Kita akan merasa tertantang dan selalu teringat mimpi itu. Ada juga motivasi rasa malu kalau tidak tercapai. Oke inilah evaluasi resolusiku di tahun 2012:

1. Lulus S1 4 tahun dengan IPK Cumlaude

2. Meraih IPK diatas 3.5 untuk S2

3. Kuliah S2 di Prancis
- Menguasai Bahasa Prancis sampai level B2
- Mendapat acceptance letter dari universitas yang dituju. Bye bye sorbonne universite. See you next time :p

4. TOEFL diatas 550

5. Menghapal juz amma beserta artinya

6. Backpacker ke 3 negara

- Malaysia


-Singapura

-Prancis--> pindah haluan ke Thailand


7. Backpacker ke 5 kota di Indonesia yang belum pernah kudatangi
-Blitar

-Kediri

-Pacitan

-Magetan

-Ponorogo

8. Membaca 100 buku

9. Sanggup memasak 10 macam hidangan

10. Hits di blog ini mencapai 10.000

11. Melakukan pengabdian masyarakat dalam bentuk apapun

12. Berkenalan dengan 100 orang baru

13. Mendesain 3 baju sendiri

14. Membuat suatu buku

15. Menjadi penyeminar di seminar nasional dan internasional

16. Cinta :) Semoga bisa serius

5 dari 16 resolusi tahun baruku belum terlaksana. Mungkin karena kesalahan saya sendiri dan takdir :p
Bismillah,berikut ini resolusi di tahun 2013:
1. Khatam Quran
2. Menghapal Juzamma dan artinya
3. Pengabdian masyarakat
4. Lulus S2, ikut wisuda S2 di dua tempat
5. Melanjutkan S3 di Eropa
6. Keliling ASEAN [Vietnam, Cambodia, Laos, Myanmar, Filipina, Brunei] dan 2 negara lain di Asia
7. Menerbitkan jurnal nasional dan internasional
8. Membuat buku
9.Memiliki suatu investasi jangka panjang
10. Umroh

Semoga Allah meridhoi jalanku. Keep Fighting!!! :D
Read More

© More Than a Choice, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena