a choice that change my life

Tampilkan postingan dengan label Laos. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Laos. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 November 2014

Extend Visa ke Laos (3): Terburu-buru di Vientiane


Hari minggu, di luar negeri, dan bersama teman adalah perpaduan yang sempurna untuk menikmati perjalanan. Tapi perpaduan itu tidak berlaku bagi kami berempat: aku, Sani, Umi, dan Faishal. Meski badan kita ada di Laos tapi pikiran kita tetap di thesis. Bahkan kami semua tidak membawa baju ganti layaknya traveling. Bahkan bisa dikatakan ini bukan traveling karena kami menikmati Laos hanya empat jam. Malah membawa peralatan sekolah. Faishal dengan tab nya. Umi dengan flash disk berisi revisi thesis. Aku dengan laptop putihku. Sani dengan laptop dan ratusan halaman buku thesisnya.

Kami sampai di terminal Thanaleng Laos sekitar jam 10:00 pagi lalu mengantri di bagian imigrasi Laos. Ternyata Laos baik hati lho, negara itu memberikan visa turis gratis pada sesama negara Asean selama satu bulan termasuk lewat darat. Jadi pada paspor kami, visa Laos berlaku sampai tanggal 6 Januari 2014 (saat itu 8 Desember 2013). Sedikit menyesal juga kita hanya menggunakannya selama setengah hari hanya untuk mengunjungi ibukotanya- Vientiane. Padahal aku sudah mupeng banget pengen ke Veng Vieng dan Luang Prabang yang fantastis itu. Apa daya waktu tak cukup.

Kami masih harus oper van lagi dari stasiun Thanaleng ke pusat Vientiane dengan perjalanan sekitar 20 menit. Van menurunkan penumpang di sekitar perempatan dan disana kami menyewa tuk-tuk sampai jam tiga sore. Pertimbangan waktu itu didasarkan dengan perhitungan waktu balik ke Thanaleng, lalu kereta Thanaleng-Nong khai, dan kereta Nong Khai-Bangkok berangkat jam 18:00. Kami sudah membeli tiket kereta Nong Khai- Bangkok dengan empat sleeping seat pagi hari tadi. Jadi waktu bersih jalan-jalan di Laos hanya empat jam! Ini perjalanan keluar negeri yang paling gila.

Sebagai tour leader yang baik, aku sudah mendaftar destinasi wisata Vientiane. Pada saat itu setidaknya aku sudah menyiapkan 8 destinasi yang lalu kucoret satu persatu karena waktu yang mepet. Lao National museum karena sepertinya mbayar. COPE Visitor Center atau museum bom, destinasi ini punya rate paling tinggi di Trip Advisor. Sebenarnya aku penasaran dengan COPE tapi melihat tampang teman-teman (termasuk aku) yang sumpek thesis, kucoretlah destinasi ini. Aku tak mau semakin sumpek gara-gara mengunjungi wisata sedih. Akhirnya kupilih destinasi yang must see di Vientiane yaitu Pra That Luang dan Patuxai.

Tuk-tuk di Laos sedikit berbeda dengan tuk-tuk di Thailand. Di Laos, tempat duduk penumpang mirip tempat duduk dokar, saling berhadapan dan bisa diisi empat orang. Kami mebayar supir tuk-tuk dengan baht- mata uang Thailand. Ternyata kota ini menerima tiga jenis mata uang yaitu Kip-mata uang Laos, Baht-mata uang Thailand, dan Dollar tentu saja. Bahasa yang digunakan juga hampir sama dengan Thailand. Jadi orang Laos dan Thailand bisa berkomunikasi dengan bahasanya masing-masing dan keduanya saling paham. Sama halnya dengan orang Indonesia yang berkomunikasi dengan Malaysia dan Brunei dengan bahasa masing-masing tapi saling paham.

Pra That Luang adalah simbol negara Laos. Awalnya pagoda ini dibangun untuk agama Hindu lalu diakusisi menjadi Budha. Pertama kali yang dilihat disana adalah pisang bakar. Kriik,,, entah kenapa Umi masih saja lapar saat itu dan yang lain ikut-ikutan saja jajan. Aku yang saat itu menjadi sie bendahara langsung membeli pisang bakar 20 baht dan dapat satu kresek.

Sani dan Pra That Luang.

Pengunjung Pra That Luang yang lain.

Disekitar Pra That Luang sperti komplek pagoda. Di dekatnya terdapat budha tidur, lapangan luas, dan dua bangunan khas Laos. "Ayo masuk kayaknya gratis," ujarku pada yang lain. Ternyata waktu sudah masuk, kakek-kakek penjual souvenir di depan pintu depan bilang "ticket ticket," ujarnya sambil mengelurakan karcis. Baru kali ini kulihat ada penjaga tiket merangkap jualan souvenir ala kaki lima. Di dalam Pra That Luang hanya ada stupa yang berwarna emas,beberapa orang terlihat 'thawaf' mengelilingi stupa.

Penampakan Pra That Luang dari dekat.

'Thawaf' di Pra That Luang.

Tujuan berikutnya adalah Wat dengan budha tidur raksasa. Disana kita foto-foto sambil menghindari anjing yang sedang tidur-tiduran. Jujur aku trauma akan anjing sejak insiden digigit anjing pas lagi lari pagi.

Anjing tidur-tidurandi depan Wat.

Sekilas info: Diterkam Anjing

Dulu pas sedang lari pagi untuk latihan marathon, aku nekat lari sendirian dengan rute sampai kampus sebelah. Pada jam setengah enam pagi keadaan sepi. Dari kejauhan aku lihat sekelompok anjing. Mereka melihatku juga. Matekk. Kalau balik nanggung, jadi kuhindari tatapan mereka dan aku macak jalan kaki dengan santai. Kelompok anjing satu terlewati.

Baru jalan beberapa langkah, kelompok anjing dua sudah mengintai. Tatapan mata kita bertemu dari jarak sekitar 100 meter. Matekk lagi dan mau balik juga takut kena geng anjing pertama tadi. Jadi kulakukan seperti sebelumnya yaitu jalan santai dan mengalihkan tatapan. Sialnya kepala geng kelompok anjing dua menggonggong memberi sinyal pada kawanannya "Gukk Gukk". Lantas semua anjing yang jumlahnya lebih dari lima itu menggonggong, khafilah(aku) berlalu.

Sial dua belas, mereka lari menuju arahku. Ini pertaruhan hidup dan mati, ada dua pilihan: tetap di tempat atau lari. Akhirnya kupilih pasrah dan tetap di tempat.Kawanan anjing itu telah berada di dekat kakiku. Rasanya seperti scene film Twilight dimana adegan serigala menerkam mangsa. Anjing itu adalah kawanan serigala dan aku mangsa satu-satunya. Dari kejauhan kulihat ada orang bersepeda, aku melambaikan tangan dan berteriak "help help". Tapi orang tersebut hanya melihatku dan melanjutkan bersepeda dengan santai.

"Hauk haukk,,,," aku merasakan anjing telah menggigit kakiku. Setelah menggingit, kawanan anjing itu berbalik ke tempatnya. Aku melangkah gontai kembali ke asrama. Di kamar aku menangis sejadi-jadinya. Padahal saat kulihat bekas gigitan anjing itu hanya sebatas luka lebam ungu dan biru, tidak sampai masuk ke daging. Tapi trauma diterkam gerombolan anjing itulah yang membuatku takut. "You are lucky, normally dog will ripped your skin until your meat," ujar temanku Thai. Sejak itulah aku semakin trauma dengan anjing.


Sorry, kembali ke Laos. Setelah menghindari anjing yang sedang tidur, kami keluar dari Wat itu dan menju ke penjaja souvenir disekitar sana. Ternyata souvenir di Laos harganya sama seperti di Thailand, malah beberapa barang harganya lebih murah. Kupilih sarung ala Laos berwarna merah tua dengan bordiran yang khas dan satu pajangan meja. Umi seperti biasa, hemat dan tidak membeli apa-apa. Faishal hanya membeli beberapa barang. Sedangkan Sani seperti biasanya, dia akan membeli banyak barang.

Pemandangan Pra That Luang dari Wat sebelah.

Patung budha di dalam Wat.

Ukiran di dinding Wat.

Aku dan budha tidur.

Ornamen pada langit-langit Wat.

Selanjutnya kita berfoto-foto di bangunan ala Laos di dekat sana. Sebenarnya aku penasaran dengan apa yang ada di dalam, tapi jam sudah menunjukkan pukul 12:30 dan kami semua belum makan siang. Sebelum kembali ke tuk-tuk, kami membeli es krim kota dari paman es ting tong.

Sani dan Umi di bangunan ala Laos.

Bangunan khas Laos.

Tampak jauh,

Makan es krim ting tong.

Kami susah menjelaskan ke supir tuk-tuk bahwa kami ingin makan "halal bukan babi". Kami mejelaskan makan dengan bahasa tubuh seakan-akan memegang garpu sendok dan piring. "KFC khun," ujar Umi. "or McDonald," tambahku. "Cheap cheap," kata Sani. Khun tuk tuk semakin bingung karena di Laos memang tidak ada KFC atau Mc Donald tapi dia mengerti bahwa kami kelaparan. Tuk-tuk berhenti di salah satu warung pinggir jalan. Tapi disana ada gambar babi. Kontan saja kami berteriak "Nooo..next".Setelah berputar-putar, khun tuk-tuk itu menyerah dan membiarkan kami memilih restoran sendiri. "This this yut yut stop," ujarku melihat restoran mentereng bertuliskan "Seafood". Untung saja jalanan di Vientiane sepi seperti di desa jadi kalau mau putar balik atau melanggar arus lalu lintas bukanlah suatu masalah.

Jalanan Laos.

Jalanan Laos yang sepi.

"Kita lo pengen hemat malah makan di restoran besar gini," ujar Sani saat melihat bangunan restoran yang mentereng besar berwarna merah dan bertingkat. "Gimana lagi yang lain ga jelas san," kataku. "Yoweslah gak papa. ayo masuk," kata Umi. Faishal ngikut aja. Masuk kedalam, interior mewah semakin terasa dengan banyaknya hiasan oriental. Kami disambut pelayan dan diminta menempati kursi di lantai tiga. Hal yang paling melegakan adalah melihat menu dengan tulisan bahasa Inggris!! Ada gambarnya lagi! Sialnya tulisan harganya dalam mata uang kip yang nol nya ada banyak dan kami kesulitan mengkonversinya ke baht.

Kelaparan. Tanpa ambil pusing konversi mata uang, empat penjelajah segera memesan makanan. Kami memilih empat air putih, empat nasi, satu tom yam, cumi tumis, dan cumi tepung. Umi bertugas membagikan lauk yang jumlahnya terbatas dengan adil ke masing-masing piring. Kami makan dengan lahap. Sesekali terlontar kata enak ya kayak masakan Thailand persis. Tapi di dalam hati kami was-was ini habis berapa makan di restoran mewah kayak gini.

Saat bill datang, kami berempat was-was. Kami sudah berspekulasi tingkat tinggi dan membayangkan harga makanan tadi bisa saja kalau di uangkan beratus ratus ribu rupiah. Bill datang dengan tiga mata uang tertulis sekian kip, sekian ratus baht, dan sekian dollar. Aku langsung melihat ke tulisan "empat ratus sekian" baht (sekitar 120 ribu rupiah). Ealahh kecil... (gaya banget). Harga itu termasuk murah untuk ukuran restoran mewah. Malah lebih mahal makanan di kereta tadi pagi. Ada sedikit penyesalan saat meninggalkan restoran, tahu gitu tadi kita mesen lauk lebih banyak.

Perjalanan dilanjutkan ke Patuxai. Sepanjang perjalanan kulihat dua bendera yaitu bendera Laos dan bendera komunis gambar parang dan arit. Ternyata Laos PDR (People's Democratic Republic) beraliran komunis. Jadi ceritanya dulu itu di Laos ada 2 kubu: Pathet Lao dan Kerajaan Lao. Laos yang dekat dengan Vietnam ikut terseret perang Vietnam dengan Amerika Serikat. Kubu Pathet Lao yang beraliran komunis menempati bagian utara dan mensuplai senjata ke Vietnam bagian utara. Lalu tentara Vietnam membantu Pathet Lao untuk menggulingkan kerajaan Lao dan mengambil alih kekuasaan negara.

Bendera Laos dan komunis dipajang bersamaan.
AS ikut membantu kerajaan Lao untuk memerangi Pathet Lao dengan mengebom beberapa tempat. Hal yang mengerikan adalah sampai tahun 2008, Laos merupakan negara yang paling banyak di bom per capita. Pada tahun 1964-1973,rata-rata bom yang dijatuhkan di Laos adalah delapan menit sekali full selama 24 jam non stop. Mengerikan! Tapi pada akhirnya pemenangnya adalah Pathet Lao yang didukung tentara dari Vietnam dan Uni Soviet. Makanya sampai sekarang Laos tetap memegang ajaran komunis dan memasang bendera merah parang arit dimana-mana.
Patuxai.

Patuxai.

Tuk-tuk berhenti di destinasi wisata terakhir yaitu Patuxai. Ini adalah Arc The Triumph Perancis versi KW 2 dengan modifikasi simbol khas Laos. Katanya bangunan ini dibangun karena telah merdeka dari Prancis. Ironi, telah merdeka tapi malah membangun bangunan khas negara penjajahnya. Patuxai seperti alun-alunnya Vientiane karena letaknya ditengah kota dan dipinggir Patuxai terdapat taman yang luas lengkap dengan air mancurnya. Di pinggir taman ini terdapat gong perdamaian yang diberikan oleh Indonesia kepada Laos. Pokoknya kalau ada hal postif yang berhubungan dengan Indonesia di negeri orang itu rasanya sangat membanggakan.

Bersantai di dekat Patuxai.

Bukti pernah ke Laos :p

Bagian bawah Patuxai.

Detail Patuxai.

Umi bergaya superman.

World Peace Gong dari Indonesia.

Tur berakhir tepat pukul tiga sore dan supir tuk-tuk mengembalikan kami ke perempatan tadi. Ini adalah tur tergila. Cuma empat jam dan mengunjungi hanya dua destinasi wisata. Cukuplah kalau ditanya orang "Pernah ke Laos?", "Pernah dong". Padahal pas di Laos ga kemana-mana. Tapi cukuplah perjalanan empat jam itu memberikan pesan moral berharga bagi kami. Pesan moral: Selesaikan thesis kalian tepat waktu.

Wajah gembira saat dapat van murah ke Thanaleng (250 baht all).

Kami kembali menaiki van ke stasiun Thanaleng. Kami mendapat jadwal kereta Thanaleng-Nong Khai jam 17:00. Kami pergi ke imigrasi untuk di cap stempel "departure from Lao" tertanggal 8 Desember, tanggal yang sama dengan kami datang ke Laos. Aku mengisi waktu kosong dengan bermain kucing di stasiun itu. Saat kereta datang, kami berempat bergegas naik ke kereta. Kereta kembali melewati jembatan persahabatan diatas sungai Mekong. Ternyata senja menyambut di sungai Mekong. Matahari terbenam saat itu dan menampakkan cahaya oranya di atas sungai Mekong. Indahnya...

Bermain kucing sambil menunggu kereta berangkat.

Sani juga ikut main kucing.

Faishal juga ikut foto dengan kucing.

Bye-bye Lao.

Ayo berangkat!

Senja di sungai Mekong.

Kereta memasuki daerah Thailand dan ditandai dengan pasar malam di pinggir jalan. Sesampai di stasiun Nong Khai, kami segera menuju ke imigrasi Thailand. "23 Desember 2013" aku megulang tanggal itu berkali-kali di doaku saat petugas akan mencap pasporku. Bukan apa-apa, aku cuma berharap visa turisku di Thailand sampai tanggal 23 Desember karena tepat pada tanggal itulah aku akan pergi ke Myanmar. Ternyata petugas imigrasi mencap pasporku tertanggal "22 Desmber 2013". Arrkhhhh............meleset! Rasanya galau kudu nangis. Pastinya aku harus overstay di Thailand selama sehari. Selama ini aku tidak pernah membuat catatan kriminal apapun. Aku takut kalau aku overstay akan dimasukkan ke penjara dan dideportasi karena ini sudah masuk ranah hukum antar negara. Sebenarnya kekhawatiranku saat itu lebay dan tidak beralasan karena pada kenyataanya overstay 24 jam di Thailand tidak akan dikenakan biaya apapun.

Kereta jurusan Nong Khai-Bangkok berangkat sekitar pukul enam sore. Aku satu bangku lagi dengan Sani. "Gimana thesismu san?" tanyaku mengingatkan. "Cuma sempat betulin spelling nya," jawab Sani sambil membuka laptop. TUK (Tolak Ukur Kesusksesan) perjalanan ke Laos tercapai yaitu untuk extend visa, mendapatkan ijin dua minggu tinggal di Thailand. Selanjutnya masih banyak hal yang menungguku yaitu revisi thesis dan wisuda. Pesan tidak bermoral yang terakhir: kerjakan thesis 'tepat' waktu dan kalian akan 'keluar negeri' hanya untuk menyelesaikannya. Do you know what I mean? :)
Read More

Jumat, 07 November 2014

Extend Visa ke Laos (2): Kereta Jurusan Thesis Thailand-Laos

Tujuan utama ke Laos adalah perpanjangan visa Thailand. Pesertanya empat orang: aku, Sani, Umi, dan Faishal. Kami akan ke Laos Sabtu, tanggal 7 Desember 2013 malam dari Bangkok dan kembali ke Thailand Minggu, tanggal 8 Desember 2013 malam dari Laos. Kami berempat punya masalah dan cerita sendiri yang dari bangku kuliah di Thailand yang dibawa sampai ke Laos.


Sabtu pagi hari, tanggal 7 Desember 2013


Faishal tidak terlihat, mungkin mengerjakan thesis di perpustakaan seperti biasanya. Sani seperti biasa, grusa grusuh mengerjakan thesisnya. Apalagi dia belum sidang thesis dan akan sidang tanggal 11 Desember nanti. Sedangkan Umi tampak santai dan tenang karena dia sudah menyelesaikan sebagian revisiannya. Aku sendiri belum bisa tenang karena belum mengumpulkan revisi dan memang dimintanya pas hari Senin besok.

Seperti biasanya juga, aku menjadi tour agent dadakan kalau saat-saat seperti ini. Aku memilihkan tranportasi ke Laos yang murah, nyaman, dan efisien."Naik pesawat aja dari Bangkok ke Udon Thani lanjut naik bis," ujar Umi menyarankan. Memang cara itu yang paling cepat dan lebih murah ketimbang naik pesawat langsung ke Vientiane-ibu kota Laos. "Harga pesawat kesana lumayan mahal dan kita juga tetep akan dapat visa 2 minggu karena masuknya lewat darat dari Laos. Naik kereta ajalah"kataku.

Selanjutnya aku browsing berbagai macam jadwal dan jenis kereta Thailand ke Laos. Jadi tidak ada kereta langsung Thailand-Laos,kita harus naik kereta jurusan Bangkok-Nong Khai setelah itu ganti kereta komuter Nong Khai- Thanaleng. Aku juga mencari destinasi wisata di sekitar Vientiane Laos.

Sabtu siang hari,tanggal 7 Desember 2013


"Kenapa sih berangkatnya harus sekaranga? Ga bisa ditunda ta?," ujar Sani. " Lapo sih? Kamu mau didenda ta san? Udahlah mending ayo ndang packing," jawabku. "Bawa laptop ga ya lit?" tanya Sani. "Halah gak usah ngabot-aboti aja san. Kita lo berangkat Sabtu, Minggu malam balik, Senin sudah sampai sini lagi. Masa iya dosenmu mau ngecek weekend gini," ujarku. "Iya kamu enak sudah sidang. Bawa ajalah," kata Sani yang akhirnya memutuskan untuk membawa laptop. "Yoweslah aku juga bawa, lumayan nata daftar isi juga," ujarku yang juga keder.

Stasiun Don Mueang.

Sekitar sore hari, kami berempat sudah bersiap berangkat ke stasiun kereta Don Mueang dengan taksi. Sesampainya di stasiun aku langsung ke loket dan membeli empat tiket. "Four sleeping ticket to Nong Khai,please," kataku pada Nong penjaga loket. "Normal or executive," tanyanya. "Hey rek apa? biasa apa eksekutif?" tanyaku pada yang lain. "Eksekutif aja," jawab Sani. "How much for executive?" tanyaku pada penjaga loket. "1200 baht each," jawab penjaga loketnya. Hiyaa mahal bingit. "How much for normal?" tanyaku lagi."around 749 baht each," jawabnya. "Four normal ticket please," jawabku mantap.

Tiket kereta.
Menurut jadwal, kereta akan datang jam 20:50 sedangkan saat itu masih jam 18:00. Kami memutuskan shalat dan santai dulu disekitar bandara Don Mueang yang letaknya bersebrangan dengan stasiun ini. Kami sempat membeli dua porsi siu mai udang karena kelaparan di bandara Don Mueang.

Ternyata layanan kereta di Thailand tidak sebagus di Indonesia. Layanan kereta di Indonesia sekarang jauh lebih maju. Kereta yang kami tunggu terlambat sekitar satu jam dan baru datang jam 22:00. Kereta Thailand memiliki rupa yang sama dengan kereta Indonesia. Bedanya disini lebih banyak pilihan fasilitasnya: normal atau sleeping seat. Kami memilih sleeping seat dan itu adalah kali pertama bagi kami semua menikmati layanan kereta tidur. Di kanan kiri lorong kereta terdapat bangku tidur yang bersusun dua dan hanya cukup untuk satu orang. Bangku paling bawah bisa diambil matrasnya dan dijadikan bangku duduk biasa. Terdapat tirai di setiap seat untuk menjaga privasi penumpang. Aku satu seat dengan Sani, aku di bagian atas dan dia di bawah. Faishal satu seat dengan Umi, Faishal di bagian atas dan Umi di bawah.


Umi memesan makanan dan membaginya menjadi empat bagian dan dibagikan, layaknya ibu kos yang baik. Hahaha..Setelah makan, aku pun mengantuk dan menutup tirai. Sebelum tidur, aku sempat membuka laptop dan menata daftar isi untuk revisian thesisku. Aku melongok kebawah dan melihat Umi memakai laptop Sani untuk merevisi thesisnya. Ini adalah kereta jurusan thesis.

Faishal dan makan malam.

Umi membagi makan malam.

Menurutku, adanya sleeping seat seperti ini sangat bermanfaat apalagi untuk perjalanan jauh dan badan tidak pegel. Tidur di seat teratas horor sedap gitu karena takut jatuh (lumayan 1,5 meter) tapi gerakan kereta yang kadang miring-miring malah membuat kasur itu terasa seperti hammock. Aku tertidur lelap sampai jam lima pagi dibangunkan oleh mimpi diriku terjatuh ke jurang. Saat bangun,aku bersyukur karena masih di seatku.

Pagi hari, 8 Desember 2013

Sunrise di Nong Khai.
Sekitar jam enam pagi, petugas kereta sudah memberesi semua kasur tidur dan menatanya menjadi bangku duduk biasa. "Laper," kata Umi. "Hah?? Kemarin malam kan udah makan siu mai, nasi terus makan camilan," ujar Sani. Tapi pada akhirnya kami berempat tetap membeli dua porsi makan pagi yang dibagi empat orang. Aku duduk didepan Sani sambil menikmati tehku. Sani sedang sibuk dengan laptopnya dan menyelesaikan thesisnya sebelum sidang. Dari kaca yang berembun kulihat matahari terbit di tanah Nong Khai- daerah paling dekat dengan Laos.

Umi dan Faishal.

Sani dan pagi yang dingin.

Antara gembira dan tertekan.

Kereta berhenti di stasiun Nong Khai,setelah itu kami membeli tiket kereta Nong Khai-Bangkok untuk nanti sore dan Nong Khai-Thanaleng untuk jam 9:30 pagi. Kami diwajibkan untuk melewati imigrasi Thailand sebelum naik ke kereta jurusan Thanaleng Laos. Akhirnya paspor kita di cap "departed from Thailand" tepat di visa student yang habis tanggal 8 Desember 2013.

Kereta jurusan Nong Khai Thailand- Thanaleng Laos.

Stasiun Nong Khai.
Jembatan persahabatan Thailand- Laos.
Kereta jurusan Nong Khai -Thanaleng melaju melewati jembatan persahabatan yang dibangun di atas sungai Mekong. Uniknya kereta melaju di jalanan aspal biasa yang ditengahnya terdapat rel kereta semacam tram, jalur itu bisa juga dilintasi kendaraan darat biasa. Di jembatan, berdiri bendera Thailand dan Laos. Setelah melewati Mekong, terlihatlah plang "Welcome to Lao PDR".


Read More

Extend Visa ke Laos (1): Nasib Empat Mahasiswa Extend

Masa-masa bulan November dan Desember 2013 adalah masa suram dan kelam bagi kami empat mahasiswa yang sedang extend (red: bahasa normal= molor kuliah). Bulan itu adalah batas penyelesaian thesis atau kami harus extend lagi satu semester kedepan yang tentu akan semakin menyedihkan. Diantara batas kritis hidup mati meneyelesaikan thesis,keadaan diperparah dengan visa student Thailand yang telah habis masanya. "No, we can't extend your student visa again because you will graduate this semester. Please go out from Thailand and back," ujar petugas di bagian pengurusan visa di AIT-kampus kami. Di saat kita bingung thesis malah disuruh keluar dari negara ini. Huffft...

Merayakan Loy Krathong pada bulan November 2013.

Cerita berawal dari beasiswa Fast Trackp dan semua kegagalanku, sehingga takdir membawaku bersekolah di Thailand. Sistemnya satu tahun kuliah di universitas di Indonesia dan satu tahun terakhir kuliah di universitas Thailand. Aku datang ke Thailand bersama lima belas teman lainnya. Waktu berlalu, 5 orang lulus tepat waktu (4 orang wisuda saat intersemester bulan Agustus dan 1 orang short course ke Jepang). Empat orang ujian thesis setelah batas penyerahan nilai intersemester sehingga termasuk kelulusan batch Desember tapi bisa pulang di bulan Agustus/September. Satu orang menghilang. Enam orang sisanya extend dan berjuang menyelesaikan thesis sampai batas waktu Desember. Dua orang dari enam orang yang extend menyelesaikan sidang thesisnya di bulan Oktober. Jadilah tinggal empat mahasiswa yang tersisa dan masih berjuang sampai Desember,mereka adalah aku, Sani, Umi, dan Faishal.

Menjadi mahasiswa juru kunci menyiksa tapi harus dinikmati. Menyiksa sekali karena melihat teman-teman seperjuanganku sudah berhasil menyelesaikan gelar masternya dan mengantarkan mereka pulang, satu persatu. Keterbatasan finansial juga membuatku, Sani dan Umi menempati asrama untuk dua kamar (sistem asramanya: dua kamar dan satu kamar mandi dalam satu ruangan). Sani terdaftar sebagai penghuni gelap sehingga pembayaran asrama yang seharusnya dibebankan pada dua orang bisa menjadi tiga orang. Penghematan yang lumayan mengingat satu bulan yang seharusnya sekitar 3200 baht menjadi 2200 baht. Satu kamar digunakan sebagai kamar tidur (dua kasur digabung satu)+meja belajar Umi dan kamar lain digunakan untuk belajar aku+Sani dan memasak.

Umi (as Ibu tiri), Ayu (as kucing), Aku (as peri), dan Sani (as penyihir), kostum untuk Hallowen.

Hampir tiap malam kita menggila dan percakapannya pun sama "Kapan kita lulus?" tanyaku retoris. "Huwaa," Sani mewek. "Wes ta ndang dikerjakno," ujar Umi solutif. Pembagian tugas di asrama: Umi masak dan bersih-bersih, Aku masak ga jelas dengan bumbu instant dan mensuplai makanan, dan Sani bagian mengotori dan cuci piring. Terkadang datang juga Vika- teman yang kuliah di universitas sebelah untuk menginap. Terkadang Ayu-mantan roommate ku juga datang untuk main, mengantar makanan atau mencicip makanan. Ada juga Uzan- teman kuliah di universitas sebelah datang untuk cerita dan masak.

Best friend will not let you do the crazy things.... alone.



Sekilas cerita hantu di kamar asrama:

Bekas kamar Ajeng yang kutempati saat itu bersama Umi dan Sani terbilang angker. Katanya laptopnya sering buka-buka You Tube sendiri. Tapi aku memang ga peka terhadap hal seperti itu. Malam itu Umi dan Sani sedang pergi keluar, aku mengantuk dan tidur dengan lampu yang menyala. Tiba-tiba gruduk gruduk gruduk.."Lit, lit kamu tahu nggak..," Sani datang dan langsung menyerbu kamar untuk curhat. "Nggakk....," aku merasa terganggu dan menutup telinga dengan bantal. Sani terus terusan merengek sampai aku terpaksa bangun dan duduk di atas kasur untuk mendengarkan ceritanya. Tapi lagu dari laptop Umi yang masih menyala di meja belajar terlampau keras sehingga Sani beranjak dari kasur dan mematikan lagu di laptop Umi.

"Bla bla bla bla bla," Sani melanjutkan curhatannya dan aku menanggapi setengah mengantuk. Tiba-tiba "La la la la la," lagu berbahasa Inggris mendadak menyala dan sumbernya dari meja belajar Umi. Mendadak Sani dan aku terdiam, hening. Hanya ada lagu yang menyala keras. Kami berdua menengok ke arah laptop Umi dengan horor. Tidak ada siapapun disana selain kami berdua, dan saat lagu itu menyala aku dan Sani sedang duduk di kasur. "Aku yakin tadi udah ta matikan lo lit," ujar Sani. Kami berdua sama-sama merinding. Kamu yang matikan. Kamu. Kamu aja. Lempar tanggung jawab berlangsung selama beberapa menit dan lagu masih menyala. Akhirnya kuberanikan diri melihat ke laptop Umi, tidak ada player yang menyala. Kuteliti ternyata lagu itu berasal dari Mp3 player yang di charge di laptop. Aku langsung mematikan mP3 player itu. Lalu mematikan laptop, sekalian aku cabut semua plug-nya.

"Mi, tadi kamu nyalain lagu di laptop pas aku tidur ta?," tanyaku pada Umi saat dia pulang."Nggak kok," jawab Umi. Nah loh siapa yang nyalakan lagu pas aku sedang tidur sendirian. Sejak itu aku tak berani tidur sendirian di kamar asrama.




Kembali lagi, aku beruntung karena telah menyelesaikan sidang thesisku pada tanggal 29 November 2013. Padahal sebelum sidang galau sampai nangis-nangis di kamar gara-gara pembimbing bilang 'Don't blame me if you are fail in this defense'. Umi sendiri sudah sidang thesis sebelumku namun masih memilki masalah dengan salah satu pengujinya. Sedangkan Sani belum jelas kapan sidangnya, tapi yang jelas dalam minggu-minggu itu. Faishal sendiri masih mengebut menyelesaikan thesisnya. "Lit, lit tolong bantu bikinkan list of abbreviations po o," Sani tiba-tiba datang saat aku enak-enak merevisi thesisku. Aku membantunya dengan ekspresi grumpy cat. Malamnya Vika datang dan langsung ditodong Sani untuk membantu merapikan thesisnya.

Sani jadi model foto "mahasiswa stres thesis".

Kadang sampai sumpeknya dengan keributan Sani, H-1 dia sidang, aku malah ke Hua Hin dengan Tooba. "Sahabat laknat"- mungkin gelar itu akan diberikan padaku. Tapi semua itu kubayar saat esoknya aku membantu Sani menyiapkan sidangnya. Aku membeli jajan untuk penguji dan menemaninya ke ruang sidang. Sebelum dimulai, Sani ke toilet sedangkan aku menata buku thesis dan jajan di meja penguji. Tiba-tiba salah satu penguji Sani masuk. "What is this? Why you have new book before presentation," semprot dosen itu kepadaku. Aku cuma bisa melongo bingung sambil bilang "Sir, I am Sani's friend. She going to toilet". Lalu dosen itu menata kacamatanya, melihatku lagi dan bergumam " I know you are not Sani".

Pokoknya minggu-minggu itu kami semua kalang kabut menyelesaikan thesis. Keadaan itu diperparah dengan visa student yang expired tanggal 8 Desember. Mau tidak mau kami berempat harus hengkang dari Thailand sebelum tanggal itu atau kami akan terkena denda 500 baht perhari sampai maksimal 20000 baht. Mungkin ada pertanyaan kenapa ga pulang aja kan sidang udah selesai? Ga segampang itu, kami harus menyelesaikan revisi paling tidak seminggu sebelum wisuda tanggal 17 Desember. "Gimana kalau ke Cambodia aja? kan lebih deket," ujar Sani. "Janganlah aku sudah pernah kesana. Di perbatasan juga ga ada apa-apa, yang bagus di Siem Reap jauh perjalanan 3 jam dari perbatasan," tandasku. "Lit kamu mau extend visa apa wisata?"ujar Sani. "Lah sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Ngapain kita jauh-jauh ke perbatasan kalau cuma butuh ke imigrasi, sedetik di Cambodia lalu balik lagi ke Thailand," kataku yang tak mau rugi. Iya sih-- Sani dan Umi menggumam.

"Hey rek, gimana kalau ke Kuala Lumpur apa Singapura aja naik pesawat. Kan kalau lewat daratdapat visa turisnya dua minggu (mepet wisuda), kalau lewat udara dapat visa sebulan," ujar Umi ekstrim. Lalu kita berbarengan mengecek harga tiket pesawat. "Gendeng, kabeh larang mi," ujarku saat tahu harga tiket pesawat yang fantastis. "Wes talah kita ke Laos aja, berangkat malam. Vientine kan deket perbatasan jadi disana setengah hari terus malamnya balik lagi ke Thailand," kataku. Deal akhirnya Sani dan Umi setuju..

Umi-Sani-Faishal-Ayu-Uzan, ditraktir Faishal magnum.

Kami menawarkan solusi itu ke Faishal dan dia setuju saja untuk berangkat ke Laos bersama kami bertiga. Aku juga menawarkan Vika dan Ayu untuk ikut kami ke Laos tapi mereka sedang ada urusan kuliah. Jadilah kami berempat- mahasiswa extend akan berangkat ke Laos pada tanggal 7 Desember malam hanya demi mendapat visa turis Thailand selama dua minggu, miapah? demi revisi thesis, ikut wisuda, dan menikmati Thailand sampai puas.
Read More

© More Than a Choice, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena