a choice that change my life

Tampilkan postingan dengan label yangon. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label yangon. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 November 2014

Lost in Myanmar (12): Tips & Trik, Itenari, dan Budget ke Myanmar

Yey akhirnya sampai juga pada posting terakhir mengenai perjalanku ke Myanmar. Seperti biasanya, aku akan menuliskan mengenai tips dan trik, itenari, dan budget ke Myanmar. Perjalanan ini kulakukan selama 8 hari 7 malam (23-30 Desember 2013). Kota yang kukunjungi Yangon dan Bagan.


Tips & Trik


1. Penerbangan murah ke Yangon bisa dituju dari Bangkok dan Kuala Lumpur.
2. Sebaiknya menggunakan bawahan panjang jika ingin mengunjungi pagoda.
3. Sebagian besar makanan di Myanmar rasanya aneh. Berikut ini makanan khas enak yang kurekomendasikan: kare domba dan mi shan. Atau lebih baik bawa mi instant juga deh buat jaga-jaga.
4. Semua taksi di Myanmar tidak memiliki argo, jadi pastikan melihat peta lebih dulu untuk menaksir harga. Biasanya harga taksi dimulai dari 1500 kyat (sekitar 15 ribu rupiah).
5. Bagi umat muslim, masjid bisa ditemui di dekat Sule Pagoda dan 2 masjid di dekat pasar Bogyoke Yangon.
6. Sejak Mei 2014, warga Indonesia bebas visa ke Myanmar.
7. Kota wisata:Yangon- Nay Pyi Taw- Bagan- Mandalay.
8. Pilihlah hostel atau hotel yang recommended dan termasuk makan pagi.
9. Bila memiliki waktu terbatas cukup kunjungi Yangon 2 hari dan Bagan/Mandalay 2 hari.

Jujur saja, aku paling males kalau ada yang tanya "kemaren nginep dimana?". "Nginep di A,"jawabku. "Boleh minta contactnya A ga? Kali aja dikasih nginep atau nemenin jalan-jalan juga." Pertanyaan kayak gini yang bikin aku males. Kesannya aku seperti calo atau makelar. Maaf ya, bukannya aku ga mau kasih contact tapi aku ga enak sama orang yang pernah kurepotkan dan malah kutambahi repot dengan menyebar contact nya dia. Kalau memang mau murah ya usaha sendiri atau lebih baik cari hotel murah.

Cerita sebelum beli tiket ke Yangon, Lost in Myanmar (1):Gara-gara Salah Beli Tiket

Itenari dan Budget


Keterangan: *= jelek , **= biasa , ***= lumayan , ****= bagus (recommended) , *****= wajib kesini (recommended)

0. Hari ke nol (Yangon)
- Pesawat Bangkok-Yangon tiba di Yangon jam 20:00

Lost in Myanmar (2): Kyat, Longyi, Setir Kanan, dan Mingalabar

Transportasi = 5,000 kyat

1. Hari pertama (Yangon)
- People park (*), taman bermainnya biasa saja.
Lost in Myanmar (3): Menjadi Autis di Yangon
- National museum Yangon (****), ada ruangan yang bernuansa sangat Myanmar dan memiliki singasana emas asli dari jaman kerajaan.
Lost in Myanmar (4): Museum Tempat Bagi Kesendirian

Tiket People Park = 2,000 kyat
Tiket National Museum Yangon = 5,000 kyat
Tranportasi (taksi) = 8,000 kyat
Makan = 3,000 kyat
Total= 18,000 kyat

2. Hari kedua (Bagan)
- Lakhananda pagoda (****), bagus di pinggir sungai.
- Dhammayazika pagoda (***)
- Nget Pyit Taung Zehdi dan Lemyethna Pagoda (**)
- Shwezigon pagoda (*****), landmark Bagan dan paling terkenal.
- Myazedi pagoda (**)
-Hitominlo pagoda (*****), pagodanya bagus dan besar.
Lost in Myanmar (3): Ribuan Pagoda Merah, Putih, dan Emas
- Replika istana emas Bagan (****), suasana berbeda diantara pagoda.
- Mahabodhi temple AD.1215 (**)
- Bu pagoda (****), letaknya di pinggir sungai.
- Manuha pagoda (***), terdapat patung budha tidur raksasa didalamnya.
- Thatbyinnyu Phaya Pagoda (*****), pagodanya berukuran besar dan bisa berkeliling didalamnya
- Shwensandaw Pagoda (*****), wajib kesini dan naik ke atasnya karena bisa melihat pemandangan di Bagan.
- Menara tinggi/clock tower (*****),pemandangan Bagan semua terlihat dari sini.
Lost in Myanmar (6): Mistis di Bagan

Bis Yangon-Bagan= 9,000 kyat
Hotel Sky Palace 3 hari 2 malam= 100,000 kyat
Transportasi 3 hari (urunan) = 35,000 kyat
Tiket replika istana = 5,000 kyat (harga turis asing)
Tiket clock tower = 2,000 kyat (harga lokal)
Total= 151,000 kyat

3. Hari ketiga (Bagan)
- Pagoda di seberang sungai (***), aslinya pemandangannya bagus tapi ongkosnya mahal.
- Pagoda di atas bukit (***), pemandangannya bagus tapi cara menuju kesana rumit.
- Toko dan pembuatan lacquerware (****), harga souvenir masih masuk akal dan bisa melihat langsung cara pembuatannya.
- Dhammayan Gyi Pagoda (*****), pagoda dengan bentuk piramida, didalamnya ada lukisan mural.
Lost in Myanmar (7): Fotografer Abal-abal Dibayar Uang Makan

Kapal untuk menyebrang = 5,000 kyat
Jeep menuju pagoda = 8,000 kyat
Total = 13,000 kyat

4. Hari keempat (Bagan- Mount Popa)
- Mount Popa (***), aslinya bagus tapi lagi-lagi ga sesuai dengan ongkos dan perjalananya +- 3 jam dari Bagan.
Lost in Myanmar (8): Ala Burma

Ongkos sewa mobil tambahan= 5,000 kyat
Bis Bagan (Nyaung O)- Yangon= 9,000 kyat
Total = 14,000 kyat

5. Hari kelima (Yangon)
- Taman Maha Bandoola (*****), alun-alunnya Yangon. Disekitarnya terdapat gedung pemerintahan,bekas penjara, sule pagoda, dan masjid.
- Taman Kandawgyi (****), unik karena terdapat danau buatan besar dan ada bagunan mirip kapal angsa.
-Shwedagon pagoda (*****), landmark Yangon yang wajib dikunjungi!
Lost in Myanmar(8): Highlight Yangon Bersama Aung

Transportasi= 5,000 kyat
Tiket taman kadawgyi = 2,000 kyat
Tiket Shwedagon pagoda = 8,000 kyat
Total = 15,000 kyat

6. Hari keenam (Yangon)
-Pasar Bogyoke (*****), pasar tradisional yang wajib dikunjungi.
-Taman Maha Bandoola (*****), karena aku punya waktu senggang jadi mengunjungi taman ini lagi.
-Kebun binatang Yangon (**)
Lost in Myanmar (9): Perjalanan Menuju Hati

Transportasi = 10,000 kyat
Kebun binatang = 2,000 kyat
Total= 12,000 kyat

7. Hari ketujuh (Yangon)
- Kabar Aye Pagoda (****), satu komplek terdiri dari beberapa bangunan: pagoda, sekolah biksu, dan bangunan mirip gua untuk tempat tes dan rapat biksu.
Lost in Myanmar (10): Hang Out dengan Ibu Su Mon

Total= 0 kyat

Tiket pesawat PP Bangkok- Yangon= Rp 600.000,-
jika 1 kyat = Rp 10, maka:
Total = Rp (228,000 kyat x10 ) + Rp 600.000,- = Rp 2.880.000,-
Habisnya lumayan mahal padahal hitunganku ini hitungan asli minus oleh-oleh, minus hotel di Yangon karena menginap di teman, transportasi dan makan juga ditanggung teman. Myanmar ini lumayan mahal dalam hal pariwisata dan akses ke destinasi wisata tidaklah mudah karena negara ini baru membuka diri secara global setelah insiden di tahun 2007. Setidaknya siapkan sekitar Rp 4.000.000,- kalau mau berlibur seminggu di Myanmar.


Wish you have nice vacation in Golden Land!


Read More

Lost in Myanmar (11): Hang Out dengan Ibu Su Mon

Hari ini adalah hari terakhirku di Myanmar. Terhitung sudah delapan hari tujuh malam kuhabiskan waktu di Myanmar (23-30 Desember 2013). Perjalanan ini sebagai hadiah dariku dan untukku sendiri setelah wisuda master tanggal 18 Desember lalu. Selama di Myanmar aku menemukan kehangatan dari keluarga Su Mon. Ada suatu cerita rahasia masa lalu yang membuat kita sama. Ibu Su Mon juga sangat baik bahkan mau menemaniku jalan-jalan di hari terakhir dan menuruni tangga dari lantai lima apartemennya.

Ibu Su Mon.

Pagi hari Su Mon sudah berdandan cantik bak model majalah. Hari itu dia akan keluar lagi bersama Yan Naing. Mereka memanfaatkan waktu libur natal itu sebelum Yan Naing kembali bekerja di Brunei Darrusalam. Sedangkan aku dan Ibu Su Mon juga bersiap untuk keluar apartemen. Ibu Su Mon sudah berdandan cantik dengan busana merah marun senada dengan longyinya. Kami akan melihat Pagoda Kabar Aye di seberang jalan apartemen.

"You should stay longer in here. Next time we can go to Golden Rock, Nay Phi Taw, Mandalay, and Inle Lake," ujar Ibu Su Mon sambil menyebut destinasi populer di Myanmar. Dia menyayangkan kenapa aku hanya tinggal seminggu di Myanmar padahal aku mendapat visa turis selama sebulan. Aku hanya tersenyum dan berkata "I hope I have a chance to go here next time". Meski letak pagoda Kabar Aye tepat disebarang jalan namun jalan menuju kesana lumayan jauh karena pagoda itu terletak dalam satu komplek dengan sekolah biksu dan gua biksu. Sebagai bayangan, komplek itu kira-kira sebesar daerah monas. Lumayan kan.

Pertama ibu Su Mon menunjukkan bagunan biasa, katanya bangunan itu merupakan sekolah biksu. Mereka belajar 'mengaji' di bangunan itu. Lalu kami beranjak ke gua biksu. Gua ini merupakan gua buatan yang dibangun dengan cara menggerogoti bukit. Ibu Su Mon menjelaskan bahwa ada pertemuan akbar biksu se Myanmar yang berlangsung setahun sekali. Tempat ini juga digunakan sebagai tempat tes sebelum menjadi biksu yang sesungguhnya.

Sekolah biksu.

Tempat tes akreditasi biksu.

Thanaka :p dan pintu masukke gua buatan.

Ibu Su Mon di tempat tes biksu.
Selanjutnya aku dan Ibu Su Mon menuju ke pagoda Kabar Aye. Selama Ibu Su Mon berdoa, seperti biasanya aku muter-muter ga jelas lalu foto-foto. Kulihat Ibu Su Mon membeli sticker emas untuk ditempelkan ke patung budha. Iseng, aku ikut bantu nempel-nempelin aja. Lalu kami keluar dari pagoda, cuaca hari itu sangat terik dan ibu Su Mon membawa payung. Kami singgah di kedai teh sebelum melanjutkan perjalanan. Aku membeli dua roti dan teh susu. Ibu Su Mon masih membungkuskanku beberapa roti lagi.

Bagian dalam pagoda Kabar Aye.

Bagian luar pagoda.

Menempelkan stiker emas.

Memilih buku.

Istirahat di kedai teh.
Destinasi selanjutnya yaitu Gems Museum. Tapi ternyata museum itu tutup kalau hari Senin. Jadilah kami menuju toko perhiasan disebelahnya. Dari depan saja sudah terlihat eksklusif. Pas masuk dalam tambah semakin mentereng, segala perhiasan dengan macam-macam batuan dipajang disana."Very expensive,"bisik Ibu Su Mon. Aku mengangguk menyetujui. Setelah basa-basi sekedar melihat, kami keluar dari toko itu. Kami menyebrang jalan dan masuk ke toko batu-batuan lain. Bedanya disini tokonya biasa saja tidak sperti toko yang tadi. "Kamu mau yang mana? Pilih saja,"ujar Ibu Su Mon. Aku melirik gelang giok ijo yang cantik tapi ternyata kulihat harganya kalau di rupiahkan sekian ratus ribu. Hiww.... "No, thank you," ujarku menolak. Lalu Ibu Su Mon membeli anting-anting sederhana dari batu giok.

Perjalanan dilanjutkan ke pusat perbelanjaan semacam Carrefour di dekat sana. Ibu Su Mon bilang akan membelikan hadiah untuk anak kecil umur 2 tahun, jadi aku membantu memilihkan baju pink unyu-unyu. Ternyata tekstil di Myanmar kebanyakan made in Thailand. Disana aku juga menemukan banyak kain batik yang dijual mulai yang murah sampai yang agak mahal. "This from your country?" tanya Ibu Su Mon. "Yeah it is," jawabku bangga meski itu batik print yang murah.

Beberapa motif batik print.
Sebelum kembali ke rumah, Ibu Su Mon masih mampir ke toko kue dan membeli tart keju katanya untuk kumakan di pesawat. Lalu kami kembali ke apartemen dan Ibu Su Mon harus mendaki tangga sampai lantai lima dan membuatnya lumayan kelelahan. Aku mengucapkan terima kasih entah sudah yang keberapa kali dan menurutku itu masih belum cukup untuk membalas semua kebaikan keluarga Su Mon.

Aku kembali ke kamar dan packing semua barang-barangku. Pesawat Yangon-Bangkok akan berangkat jam 19:00 dan aku akan berangkat dari sini sekitar jam 17:00. Aku merenungkan semua yang terjadi selama lebih dari seminggu ini. Ini adalah trip paling safe yang pernah kualami. Jarang nyasar, tidak pernah ditipu, dan semuanya berjalan mulus meski aku tidak mempersiapkan dengan matang. Aku sangat berterima kasih pada orang yang membantuku di Myanmar: Su Mon, Ibu Su Mon, Yan Naing, Aung, dan semua penduduk Myanmar yang ramah. Aku berharap bisa membalas kebaikan mereka di lain waktu.

Ibu Su Mon dan Su Mon mengantarkanku naik taksi. Aku bertemu dengan Kakek tua yang dulu membantuku menemukan rumah Su Mon. "Halo," sapaku ke Kakek tua tersebut sambil tersenyum dan dia membalas senyuman sambil bicara yang aku tak mengerti. "Dia pikir dulu kamu tidak bisa bicara," kata Su Mon menerjemahkan perkataan kakek tua itu. Aku hanya terbahak dan teringat bahwa dulu aku mengandalkan bahasa tubuh sampai lupa bicara.

Pemandangan pagoda Kabar Aye dari apartemen Su Mon.
"Don't forget to visit my country," ujarku pada Su Mon sebelum masuk ke taksi. Tanpa diduga Ibu Su Mon membayar taksi yang tidak snaggup kutolak. "Thank you again," ujarku. Lalu taksi melaju di jalanan Yangon. Aku menikmati setiap detik pemandangan dari luar jendela taksi. Jalanan yang mirip dengan Indonesia penuh pohon di trotoarnya.

"Where is your Thailand Visa," ujar petugas AirAsia. "I don't have visa and I don't need visa," ujarku, sumpah petugas iki cari masalah. Memang visa studentku sudah habis tapi kan aku masih bisa pakai visa turis untuk masuk Thailand. Aku mengingat kejadian sebelum ke Myanmar, memang aku sempat overstay di Thailand sehari. Tapi jika overstay kurang dari 24 jam tidak dikenakan denda apa-apa. Jika lebih dari 24 jam baru didenda 500 baht/ hari. Masa gara-gara itu aku ditolak masuk Thailand. Aku masih ngotot kalau aku tak butuh visa ke Thailand dan aku hanya di Thailand seminggu sebelum kembali ke Indonesia tanggal 8 Januari. "Indonesian don't need visa to go Thailand. They can use visa on arrival," ujar salah satu pria berambut pirang yang antri dibelakangku. Tuh kan, petugas bandara kok ga paham per-visa-an, ujarku dalam hati.

Perjalanan Yangon-Bangkok hanya memakan waktu 1 jam dan pesawat Air Asia yang kutumpangi mendarat di bandara Don Mueang sekitar jam 8 malam. Akhirnya aku tiba juga di Bangkok. Kuhirup dalam-dalam udara di Bangkok. Thailand sudah seperti rumah kedua bagiku. Aku hapal setiap detail bandara Don Muang ini. Aku keluar dari Don Muang dan menuju ke jembatan penyebrangan yang terhubung dengan bandara. Aku berusaha mencegat bis 510 atau 29. Ahh lama,, akhirnya aku naik taksi menuju kampusku AIT.

Sepanjang perjalanan aku chat dengan beberapa orang. "Hi, I am arrived safely in Bangkok. Thank you for everything," tulisku ke facebook Su Mon. "Vik, aku wes sampe Bangkok iki. Kamu dimana?" chatku lewat line ke Vika yang seharusnya sudah berada di asrama AIT. "Mak, aku kemaren ke Myanmar seminggu tapi sekarang udah di Thailand lagi kok," chatku lewat line ke ibuku. Hahaha... aku terkadang tak membicarakan perjalananku dengan ibuku karena takut dia khawatir berlebihan. Biasanya aku bilang seminggu sebelum perjalanan atau setelahnya.

Aku melihat pemandangan jalan yang sangat kuhapal. Mall zeer lalu mall future park lalu Bangkok university. Tak kusangka aku sangat merindukan pemandangan ini. Aku sangat rindu Thailand. Tapi sepertinya aku lebih rindu Indonesia. Aku rindu suara adzan. aku rindu jalanan Surabaya yang rindang. Aku rindu kucing di rumah. Aku rindu penyetan, tempe, rujak, bakso, sate, nasi padang, dan banyak lagi. Aku sangat gembira mengingat bahwa seminggu lagi aku akan pulang ke Indonesia. Welcome home! :)

Posting terakhir edisi Myanmar, Lost in Myanmar (12): Tips & Trik, Budget, dan Itenari, http://elitachoice.blogspot.com/2014/11/lost-in-myanmar-12-tips-trik-itenari.html
Read More

Selasa, 04 November 2014

Lost in Myanmar (10): Perjalanan Menuju Hati

Why you travelling alone? Don't you feel lonely? Yes I am but somehow I can find a journey to myself. I believed I will meet kind people, new culture, new place, and finally new perpective.

Perjalanan menuju hati dan pespektif baru, itulah yang kucari. Tak perlu keliling dunia untuk mencari tempat bagus,cukup Indonesia. Namun jika yang dicari adalah hal yang benar-benar baru maka packing lah ransel dan keluarlah dari Indonesia. Rhenald Kasali berkata jangan jadi katak dalam tempurung. Haus akan keingintahuan akan tempat diluar Indonesia tak dapat dipuaskan hanya dengan menonton TV atau melihat lewat internet. Berangkat! Jalani dan temukan perspektif baru bagi kalian.

"Elita iki senengane mlaku-mlaku nang negara gak jelas," ucap salah satu orang. Well yeah that's true. Aku telah mengelilingi negara 'ga jelas' itu seperti: Malaysia, Thailand, Kamboja, Laos, dan Myanmar. Bukan apa-apa tapi karena negara yang dibilang ga jelas itu memang murah dan seakan aku ditakdirkan berangkat kesana mulai mudik jalur darat, laut, udara dari Bangkok ke Surabaya, perpanjangan visa ke Laos, dan salah beli tiket pesawat berakhir di Myanmar. Detinasi wisata indah memanglah suatu tempat yang ingin dilihat. Perjalanan menemukan diri sendiri adalah tujuannya.

Su Mon mengkhwatirkanku saat aku mendengar akan jalan-jalan sendirian di Yangon hari itu. Bahkan ibu Su Mon sempat akan mengajakku ke Golden Rock yang letaknya sekitar dua jam karena tak mau aku jalan-jalan sendirian. Aku menolak permohonan itu dengan halus. Jelas perjalanan ke Golden Rock harus menyewa mobil karena tranportasi umum kesana sangat susah. Ibu Su Mon juga cukup tua. Aku tak mau lebih merepotkan keluarga Su Mon. Aku meyakinkan Su Mon bahwa aku akan selamat meski jalan-jaln sendirian. Sebagai cadangan, aku meminta Su Mon menuliskan destinasi yang mungkin ingin kukunjungi hari itu yaitu: Pasar Bogyoke, Taman Maha Bandoola, Pinggiran Sungai dan Kebun Binatang. "Jangan beli apa-apa di pasar," Su Mon Latt mengingatkanku.

Bagian depan Pasar Bogyoke.

Plang pasar.

Tempat pertama yang kukunjungi adalah pasar Bogyoke. Pasar ini adalah pasar tradisional untuk membeli oleh-oleh khas Myanmar. Meski Su Mon mengingatkanku untuk tidak beli apa-apa tapi tetap saja aku tergoda untuk membeli longyi cantik yang berwarna-warni. Longyi dijual mulai harga sekitar 5000 kyat (sekitar Rp 50.000). Aku langsung memborong tiga: untukku, mbahku, dan temanku vika yang telah membantu mengerjakan thesisku. Lalu aku membeli kaos bertuliskan Myanmar seharga 2000 kyat. Sedari tadi aku diikuti laki-laki yang bisa bercakap Melayu dan menunjukkanku toko-toko di pasar Bongyoke. Aku berusaha menyingkir dari laki-laki itu apalagi saat kutahu dia juga bisa berbahasa Jepang dengan fasih.

Suasana khas pasar tradisional.

Penjual lukisan.

Toko kain, suasana mirip pasa klewer.

Berhasil keluar dari jeratan calo laki-laki tadi, aku ketemu dengan calo lain yang juga pandai bahasa Melayu. Ahh menyebalkan sekali orang-orang sperti ini. Dia mengajakku ke toko perhiasan, kuikuti saja daripada aku semkin dikuntit. Calo itu mengajakku ke toko perhiasan yang menjual jenis batu-batuan mahal speerti rubi, safir, dan lain-lain yang harganya tak sanggup kubeli. Lalu calo itu mengajakku ke tempat yang lebih murah dan memaksaku beli sesuatu. Ihh males banget, akhirnya kubeli gantungan gajah kecil dari pahatan marmer untuk tas kameraku. Akhirnya calo tadi tidak mengikutiku lagi. Aku bernafas lega dan bergegas ke pintu keluar pasar.

Pembuat tas.

Toko barang antik.
Aku beristirahat sebentar di kursi pintu keluar pasar Bongyoke. Bapak disebelahku berbicara dengan bahasa yang tidak asing lagi: bahasa Thai. Aih senangnya.. meski dia bukan orang Indonesia. Akhirnya aku memberanikan diri untuk menyapa Bapak itu."Hello are you Thai?" tanyaku. "Yes I am, khun Thai mai?" kata Bapak itu."Mai chai, pu thai mai dai. I am from Indonesia and study in Thai,"jawabku. Akhirnya setelah bercakap-cakap, aku meminta Bapak itu untuk memfotokan diriku didepan pasar Bongyoke. Akhirnya aku punya foto juga hari itu.

Foto didepan pasar Bogyoke.

Aku keluar dari pasar dan ingin berjalan-jalan di dearah sekitar sana. Tiba-tiba mataku tertuju pada jualan di toko bagian depan pasar. Toko itu menjual batik Indonesia!Ya batik! Sungguh bangga menjadi orang Indonesia yang kain batiknya sudah diakui secara internasional. Sepertinya kain batik disini menjadi salah satu motif yang disukai masyarakat Myanmar untuk digunakan sebagai longyi. Pantesan waktu di Bagan aku melihat ibu-ibu memakai batik Indonesia ternyata produk itu sudah umum dijual disini. Apalagi harga batik Indonesia murah karena yang dijual disana kebanyakan batiknya seperti batik yang kugunakan sebagai selendang gendong saat kecil bukan batik tulis asli.

Batik Indonesia juga dijual di pasar Bogyoke Myanmar.

Toko di pinggir pasar.
Disekitar pasar Bongyoke terdapat beberapa mall. Aku sempat masuk kedalam tapi mallnya biasa saja dan tidak sebesar delta plaza hanya saja barang yang dijual branded. Pedagang kaki lima juga mudah ditemui di dekat pasar ini. Banyak juga kios telpon umum atau wartel berupa box kecil. Didepan deretan pasar Bogyoke terdapat pemukiman tua dengan apartemen tinggi menjulang. Inilah kepadatan kota metropolitan Yangon, dibalik bangunan indah pasti ada pemukiman padat.

Wartel di Myanmar.

Jalanan di Yangon.

Bangunan kosong.

Area pemukiman apartemen tua.

Ternyata disana ada masjid lagi! Ini masjid kedua yang kutemui di Yangon. Alhamdulillah Ya Allah... Saat itu belum masuk waktu dhuhur jadi aku memutuskan untuk mengelilingi pemukiman disekitar masjid itu. Kebanyakan orang sepertinya muslim yang kutemui berwajah India, kabarnya orang-orang ini adalah imigran dari Bangladesh. Aku mengelilingi daerah itu yang kebanyakan berisi bangunan apartemen tua. Aku memutuskan makan siang di restoran cepat saji berlabelkan halal di pintu masuknya. Oh ya di Myanmar tidak ada restoran cepat saji macam KFC atau Mc Donald dan juga tidak ada gerai retail waralaba seperti 7eleven. Jadi agak susah mencari makanan saat sendirian.

Masjid didepan pasar Bogyoke.

Pedagang kaki lima disekitar masjid.

Suasana kota Yangon.
Aku mendengar adzan dhuhur menggema di daerah ini. Rasanya ingin nangis saat mendengar kumandang adzan di negeri lain apalagi ini Myanmar yang minoritas muslim. Aku mencari sumber suara itu yang sepertinya dari banyak tempat. Lalu kulihat masjid lain yang menempati bangunan apartemen. Sayang aku tidak bisa menemukan pintu masuknya. Aneh. Kuputuskan untuk sholat di masjid depan pasar Bongyoke tadi. Pintu masuk masjid ini pun kecil dan tertutup oleh pedagang kaki lima.

Pintu masuk kedalam masjid.
Aku menuju tempat sholat untuk perempuan dan tidak bisa menemukan ruku. Aku jadi teringat wanita muslim yang kutemui tadi. kebanyakan dari mereka mengenakan jubah hitam panjang dan sepertinya muslimnya lebih mirip Pakistan gitu yaitu tidak membutuhkan ruku untuk shalat. Jadi aku wudhu dan memasang kaos kaki lalu sholat. Setelah itu aku berdiam disana sejenak dan berdzikir. Alhamdulillah Ya Allah, aku diperkenankan untuk menemukan rumah-Mu disini. Terlihat pedagang kali lima berjajar dari jendala laintai dua masjid ini. Lalu mataku tertuju pada rak di dekat jendela. Kutemukan Al-Quran. Aku membuka surat favoritku Yasin dan mulai mengaji.....Yaa sin wal quran nil hakim. Inna kala minal mursalin. Ala sirothkim mustakim. Tanzilal azizirrohim...

Bagian dalam masjid.

TEmpat wudhu laki-laki.

Quran di Myanmar.
Aku melanjutkan perjalanan ke Maha Bandoola (lagi). Aku cuma ingin bersantai di alun-alun ini layaknya masyarakat Burma. Aku duduk di rerumputan dan bersandar pada pohon. Lalu aku menggambar pemandangan didepanku dengan coretan yang jelek sekali. Lama tidak belajar menggambar membuat salah satu hobiku ini menjadi terlupakan.

Masjid yang bersebelahan dengan Sule Pagoda di dekat taman Maha Bandoola.

Nggambar ga jelas.

Banyak orang pacaran di taman.
Patung singa menghadap ke bekas penjara.
Tepian sungai adalah tempat selanjutnya yang ingin kutuju, kata Su Mon daerah itu ada didekat Maha Bandoola.Aku membayangkan daerah tersebut seperti tepian sungai Chao Phraya yang romantis. Aku menunjukkan tulisan Burma sebagai destinasi yang kutuju ke supir taksi. Saat taksi berhenti, aku menoleh kanan-kiri. Mana sungainya? Ternyata aku berada di kebun binatang. Asem ciak...aku tadi salah tunjuk tulisan.

Memberi makan rusa.
Yasudahlah kunikmati saja jalan-jalan sendirian disini. Kebun binatang ini lumayan besar dan hewannya juga bermacam-macam. Meski tidak banyak spot untuk foto, kebun binatang ini lebih baik dari bonbin Surabaya yang mengenaskan. Aku juga sempat makan mi mama rasa tomyam di depan kandang rusa. Kebun binatang adalah destinasi terakhir dan aku kembali ke apartemen Su Mon.

Si singa.

Ini hewan lucu.
Ibu Su Mon menyiapkan makan malam dan menanyakan kemana saja aku hari itu. Besok adalah hari terakhirku di Myanmar dan aku bilang kalau hanya akan jalan-jalan disekitar sini. "You going with me tommorow," ujar Ibu Su Mon. Beliau mengkhawatirkanku yang jalan-jalan sendirian karena baru saja melihat berita kalau muslim bentrok lagi dengan Budha.

Su Mon datang ke rumah dan memamerkan tato couple barunya padaku dan ibunya berupa gambar minnie mouse. "Don't show to me. That tatto used needle and can make me sick," ujar ibu Su Mon. Aku hanya tertawa saja, hubungan mereka seperti anjing dan kucing meski saling menyanyangi. Ibu Su Mon hanya tak ingin anaknya melakukan hal-hal buruk. Lalu Ibu Su Mon menanyakan padaku apa aku ingin memasang tato juga, aku jawab aku tidak ingin dan hal itu dilarang di agamaku."Good," ujarnya.

Su Mon membawakanku tiga pack thanaka instant dan memberikanku kain longyi asli dari koleksi pribadinya sebagai oleh-oleh. Ibu Su Mon juga memberikanku kain sutra India untuk ibuku. Astaga sungguh baik sekali keluarga ini. Tak ada yang kuharapkan lebih indah daripada kehangatan keluarga Su Mon di tanah Myanmar ini.

Cerita selanjutnya, Lost in Myanmar (11): Hang Out dengan Ibu Su Mon, http://elitachoice.blogspot.com/2014/11/lost-in-myanmar-11-hang-out-dengan-ibu.html
Read More

Lost in Myanmar (9): Highlight Yangon Bersama Aung

Aku punya teman sekelas dari Myanmar bernama Aung. Dia gencar melakukan promosi pariwisata Myanmar melalui grup facebook kelasku. Dia tipe orang yang ramah bahkan sempat memberikan nama Myanmar ke semua teman sekelas, aku diberi nama Eun Gyi (koyok korea-korea gitu) artinya bunga kuning di musim panas. Ternyata penamaan di Myanmar itu bergantung hari kelahiran karena lahirku hari Minggu maka awalan namaku E. Makanya banyak kutemui nama Myanmar dengan awalan Aung, Ee, Su, Yan, Oo, dan lain-lain. Sebenarnya aku kurang akrab dengan Aung karena dia fasih berbahasa Inggris. Well, saking fasihnya aku sampai ga paham. Haha memalukan. Dia senang ketika aku berkata akan mengunjungi Myanmar. Dia juga berjanji akan mengantarkanku jalan-jalan di Yangon.

Detak kota Yangon.
Bis jurusan Bagan Nyaung O - Yangon sampai di terminal Yangon sekitar jam tiga pagi. Lalu aku tertidur pulas di apartemen Su Mon sampai jam sepuluh pagi. Oh ya terdapat perbedaan waktu antara Yangon dan Bangkok/ Jakarta yaitu 30 menit lebih lambat. Perbedaan waktu yang nanggung.

Sejak awal aku datang ke kamar Su Mon,aku sudah terkesima dengan alat make upnya. Pokoknya semuanya lengkap ala profesional make up bahkan dia punya palet eye shadow besar yang berisi mungkin 100 warna. Dandanan Su Mon juga sangat wah dan cantik. "Su Mon teach me how to use make up," ujarku. Lalu Su Mon mengajarkanku bagaimana memakai make up.

Kelas Make Up dari Su Mon

1. Bersihkan wajah dengan cleanser.
2. Oleskan pelembab wajah.
3. Gunakan correction pen dibawah mata dan untuk menutup bekas noda.
4. Gunakan BB cream.
5. Gunakan bedak.
6. Gunakan pensil alis.
7. Gunakan eyeshadow dengan gradasi warna natural.
8. Gunakan eyeliner hitam.
9. Gunakan maskara dan menjepit bulu mata.
10. Gunakan pensil warna putih untuk dibawah mata. 
11. Gunakan blush on merah dan bedak bercahaya. 
12 Gunakan pensil lipstik untuk pinggir bibir.Lalu lipstik dan tint di tengah bibir.
Seem complicated, isn't it? hahaha,,,, dan Jadilah diriku yang di make over by Su Mon. Saat aku bilang aku selalu jelek kalau pakai make up sendiri, Su Mon berkata Practice makes perfect. Okay....Meski beberapa kali pakai make up tapi sampai sekarang make up ku masih boncel-boncel maklum lulusan teknik =D .

Hasil make up dari Su Mon.
Su Mon bertanya aku akan kemana hari itu karena dia akan berkencan di mall bersama Yan Naing. Jadi aku bilang kalau temanku Aung akan menemaniku hari itu dan aku memberikan nomer hp Aung ke Su Mon. Su Mon menelpon Aung dengan bahasa Burma "weees wooss weess". Su Mon berkata bahwa Aung akan menjemputku karena kebetulan rumahnya di dekat sana.

"Where you want to go?" ujar Aung saat aku bertemu dengannya di depan apartemen Su Mon. "Aku belum tahu yang jelas aku ingin melihat Shwedagon Pagoda yang menjadi ikon Myanmar," jawabku. "Ok, pertama kita akan ke daerah di sekitar kantor pemerintahan di Maha Bandoola," kata Aung. Aku yang tak tahu apa-apa setuju saja.

Sekedar informasi: Ibukota Myanmar awalnya adalah Yangon tapi semenjak tahun 2002 ibukota dipindahkan ke Nay Phi Taw. Namun Yangon tetap menjadi kota terbesar dan pusat bisnis.

Maha Bandoola

Tugu di Maha Bandoola.

Aung dan tugu.

Di dekat tugu.

Ternyata yang dimaksud kantor pemerintahan atau taman Maha Bandoola itu adalah alun-alun kota Yangon! Bentuk arsitektur alun-alunnya juga mirip dengan alun-alun di Indonesia. Terdapat tugu nasional di tengah alun-alun. Disekitarnya terdapat kantor pemerintahan, penjara, dan Sule Pagoda sebagai tempat beribadah. Alun-alun kota Yangon dipenuhi oleh penduduk yang bercengkrama. Pemandangan bekas penjara bergaya kolonial yang berwarna merah dan kuning terlihat indah. Kantor pemerintahan juga ditata apik dengan air mancur di depannya. Beberapa kantor bisnis terlihat gagah dan menandakan kalau Yangon masih kota terbesar di Myanmar meski bukan ibukota lagi. Ujung Sule Pagoda yang berwarna emas terlihat diantara gedung modern, menandakan bangunan khas tanah emas Myanmar. Bisa dibilang inilah jantung kota Yangon, detak hidup Myanmar berpusat disini.


Didepan kantor pemerintahan.
Aung dengan latar belakang Sule Pagoda.

Bersantai di pinggir alun-alun.

Bekas penjara.

Taman Maha Bandoola.
Aku dan Aung berjalan ke arah belakang bekas penjara. Aku bertanya ada apa disini? Aung menunjukkan kalau daerah tersebut memiliki arsitektur bangunan lama khas kolonial. Sepanjang jalan banyak ditemui penjual kaki lima yang menggelar lesehan dagangannya. Lalu aku membeli satu kilo jeruk mini dan kelengkeng untuk oleh-oleh di rumah Su Mon.

Anak-anak asyik bermain bola di jalan raya yang sepi.

Bangunan kolonial di dekat alun-alun.

Kami melanjutkan jalan kaki ke sisi lain alun-alun yaitu di daerah Sule Pagoda. Sule Pagoda berwarna emas dan bentuknya kerucut seperti tipikal stupa di Myanmar. Hal yang membedakannya adalah letaknya di tengah kota sehingga banyak dikunjungi. Beberapa orang memberi makan burung yang terdapat di pelataran Sule Pagoda.

Mataku tertuju ke kubah mirip masjid di dekat Sule Pagoda. Aku mengajak Aung mendekat ke bangunan itu dan Masha Allah itu memang masjid! Tak kusangka ada masjid ditengah kota yang mayoritas pemeluk agamnya adalah Budha. Aku berkata pada Aung untuk menungguku sebentar diluar masjid dan aku masuk ke masjid untuk menunaikan ibadah shalat Ashar. Di depan pintu masuk kutemui Bapak berwajah India yang menjaga masjid lalu aku tersenyum dan Bapak itu menunjuk arah lantai dua untuk perempuan. Masjid ini terhimpit diantara bagunan tua, pintu masuknya pun tersembunyi tapi ternyata didalamnya lumayan luas. Aku bergegas sholat karena kasihan Aung di luar jika aku berlama-lama disini.Setelah sholat, Aung mengajakku ke kedai teh dan makan bakpao.Penyajian teh di Myanmar cukup unik karena kita di beri satu set teh: ceret berisi air teh hangat tanpa gula dan beberapa gelas. Kita bisa menuang teh sesukanya tanpa biaya tambahan.

Masjid di dekat Maha Bandola.
Aung menceritakan bahwa Myanmar baru saja melakukan sistem demokrasi dan melakukan pembenahan di banyak hal. Lalu aku juga sempat menyinggung mengenai Aung Syu Kyi (bukan Aung temanku), perempuan turunan pahlawan nasional yang menjadi pencetus demokrasi Myanmar. Aku bahkan nge-fans dengan wanita ini semenjak melihat cerita dokumenter tentang dirinya di TV dan sempat foto dengan patungnya di museum Madame Tussaunds Bangkok.

Makan bakpao sambil diskusi dengan Aung.
Aung Syu Kyi berasal dari keluarga pejuang, kakeknya adalah pahlawan nasional. Orang tua nya ditugaskan sebagai diplomat di India lalu Aung Syu Kyi melanjutkan kuliah di Inggris dan menikah dengan orang Inggris. Meski hidup di luar negeri tapi Aung Syu Kyi tetap mencintai negaranya. Ini dibuktikan dengan kembalinya Aung Syu Kyi ke Myanmar untuk menghentikan pemerintahan diktator masa itu. Dia berkali-kali akan diancam dibunuh tapi dia berkata tak takut mati demi rakyat Myanmar. Dia juga diasingkan bahkan tak diperbolehkan untuk beretemu anaknya atau menghadiri pemakaman suaminya di Inggris. Ia bahkan mencalonkan diri sebagai kepala pemerintahan namun pemilu selalu di curangi sehingga Aung Syu Kyi tidak pernah menang. Perjuangan Aung Syu Kyi menggugah rakyat Myanmar dan membuka mata dunia internasional yang mengecam pemerintahan Myanmar.

Taman Kandawgyi

Destinasi berikutnya adalah taman Kandawgyi. Kita kesana dengan menggunakan angkutan umum mirip plek dengan kopaja Jakarta. Bayar murah, nyetir ugal-ugalan, naik dan turun juga horor. Taman Kandawgyi merupakan paru-paru hijau kota Yangon, berukuran sangat luas seperti taman Lumphini di Bangkok atau lima kali lebih luas dari kebun bibit Surabaya. Sedihnya wisatawan asing harus membayar tiket masuk ke taman Kandawgyi sebesar 2000 kyat (sekitar Rp 20000).

Kopaja ala Myanmar.

Jalanan kayu di taman Kadawgyi.

Hotel di dekat taman Kandawgyi.

Taman Kandawgyi sangat rindang, beberapa orang menghabiskan waktu sore hari untuk sekedar jalan sehat, jogging, dan tamasya disana. Di taman ini terdapat danau yang luas dan ditengah danau terdapat ikon taman yaitu bangunan mengapung mirip kapal dengan hiasan angsa naga. Diatas danau juga dibangun jalanan dari kayu. Anehnya Aung baru pertama kali mengunjungi taman itu. =_="

Aku di taman kandawgyi.

Foto dengan kapal emas.

Senja di taman Kandawgyi.

Shwedagon Pagoda

Malam hari, kami beranjak ke Shwedagon Pagoda. Inilah landmark kota Yangon, kebanggan negara Myanmar, dan tempat suci umat Budha. Pagoda terbesar se-Yangon. Masuk ke pagoda pun harus naik lift dulu dan membayar 8$ untuk turis asing. Setelah naik lift kita harus jalan kaki lagi. Mungkin Pagoda ini 'kabah' nya umat budha di negara ini. Pagoda ini sangat stunning dimalam hari karena pencahayaannya yang indah dan warna emas yang memantul.

Pintu masuk dan pembelian karcis ke pagoda Shwedagon.
Jalan masuk ke Shwezagon setelah naik lift.
Stunning!!

Arsitektur pagoda Shwedagon luar biasa karena terdiri dari ribuan kilo pelat emas murni. Bayangkan, pagoda ini tingginya 99 meter berdiri diatas bukit yang tingginya 50 meter. Bagian bawah stupa terdiri dari 8688 kilo emas batangan, bagian atasnya terdiri dari 13253 kilo emas batangan. Pagoda ini dihiasi dengan 5448 berlian, 2317 batu rubi, safir, dan lainnya. Ada 1065 bel emas dan di bagian puncaknya terdapat 76 karat berlian. Pantas saja temanku Thailand protes bahwa emas itu sebagian diambil dari Wat/ kuil di Thailand dan dipindahkan ke Shwedagon saat kerajaan Burma berhasil menaklukkan Siam di masa lampau. Berdasar informasi melalui wikipedia, terdapat replika Shwedagon Pagoda di Berastagi, Sumatra Utara. Wow..

Shwezagon Pagoda terbuat dari emas asli.

So tourist :p

Halo, saya sedang di Shwezagon.
Berdasar sejarah, pagoda ini telah dibangun dari 2600 tahun yang lalu dan mengalami banyak masa kerajaan dan perubahan sampai seperti saat ini. Ritual bagi pemeluk Budha biasanya akan mengintari stupa searah jarum jam. Lalu berdoa di kuil yang sesuai dengan hari kelahirannya. Jadi di bawah pagoda ini terdapat delapan kuil kecil yang menandakan jumlah hari (hari rabu dibagi menjadi dua bagian yaitu pagi dan malam hari).

Suasana Shwezagon.

Shwezagon ramai dikunjungi turis dan pemeluk Budha.
Hari kelahiran menjadi astrologi yang penting dan berpengaruh pada takdir menurut kepercayaan orang Burma. Makanya orang Burma pun menamai nama anaknya sesuai dengan hari dimana dia lahir. Setiap kuil kecil di Shwedagon memiliki "penjaga" hari kelahiran. Garuda untuk hari Minggu, Singa untuk hari Senin, Harimau untuk hari Selasa, Gajah bergading untuk Rabu pagi, Gajah tanpa gading untuk Rabu malam, tikus untuk hari Kamis, guinea pig untuk hari Jumat, dan naga untuk hari Sabtu. Untung aku lahir hari Minggu jadi ikonnya pas yaitu Garuda, lambang negara Indonesia. Garuda di dadaku... Yuhuu...

Foto di depan kuil hari Minggu.
Puas rasanya hari itu telah mengunjungi tempat ikonik Yangon mulai dari alun-alun, taman, dan Shwezagon. Bahkan aku juga menemukan masjid. Aung juga membayar uang makan dan transportasiku. Terima kasih Aung telah menunjukkan indahnya dan keramahan negara Myanmar.

Cerita selanjutnya, Lost in Myanmar (10): Perjalanan Menuju Hati, http://elitachoice.blogspot.com/2014/11/lost-in-myanmar-10-perjalanan-menuju.html
Read More

© More Than a Choice, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena