a choice that change my life

Tampilkan postingan dengan label Bagan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bagan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 November 2014

Lost in Myanmar (12): Tips & Trik, Itenari, dan Budget ke Myanmar

Yey akhirnya sampai juga pada posting terakhir mengenai perjalanku ke Myanmar. Seperti biasanya, aku akan menuliskan mengenai tips dan trik, itenari, dan budget ke Myanmar. Perjalanan ini kulakukan selama 8 hari 7 malam (23-30 Desember 2013). Kota yang kukunjungi Yangon dan Bagan.


Tips & Trik


1. Penerbangan murah ke Yangon bisa dituju dari Bangkok dan Kuala Lumpur.
2. Sebaiknya menggunakan bawahan panjang jika ingin mengunjungi pagoda.
3. Sebagian besar makanan di Myanmar rasanya aneh. Berikut ini makanan khas enak yang kurekomendasikan: kare domba dan mi shan. Atau lebih baik bawa mi instant juga deh buat jaga-jaga.
4. Semua taksi di Myanmar tidak memiliki argo, jadi pastikan melihat peta lebih dulu untuk menaksir harga. Biasanya harga taksi dimulai dari 1500 kyat (sekitar 15 ribu rupiah).
5. Bagi umat muslim, masjid bisa ditemui di dekat Sule Pagoda dan 2 masjid di dekat pasar Bogyoke Yangon.
6. Sejak Mei 2014, warga Indonesia bebas visa ke Myanmar.
7. Kota wisata:Yangon- Nay Pyi Taw- Bagan- Mandalay.
8. Pilihlah hostel atau hotel yang recommended dan termasuk makan pagi.
9. Bila memiliki waktu terbatas cukup kunjungi Yangon 2 hari dan Bagan/Mandalay 2 hari.

Jujur saja, aku paling males kalau ada yang tanya "kemaren nginep dimana?". "Nginep di A,"jawabku. "Boleh minta contactnya A ga? Kali aja dikasih nginep atau nemenin jalan-jalan juga." Pertanyaan kayak gini yang bikin aku males. Kesannya aku seperti calo atau makelar. Maaf ya, bukannya aku ga mau kasih contact tapi aku ga enak sama orang yang pernah kurepotkan dan malah kutambahi repot dengan menyebar contact nya dia. Kalau memang mau murah ya usaha sendiri atau lebih baik cari hotel murah.

Cerita sebelum beli tiket ke Yangon, Lost in Myanmar (1):Gara-gara Salah Beli Tiket

Itenari dan Budget


Keterangan: *= jelek , **= biasa , ***= lumayan , ****= bagus (recommended) , *****= wajib kesini (recommended)

0. Hari ke nol (Yangon)
- Pesawat Bangkok-Yangon tiba di Yangon jam 20:00

Lost in Myanmar (2): Kyat, Longyi, Setir Kanan, dan Mingalabar

Transportasi = 5,000 kyat

1. Hari pertama (Yangon)
- People park (*), taman bermainnya biasa saja.
Lost in Myanmar (3): Menjadi Autis di Yangon
- National museum Yangon (****), ada ruangan yang bernuansa sangat Myanmar dan memiliki singasana emas asli dari jaman kerajaan.
Lost in Myanmar (4): Museum Tempat Bagi Kesendirian

Tiket People Park = 2,000 kyat
Tiket National Museum Yangon = 5,000 kyat
Tranportasi (taksi) = 8,000 kyat
Makan = 3,000 kyat
Total= 18,000 kyat

2. Hari kedua (Bagan)
- Lakhananda pagoda (****), bagus di pinggir sungai.
- Dhammayazika pagoda (***)
- Nget Pyit Taung Zehdi dan Lemyethna Pagoda (**)
- Shwezigon pagoda (*****), landmark Bagan dan paling terkenal.
- Myazedi pagoda (**)
-Hitominlo pagoda (*****), pagodanya bagus dan besar.
Lost in Myanmar (3): Ribuan Pagoda Merah, Putih, dan Emas
- Replika istana emas Bagan (****), suasana berbeda diantara pagoda.
- Mahabodhi temple AD.1215 (**)
- Bu pagoda (****), letaknya di pinggir sungai.
- Manuha pagoda (***), terdapat patung budha tidur raksasa didalamnya.
- Thatbyinnyu Phaya Pagoda (*****), pagodanya berukuran besar dan bisa berkeliling didalamnya
- Shwensandaw Pagoda (*****), wajib kesini dan naik ke atasnya karena bisa melihat pemandangan di Bagan.
- Menara tinggi/clock tower (*****),pemandangan Bagan semua terlihat dari sini.
Lost in Myanmar (6): Mistis di Bagan

Bis Yangon-Bagan= 9,000 kyat
Hotel Sky Palace 3 hari 2 malam= 100,000 kyat
Transportasi 3 hari (urunan) = 35,000 kyat
Tiket replika istana = 5,000 kyat (harga turis asing)
Tiket clock tower = 2,000 kyat (harga lokal)
Total= 151,000 kyat

3. Hari ketiga (Bagan)
- Pagoda di seberang sungai (***), aslinya pemandangannya bagus tapi ongkosnya mahal.
- Pagoda di atas bukit (***), pemandangannya bagus tapi cara menuju kesana rumit.
- Toko dan pembuatan lacquerware (****), harga souvenir masih masuk akal dan bisa melihat langsung cara pembuatannya.
- Dhammayan Gyi Pagoda (*****), pagoda dengan bentuk piramida, didalamnya ada lukisan mural.
Lost in Myanmar (7): Fotografer Abal-abal Dibayar Uang Makan

Kapal untuk menyebrang = 5,000 kyat
Jeep menuju pagoda = 8,000 kyat
Total = 13,000 kyat

4. Hari keempat (Bagan- Mount Popa)
- Mount Popa (***), aslinya bagus tapi lagi-lagi ga sesuai dengan ongkos dan perjalananya +- 3 jam dari Bagan.
Lost in Myanmar (8): Ala Burma

Ongkos sewa mobil tambahan= 5,000 kyat
Bis Bagan (Nyaung O)- Yangon= 9,000 kyat
Total = 14,000 kyat

5. Hari kelima (Yangon)
- Taman Maha Bandoola (*****), alun-alunnya Yangon. Disekitarnya terdapat gedung pemerintahan,bekas penjara, sule pagoda, dan masjid.
- Taman Kandawgyi (****), unik karena terdapat danau buatan besar dan ada bagunan mirip kapal angsa.
-Shwedagon pagoda (*****), landmark Yangon yang wajib dikunjungi!
Lost in Myanmar(8): Highlight Yangon Bersama Aung

Transportasi= 5,000 kyat
Tiket taman kadawgyi = 2,000 kyat
Tiket Shwedagon pagoda = 8,000 kyat
Total = 15,000 kyat

6. Hari keenam (Yangon)
-Pasar Bogyoke (*****), pasar tradisional yang wajib dikunjungi.
-Taman Maha Bandoola (*****), karena aku punya waktu senggang jadi mengunjungi taman ini lagi.
-Kebun binatang Yangon (**)
Lost in Myanmar (9): Perjalanan Menuju Hati

Transportasi = 10,000 kyat
Kebun binatang = 2,000 kyat
Total= 12,000 kyat

7. Hari ketujuh (Yangon)
- Kabar Aye Pagoda (****), satu komplek terdiri dari beberapa bangunan: pagoda, sekolah biksu, dan bangunan mirip gua untuk tempat tes dan rapat biksu.
Lost in Myanmar (10): Hang Out dengan Ibu Su Mon

Total= 0 kyat

Tiket pesawat PP Bangkok- Yangon= Rp 600.000,-
jika 1 kyat = Rp 10, maka:
Total = Rp (228,000 kyat x10 ) + Rp 600.000,- = Rp 2.880.000,-
Habisnya lumayan mahal padahal hitunganku ini hitungan asli minus oleh-oleh, minus hotel di Yangon karena menginap di teman, transportasi dan makan juga ditanggung teman. Myanmar ini lumayan mahal dalam hal pariwisata dan akses ke destinasi wisata tidaklah mudah karena negara ini baru membuka diri secara global setelah insiden di tahun 2007. Setidaknya siapkan sekitar Rp 4.000.000,- kalau mau berlibur seminggu di Myanmar.


Wish you have nice vacation in Golden Land!


Read More

Senin, 03 November 2014

Lost in Myanmar (8): Ala Burma


Myanmar atau Burma? Aku menyebut dua kata tersebut di ceritaku yang sebelumnya. Myanmar adalah nama resmi internasional yang ditetapkan pada tahun 1989. Sebelumnya nama negara Myanmar adalah Burma, sebenarnya Burma merupakan nama ras yang dominan di Myanmar. Jadi jika merujuk ke negara disebut Myanmar, jika merujuk ke bangsa disebut Burma dalam bahasa Inggris Burmish (red: Myanmarian tidak umum). Hari ketigaku di Bagan kutemui budaya dan kehidupan sehari-hari ala Burma. Misalnya parade biksu muda, makan camilan khas dan memakai thanaka.

Pagi hari aku sudah dikejutkan oleh alunan musik mirip dangdut. Kontan saja aku langsung keluar kamarku yang kebetulan di lantai dua dan terlihatlah parade panjang lewat di depan hotel. Kuambil kamera dan berlari ke depan. Iringan terdepan terdapat gerobak berisi sound system menyetel lagu semacam dangdut beserta beberapa pria bermain seruling dan memukul gendang. Iringan itu diikuti dua penari berpakaian warna-warni yang lincah menari sambil tetap melangkah. Iringan dilanjutkan oleh kaum hawa mulai remaja sampai ibu yang memakai baju khas Myanmar dengan longyi warna-warni,mereka semua membawa semacam 'seserahan' dari bunga. Lalu datanglah parade perempuan cantik dengan riasan rambut tinggi. Tiba-tiba Boom Boom Boom datanglah gajah, luar biasa! niat banget! Setidaknya ada tiga ekor gajah yang lewat dan diatasnya duduklah anak kecil berpakaian putih yang dipayungi.

Parade anak cantik.

Gajah dan penunggang putih.

Bokong gajah.

Parade berlanjut dengan kaum perempuan berbaris panjang seperti sebelumnya dan dibelakangnya terdapat penari. Lalu muncul beberapa kuda yang ditunggangi anak kecil berbaju putih (lagi). Selanjutnya rangkaian kaum hawa dengan dandanan cantik muncul lagi dibelakangnya diikuti dengan kereta sapi yang membawa anak kecil. Parade itu lewat sekitar 15 menit dan diakhiri dengan truk yang membawa sound system besar.

Barisan kaum hawa ber longyi.

Para penari.

Kuda dan pengiringnya.

"seserahan"

Gerobak sapi cantik.

Su Mon menjelaskan bahwa parade itu untuk merayakan adanya biksu baru yaitu anak kecil yang berpakaian putih tadi. Menurut kepercayaan, setiap orang paling tidak pernah sekali merasakan menjadi biksu dan dididik di pagoda/kuil. Kebanyakan mereka melakukannya saat masih kecil, mungkin layaknya kita saat menjalani pondok pesantren Ramadhan. "Kamu beruntung bisa menyaksikan parade ini karena acara seperti ini sudah sangat jarang diadakan apalagi di kota besar seperti Yangon," ujar Su Mon. Katanya acara seperti itu menghabiskan biaya yang tidak sedikit dan hanya orang mampu di beberapa daerah yang masih melakukannya.

Hari itu kami berniat hanya mengunjungi Mount Popa yang berjarak sekitar tiga jam perjalanan dari Bagan. Ditengah perjalanan kami beristirahat di warung makan pinggir jalan. Lalu aku melihat rombongan ibu-ibu dengan bis tua yang juga berhenti disana, yang menarik perhatianku adalah salah satu ibu itu mengenakan batik! Ya aku tahu itu motif batik Indonesia, itu batik parang. Aneh sekali. Ditilik dari penampilan dan gayanya, maaf sepertinya ibu itu orang biasa dan tidak mungkin membeli batik sampai pergi ke Indonesia. Kusimpan tanda tanya ini yang ternyata akan terjawab nanti.

Jalan ke Mount Popa.
Ada lagi yang aneh saat perjalanan yaitu ditengah jalan yang bergelombang dan berkerikil tiba-tiba ada bangunan gardu berdiri. Lalu supir membayar uang sekitar 300kyat. Jalanan berubah menjadi lebih mulus dan aspal baru."Ini jalan tol?" tanyaku."Iya tadi untuk bayar tol," jawab Su Mon. Astaghfirullah.... Beruntunglah kalian hidup di Indonesia, hahaha... jalan tol Gresik-Surabaya adalah surga. Jalan tol yang kutemui disana hanyalah aspal mulus tanpa pembatas ditengahnya layaknya jalan biasa yang digambari garis putih. Di kanan-kirinya tidak ada pembatas jalan dan tak ada penerangan lampu sama sekali. Jalan tol yang aneh.

Setelah perjalanan tiga jam terlihatlah Mount Popa, sebenarnya ini adalah pagoda (lagi). Hal unik dari Mount Pope adalah letaknya yang berada diatas puncakgunung berbentuk kotak. Kita harus mendaki ratusan anak tangga untuk mencapai puncaknya. Disana juga banyak monyet nakal. Hal yang menyedihkan adalah kita harus melepas alas kaki layaknya di pagoda lain, tapi ini melepasnya sebelum mendaki dan lantai tangga kotor gara-gara sampah atau pipis monyet =___=.

Aku di dasar pagoda Mount Popa.

Ini si monyet.

Monyet, Yan Naing, dan Su Mon.

Bagian depan pagoda.

Tangga menuju pagoda.
Aku yang berhasil mencapai garis finish half marathon (21 km) selama kurang dari 3 jam (pamer :p padahal 2:50) tidak merasa capek saat mendakinya. Berbeda dengan Su Mon yang sudah kecapekan apalagi dia memakai longyi. Akhirnya semua itu terbayar saat sampai puncak, terlihatlah pemandangan mirip gunung semeru. Mungkin bagi orang Indonesia biasa aja. Tapi lumayanlah, bedanya ini dilihat dari pagoda. Sebenarnya pagoda Mount Pope biasa saja seperti pagoda lain dengan stupa warna emas, yang membedakan hanyalah letaknya yang tinggi. Seumur-umur aku belum pernah lihat masjid di Indonesia yang dibangun mentereng diatas puncak bukit seperti ini. CMIIW :3
Pemandangan dari Mount Popa

Disekitar pagoda.

TErnyata tinggi ya.

<3
:3
<3

Saat Su Mon dan Yan Naing berdoa, aku berputar-putar mencari objek foto. Aku berpikir "Hmmm akulah orang Indonesia pertama yang kesini. HAHAHA (tawa mak lampir)" Tapi ternyata pemikiranku salah setelah aku melihat plang donasi yang tertempel di dalam pagoda, salah satu penyumbangnya dari Indonesia!Wah wah...

Sumbangan orang Indonesia.

geje gejean.
Model majalah.

Penjual disekitar Mount Popa.

Mount Popa dari kejauhan.

Sore hari kami mendaki turun Mount Popa dan melanjutkan perjalanan kembali ke Bagan. Di tengah perjalanan,kami berhenti di rumah jerami.Su Mon ingin menunjukkan padaku cemilan dan bersantai ala Burma. Ternyata penghuni rumah tersebut memproduksi cemilan dari aren dan membuka warung sederhana. Aku mencicipi minuman khas yang manis, Su Mon menyebutkan namanya tapi aku lupa. Mungkin itu semacam legen tapi ini bening. Minuman itu disajikan dengan kacang-kacangan bersambal daun teh hijau. Aku juga masuk ke rumah jerami dan melihat cara membuat minuman. Jadi sari aren dipanaskan di dalam tungku dengan arang dan diambil uapnya,uap itulah yang kita minum. Produk aren lainnya yaitu gula batu yang dibentuk kecil-kecil dan dibuat lebih 'prul'. Satu bungkus besar cuma 500kyat atau sekitar 5000 rupiah, murah bingit.

Rumah jerami.


Warung ala Burma.

Membuat legen ala Burma.

Cara menunangkan minuman.

Afternoon break sweet.

Kacang-kacangan dan sambel teh hijau ditengahnya.
Camilan gula batu.

Aku melihat anak penjual minuman itu bersolek dengan thanaka. Ternyata wujud asli thanaka adalah kayu!! Jadi kayu di ulek ke cowek dan diberi sedikit air. Serpihan lembut dari kayu itulah yang di tolet kan ke wajah. Pantas saja dari kemarin banyak yang menual gelondongan kayu, kupikir untuk arang. Meski thanaka adalah make up tradisonal tapi jangan meremehkan kehebatannya. Seumur-umur perjalananku selama empat hari di Myanmar belum pernah kutemukan perempuan yang kusam atau berjerawat. Meski mereka ta secantik dan modis cewek Thailand atau seimut cewek Indonesia (Pede), wajah mereka semua mulus dan bersih. 

Aku tergoda untuk memakainya dan anak penjual itu berbaik hati membolehkanku mencoba thanaka. Thanaka adem di kulit, bisa mengeringkan jerawat, dan membuat kulit putih. Sebenarnya hari berikutnya, Su Mon memberiku beberapa thanaka instant dan sering kupakai untuk masker. Ayo ayo yang beli yang beli (macam sales).

Membuat thanaka.

Ayo tolet-tolet.

Perjalanan di Bagan selesai di hari itu. Sebelum naik bis, kami menyempatkan makan malam.Sebenarnya aku sudah tak selera makan tapi mending makan daripada kelaparan nanti. Kupilih menu daging kare lagi karena hanya itu yang kutahu cocok di lidah. Datanglah nasi dan daging kare. Lalu datang setidaknya enam piring lagi berisi sup, 2 macam sambal, asinan sayur, dan lalapan. Kupikir itu juga untuk Su Mon dan Yan Naing. Tapi Su Mon berkata "This all for you". "Whaaat?" ujarku histeris. Ternyata kalau order kare di Myanmar makan teman-teman kare seangkatan juga akan hadir. Jadi kalau kita pesan kare untuk sendirian setidaknya ada 8 piring yang akan disajikan. "I will join to eat with you," ujar Yan Naing dan dia memesan sepiring nasi lagi. Alhamdulillah...
Kare domba and the gank ala Burma!!
Cerita selanjutnya, Lost in Myanmar (9): Highlight Yangon Bersama Aung, http://elitachoice.blogspot.com/2014/11/lost-in-myanmar-9-highlight-yangon.html
Read More

Jumat, 31 Oktober 2014

Lost in Myanmar (7): Fotografer Abal-abal Dibayar Uang Makan


Fotografi menjadi salah satu hobiku semenjak memiliki kamera DSLR Canon tingkat rendah yaitu Rebel T3/ D 1100. Aku berguru pada senior di sekolahku tentang fotografi. Aku belajar ilmu dasar seperti pengaturan aparture, focus, dan ISO sampai belajar teknik zoom, panning, long exposure, dan memberi filter alay 3 picture style macam instagram. Hampir tiap sore aku belajar cara memotret, objeknya pun bermacam-macam misalnya: bunga, nyambik, bagunan, langit, orang, bahkan kita pernah menculik cewek-cewek cantik dari Nepal sebagai model. Cukuplah predikat sebagai fotografer abal-abal untuk sekedar memotret rentetan perjalananku. Tak disangka ternyata kemampuan abal-abalku ini berguna saat berpetualang di Myanmar.

Hari keduaku di Bagan, aku sengaja memakai sarung layaknya longyi Myanmar (padahal aslinya sarung dari Laos) supaya bisa kelihatan membaur dengan orang lokal. Aku memakainya seadanya sambil mengingat bagaimana orang Laos memakai sarungnya. Sarung untuk wanita Laos modelnya memang cingkrang 3/4 atau 7/8 namun karena aku pendek sarung itu bisa jadi panjang. Bagian ujung sarung kuletakkan di bagian depan. Penampilanku yang berkerudung tapi bersarung/longyi sempat pertanyakan oleh staf hotel. "Where are you from?" tanyanya. "I am from Indonesia,"jawabku bangga. "Very nice," ujarnya.

Pakai sarung ^^
Hari itu kami (aku, Su Mon, dan Yan Naing) mengunjungi lima tempat, tentu saja pagoda -_- paling kalau kata orang Myanmar aku ini sudah tamat 'ziarah wali songo'.

1. Shwezigon Pagoda
"Su Mon, bukannya kita kemarin sudah mengunjungi pagoda ini?" tanyaku ."Iya memang sudah. Tapi ada kepercayaan kalau mengunjungi 4 pagoda termasuk ini maka akan mendapat berkah," jawabnya. Kriiik,,, yah namanya nebeng tur,aku bisa pasrah saja dan mencari objek untuk difoto lagi. Lah dapat teman di Myanmar saja udah untung, boleh nginep dobel untung, ditemenin jalan-jalan malah triple untung.

Biksu di Shwezigon Pagoda.

2. Pagoda di Seberang Sungai
Aku tak tahu nama pagoda ini, kucari di internet pun tak ada karena pagoda ini tidak termasuk di wilayah Bagan. Kami turun dari mobil ke pinggiran sungai. "We will take the boat and across the river," ujar Su Mon. Su Mon juga memintaku agar hati-hati dan menyembunyikan diri saat di pinggiran sungai itu. Usut punya usut ternyata disana ada loket untuk wilayah Bagan. Ternyata turis asing harus membayar sekitar 25$ untuk memasuki pagoda dan wilayah di Bagan. Alhamdulillah hemat :p

Su Mon dan Yan Naing di pinggiran sungai Irrawarddy.

Guci yang dikeringkan di pinggiran sungai.

Aktivitas penduduk di pinggir sungai.
Kami menyewa kapal untuk menyebrang sungai Irrawardy. Setelah itu kami menyewa jeep untuk menuju pagoda yang ternyata letaknya di puncak bukit. Sepanjang perjalanan terlihat perbukitan berwarna coklat dan debu yang pekat. Mengingatkanku pada jalan mau ke Bromo. Tentu saja Bromo lebih bagus, jangan tanya. Pesan moral:jangan lupa memakai masker karena banyak debu.

Pre wedding :p

Pemandangan dari perahu.

hallo.

Pagoda kali ini sama halnya seperti pagoda lain yang berwarna emas. Keunikannya adalah pemandangan yang terlihat dari sana. Deretan perbukitan dan sungai. Aku mengelilinginya dan sesekali merasakan udara dingin khas dataran tinggi.
Jeep.

Perjalanan.

Pintu masuk ke pagoda.

Pagoda di seberang sungai.

Pemandangan dari pagoda.

Pemandangan dari Pagoda.

mini =_=

pagar.

Candid.



3. Lakhananda Pagoda
Ini kali kedua aku mengunjunginya. Tapi aku sudah tak menanyakan alasan kenapa mengunjungi tempat ini lagi.

Jalan masuk ke lakhananda pagoda.
Setelah dari Pagoda ketiga, kami menuju ke tempat pembuatan souvenir khas Myanmar yaitu Lacquerware. Souvenir ini terbuat dari kayu yang dibentuk dengan halus lalu dipernis sampai tebal, setelah itu dilukis pola khas Myanmar. Semua itu dilakukan secara manual. Souvenir ini cukup mahal harganya,ukuran sebesar piring bisa berharga ratusan ribu. Sayang rasanya kalau tidak beli,akhirnya aku memilih tempat cincin seharga 1.5$. Ternyata saat akan kubayar, Yan Naing malah membeyarnya katanya itu oleh-oleh buatku.

Pembuatan lacqueware.

4. Pagoda di atas Bukit
Pagoda selanjutnya terletak di luar pusat kota tua Bagan.Pagoda ini terletak diatas bukit dan harus melewati jalanan yang terjal.

Pemandangan dari pagoda diatas bukit.

Anak berthanaka di pagoda.

Renovasi.

Biksu perempuan.


5. Dhammayan Gyi Pagoda
Menjelang sore,kami kembali ke pusat kota tua Bagan dan mengunjungi pagoda yang bentuknya menyerupai piramida.
Tampak depan Dhamman Gyi Pagoda.
Mural di dinding dalam pagoda *ga kelihatan karena gelap.

aku :p


Sepanjang perjalanan aku merasa beberapa orang melihatku. Kali ini ada ibu yang berbicara padaku karena aku tak paham maka Su Mon yang membalasnya. "Ada apa?" tanyaku. "Katanya kamu memakai sarung terbalik, seharusnya ujungnya di belakang bukan di depan," ujarnya. Oalah pantesan dari tadi kok banyak orang yang lihat sarungku. Tanpa sungkan, aku langsung memutar sarungku."Like this?" tanyaku. "Better," jawab Su Mon.

Malam itu kami berjalan-jalan disekitar hotel untuk mencari makan malam. Su Mon dan Yan Naing berkata ayo makan enak malam itu dan memilih restoran dengan dekorasi bling-bling. Saat aku melihat menunya, wuih lumayan harganya. melihatku yang masih itung-itung Yan Naing berkata kalau makan malam kali ini mereka yang traktir. Lalu aku baru sadar bahwa mereka mentraktir semua jatah makanku, beberapa tiket masuk, dan souvenir.

"Kenapa kalian membayar semua makanku?"tanyaku. "Karena kami orang Myanmar, kami ingin menjamumu sebaik mungkin di negara ini," ujar Yan Naing. Wow...Seharusnya Yan Naing dan Su Mon menjadi duta pariwisata! "Lagipula kamu juga sudah memfoto kami dan lain kali kami akan pergi ke Indonesia,"ujar Su Mon.

Yeah come to Indonesia!!

Cerita selanjutnya, Lost in Myanmar (8): Ala Burma, http://elitachoice.blogspot.com/2014/11/lost-in-myanmar-8-ala-burma.html
Read More

© More Than a Choice, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena