a choice that change my life

Tampilkan postingan dengan label Macau. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Macau. Tampilkan semua postingan

Senin, 08 Juni 2015

Stray Day in Hongkong-Macau (5): Edisi Kalah Judi II

Suasana Macau (credit:Zjahra)
Edisi kalah judi masih berlangsung selama sehari penuh. Sebenarnya aku ingin berjalan kaki santai di taman daerah Victoria Peak, namun karena hujan yang masih mengguyur maka aku membatalkan niat tersebut. Kami memilih untuk naik bis ke pelabuhan ferry Hongkong-Macau. Aku terkantuk-kantuk didalam bis, ternyata perjalanan menurun dari Victoria Peak ke down town area membutuhkan waktu sekitar sejam. Aku juga merapatkan jaketku, AC didalam bis cukup dingin mengingat diluar masih hujan. Pemandangan silih berganti antara rumah oriental, apartemen, taman, dan pemadangan kota Hongkong dari ketinggian.

Terkantuk-kantuk di dalam bis.

Mendung di Hongkong.

Mendung masih menggantung di downtown Hongkong. Destinasi berikutnya adalah eskalator terpanang di dunia yang menghubungkan upper ke mid level Hongkong di daerah Soho (South of Hollywood). Sebenarnya ide ini berasal dari itenari Trip Advisor di bagian sesi explore Hongkong dengan jalan kaki. Ternyata mencari esklator ini seperti jarum dalam tumpukan jerami. Kami harus berputar-putar melewati jembatan penyebarangan, beberapa gedung tinggi, dan lorong antar gedung. Tanya orang lokalpun percuma karena mereka tidak paham apa yang kita tanyakan.

Nyasar.

Pemanfaatan lahan di atas jalan. Good job apple :p

Aku sudah merasa putus asa dan berjalan lunglai sambil membawa tas backpack. Kami hanya mengikuti arus pekerja yang menuju ke arah salah satu lorong gedung. Tiba-tiba taraa... terlihatlah eskalator yang kami maksud. Eskalator ini dibangun secara outdoor. Panjang eskalator ini mencapai 800 meter, fungsinya untuk mempercepat transportasi pekerja dari daerah pemukiman flat ke daerah perkantoran. Di pagi hari, eskalator ini berjalan dari mid level (pemukiman) ke upper level (bangunan perkantoran). Sedangkan di sore hari kebalikannya. Kalau mau melawan arah, disediakan tangga disampingnya. Jadilah saat itu, kami menaiki eskalator terpanjang sedunia. Sedangkan baliknya, kami harus berjalan kaki menuruni tangga.

Perjalanan mencari eskalator.

Inilah eskalator outdoor terpanjang di dunia.

Aku :p senang yang dipaksakan.

Hari menjelang sore dan kami belum shalat Dhuhur dan Ashar yang niatnya dijamak takhir. "Gimana kalau sholat di lorong yang tadi, kan disitu ada partisi," ungkap Dini. Entahlah bagaimana ceritanya akhirnya kita memilih shalat di depan emperan gedung yang terdapat toilet umum. Kami berwudhu di toilet umum. Sepertinya toilet itu memang diperuntukkan bagi orang homeless. Yahh kami kan juga homeless saat itu. Haha

Biasanya aku memilih sholat sambil duduk jika sedang traveling di tempat umum yang jarang ditemukan masjid. Tinggal memakai kaos kaki dan menutup tangan dengan cardigan lalu sholat di kursi taman atau di kendaraan. Aku tidak mau menarik perhatian orang-orang sekitar. Tapi entah kenapa saat itu aku ingin shalat seperti biasanya yaitu memakai mukenah dan mempraketekkan gerakan sholat. Aku melihat emperan depan gedung yang sedang dibangun disamping toilet umum. Disana juga terdapat tumpukan koran yang tak terpakai. Aku menata tumpukan koran tersebut sebagai sajadah. Lalu mulai meggunakan mukenahku  dan mulai sholat. Aku sudah tak peduli jika ada orang yang melihatku dari jalan raya dibelakangku.

Sholat di pinggir jalan.

"Oh gitu ya sholatnya. Iya sih bener, sekalian totalitas ya El," ungkap Bang Asrul saat aku selesai berdoa. Lalu Bang Asrul mulai memakai sarung. Aku sendiri menata koran yang akan digunakan sebagai sajadah untuk Bang Asrul dan Dini. "Ini lo aku tadi sholat terus lihat ke 'sajadah' kok ya ada berita kontes kecantikan yang pakai bikini," jwabku saat ditanya kenapa aku mengganti alas korannya.

Rute selanjutnya yaitu mencari makan, apalagi kalau nggak McD. Setelah makan,kami baru tersadar banyak orang berjubah dan berkopyah yang lewat jalanan itu. Eaa berarti ada masjid disekitar sana dan kita memilih untuk sholat di emperan. Hmmm...

Menjelang malam, kami manaiki MRT dan menuju ke pangkalan ferry. Sebelumnya tak lupa kami menukarkan kartu Octopus (transportasi Hongkong) dengan uang deposit.Ternyata harga ferry berbeda tiap jamnya, harga untuk malam hari ternyata lebih mahal dibanding saat pagi hari. Saat itu jam berangkat ferry tinggal 10 menit lagi. Jadilah kami berlima berlari-lari ke ruang check in, untungnya kami datang tepat waktu sebelum ferry berangkat. Saat kami duduk, ferry langsung tancap gas menuju Macau. Aku sendiri mulai terlelap di tempat dudukku sampai ferry berlabuh di pelabuhan Macau.
Bye bye Octopus. Bye bye Hongkong. See you again. when?

Kami keluar dari pelabuhan ferry di Macau sekitar pukul delapan malam. Sekedar info kalau di Macau banyak shuttle bis gratis yang disediakan oleh pihak hotel. Secara, Macau dikenala sebagai tempat bandar judi terkenal se Asia. Bisa dibilang inilah Las Vegasnya Asia. Pendapatan utama dari 'negara' ini adalah dari perjudian. Tak heran bila berbagai tempat judi ini menyediakan transportasi dari tempat umum untuk menunjang bisnisnya.

Welcome to Nightlife!

Tujuan Venetian Hotel dipilih karena konon disanalah terdapat suasana bergaya Venesia dalam ruangan. Saat aku melangkah tiba-tiba "Tek", tali sepatu sandalku lepas. Okeh ini adegan jebol kesekian kalinya setelah sandalku diinjak dari Dini dari belakang dua kali. Jarum pentul dari kerung pun tak bisa memperbaiki sandal yang telah jebol. Akhirnya Dini menukar sepatu sandalnya dengan punyaku.

Adegan sandal jebol. Hiks.

Singkat cerita, sampailah kami di Venetian Hotel yang megah. Gaya eropa sudah terlihat dari bangunan luarnya. Aku memasuki hotel mewah ini dengan perasaan sedikit was-was. Maklum orang desa, pertama kali lihat beginian. Ternyata security nya ya biasa aja dan membiarkankan kami masuk. Bahkan bisa menitipkan tas backpack di lobby lantai dasar.

Interior Venetian Hotel didesain dengan mewah. Tak lupa kita mampir ke tempat judi. Tempat judi??? Iya. Inilah pengalaman hidup: pernah masuk ke tempat perjudian yang sesungguhnya!!! Syarat masuk ke tempat judi ini mudah yaitu 21 tahun + . Penjaagaan di pintu masuk tempat judi ini lebih ketat daripada lobby hotel. Petugas awalnya tampak melarang kami masuk karena tidak yakin bahwa umur kami 21+. Jadilah kami menunjukkan paspor dan petugas tersebut mengecek tanggal kelahiran dan membolehkan kami masuk. Asik. Welcome to the Gambler Life. Hahaha...

Tempat judi (terlihat di sela-sela tiang).

Pertama kali masuk tempat judi itu amazing. Sebelumnya tempat perjudian yang hanya bisa kutonton lewat film macam Jackie Chan kini bisa kulihat secara langsung. Suasana juga tak begitu menyeramkan seperti di film-film gangster. Malah tergolong mewah dengan nuansa bagunan ala eropa, kamar mandi yang cling, dekorasi yang elegan, dan yang terpenting adalah adanya botol air minum gratis! Kita bisa mengambil seenaknya botol air minum itu alih-alih beli air minum yang harganya selangit di Macau. Dekorasi serba mewah di tempat perjudian bersisian dengan berbagai mesin judi mulai yang paling keren macam kartu remi black jack, gotri yang diputar di meja berisi warna dan angka, sampai permainan cupu ala ding dong seperti di wahana timezone. Sayangnya tak boleh mengambil foto disini.

Didepan tempat judi.

Oke ternyata kami berempat adalah empat-empatnya wanita berkerudung di tempat judi ini. Hmm sudah kuduga. Aku hanya melihat berkeliling sambil ikut-ikut orang lokal yang sedang bermain judi menebak nomer dan menuliskan deret angka di selembar kertas kecil. Ternyata nomer yang keluar itu berdasarkan deret angka. Jika sudah tau rumusnya maka mudahlah untuk menebak nomer yang akan keluar berikutnya. Aku mencoba mengikuti deretan angka itu tapi tak berhasil juga menebak angka berapa yang keluar. Hhee,,, ga bakat judi.

Bang asrul membeli beberapa token uang judi. Kami hanya ikut menonton dia bermain judi di mesin ding dong untuk menebak dadu mana yang akan keluar. Kali pertama kalah. Rugi deh. Kali kedua kalah. Ternyata kali ketiga menang dan mendapatkan hadiah kalau tidak salah empat kali lipat dari token yang dimasukkan. Hadiahnya serupa voucher yang ditukarkan dengan uang asli. Uwowo.... darah raja judi mulai terlihat. Namun nyatanya percobaan keempat malah kalah lagi. Hmm...

Saat itu sudah menunjukkan sekitar pukul sepuluh malam. Aku mulai mengantuk dan lapar. Akhirnya kami memutuskan menjelajah lagi disekitar hotel itu. Setelah agak berputar-putar di deretan toko berlabel internasional macam gucci, louis vuitton,dkk (yang barangnya tak sanggup kubeli), kami akhirnya menemukan Venezia! Yuhuu di dalam hotel, lengkap dengan perahu dan kanalnya. Suasana indoor Venezia ini didesain semirip mungkin dengan atap awan khas musim panas di siang hari. Background rumah-rumah unyu juga turut menghiasi kanal ini lengkap dengan jembatannya.

Lalalalala :D

Venezia? No this is hotel.

Full team di Venetian Hotel Macau.

Rencana selanjutnya yaitu makan di food court. Entah apa yang kumakan saat itu. Aku sudah lelah dan uang terbatas. Bekal makan juga sudah habis. Terpaksa aku membeli makanan disana dengan harga paling murah dan sekiranya halal. Setelah makan pun masih lapar. Bang Asrul yang membeli porsi besar menawarkan makanan ke kami. "Nggak mau, itu hasil uang judi ya," kataku berprasangka buruk. Hehe. "Nggak, ini uangku sendiri. Tadi voucher judinya kusimpen buat kenang-kenangan," ungkapnya.

Girls only ^^

Saat itu menunjukkan tengah malam. Sudah makan lalu ngantuk. Kami mencari tempat yang bisa digunakan untuk tidur di area hotel itu. Tidur di tempat judi, ga mungkin.Di lobby, ga mungkin. Di foodcourt, udah tutup. Dini punya ide untuk tidur di nursery room yang terletak tak jauh dari food court. Kami segera kesana dan mengecek. Uwowo ternyata nursery room disana adalah tempat yang nyaman. Tempat yang berfungsi untuk ibu menyusui dan ganti popok ini didesain dengan nyaman dan luas. Lengkap dengan sofa empuk. Kami sudah nari jejingkrakan menemukan tempat nginep gratis malam itu.

"Yuk ke kamar mandi, wudhu dulu," entah kata siapa karena saat itu aku sendiri belum sholat maghrib dan isya. Kami keluar dari nursery room dan mencari tempat wudhu. Ndelalah pas balik lagi, nursery room sudah terkunci. Hiks. Hilang sudah kesempatan tidur gratis di tempat nyaman.

Kami memutuskan kembali lagi ke tempat judi untuk minum air botol gratisan. Padahal ini kali kedua masuk ke tempat judi itu, tapi entah kenapa petugas masih saja menanyakan paspor kita."Kamu sih bajunya terlalu unyu," kata Sani menyalahkan bajuku yang berwarna oranye-hijau. Berhubung kantuk tak dapat ditahan lagi, maka kami memutuskan untuk tidur di bandara Macau! Kami bergegas membungkus beberapa botol air minum dan hengkang dari tempat judi. Lalu mengambil barang bawaan di lobby. Shuttle Bus Venetian Hotel sudah berhenti beroperasi diatas jam 00.00 . Jadilah kami menaiki taksi ke bandara. Sialnya lagi taksi tidak mau menampung 5 orang, maunya maksimal 4 orang per taksi. Yasudahlah.

Tidur di bandara Macau (credit: IG @elitafn)

Sesampai di bandara Macau, kami langsung mencari spot terbaik untuk tidur. Beruntunglah para backpacker Macau, disini kursinya loss alias empat kursi digabung jadi satu dan tak ada pemisah antar kursi. Jadinya kursi ini bisa digunakan sebagai tempat tidur yang 'agak' nyaman. Minusnya AC di bandara ini ga karuan dinginnya. Aku akhirnya memilih kursi yang dekat dengan kounter convenient store dan pintu keluar bandara sebagai kasur. Lalu mulai menyelimutkan pashminaku ke seluruh tubuh dan menggunakan tas kameraku sebagai bantal dan tas ranselku di kuikat di kakiku. Good Night... 


Itu adalah hari kalah judi yang paling kuingat.

Read More

Senin, 18 Mei 2015

Stray Day in Hongkong Macau (4): Edisi Kalah Judi I

Hari terakhir adalah hari kalah judi. Bagaimana tidak? Kami harus menenteng tas besar kemana-mana, makan cap hemat pol-polan, nyasar, lari mengejar kapal ferry, shalat di pelataran toko, fakir air minum, dan tidur nggembel. Asiknya hari itu kami sempat masuk ke tempat judi beneran lho,,, settingan macam film action Jackie Chan. Bisa jadi hari itu terbilang hari 'kalah judi' bagi kami.

Jalanan kota Hongkong.

Hari terakhir kami di Hongkong diisi dengan menenteng tas sebesar panda kemana-mana. Destinasi hari itu adalah: naik peak tram, Victoria Peak, eskalator terpanjang sedunia, dan sore hari menaiki ferry cepat kembali ke Macau. Pagi hari, seperti biasanya kami memakan mi cap mama rasa tom yam dengan memanfaatkan air hangat dari hostel. Selanjutnya kami check out dan mulai menenteng backpack keluar dari penginapan. Destinasi pertama yang dituju adalah naik peak tram ke Victoria Peak. Cari jalur dan stasiun MRT nya pun harus jalan kaki agak jauh yaitu disekitar taman tsim tsa tsui. Setelah itu kami harus berjalan kaki menanjak sekitar 500 meter ke stasiun Peak Tram. Peak Tram ini menghubungkan upper level (Admiralty) dengan Victoria Peak via mid level. Pajang lintasannya 1,4 km dengan elevasi 400 meter. Konon ini adalah stasiun kereta tertua di Hongkong dan dibangun pada tahun 1881.

Jalanan bawah tanah kota Hongkong.
Didalam peak tram.

Setelah menimbang, menakar, dan mengatahui akhirnya kami memutuskan untuk membeli tiket termurah yaitu one way peak tram. Tram mulai menanjak dengan sudut ekevasi yang cukup menegangkan. Naik peak tram Hongkong ini mengingatkanku pada peak tram di Penang yang pernah kunaiki (http://elitachoice.blogspot.com/2013/03/cerita-mudik-iv-penang-heritage-town.html). Dari jendela tram, terlihat deretan gedung pencakar langit di Hongkong yang tertata rapi dan terbelah oleh laut. Aku hanya terpana sambil sesekali menjepret kameraku dengan rasa was-was karena kemiringan tram.

Sesampainya di stasiun pemberhentian, kita hanya bisa tolah toleh. Sedangkan pengujung yang lain melanjutkan perjalanan ke museum Madame Tussaunds dan Sky Terrace. Kami yang berprinsip hemat tidak membeli tiket terusan untuk keduanya. Lha kebanyakan dari kami sudah mengunjungi Museum Madame Tussaunds yang terletak di Bangkok. Soal sky terrace kami juga mikir-mikir mau ngeluarin uang. Ealahh backpacker kere...

Didepan madame Tussaunds.

Mendadak hujan deras mengguyur, kami memutuskan untuk bersantai di tempat perbelanjaan disana. Ternyata disana tidak ada tempat untuk ngesot-ngesot. Akhirnya kita memutuskan ndeprok didepan mall sambil membiarkan tas backpack keleleran. Melas banget. Jam sudah menunjukkan sekitar pukul 12 siang. Kelaparan. Kami memutuskan mencari makan di mall tersebut. Jangan bayangkan kami akan makan di restoran atau gerai fast food. Alih-alih, kami malah mencari makanan di gerai semacam 7eleven. 

Aku patungan dengan Dini dan Sani untuk membeli ayam kecap frozen dan roti. Lalu dimakan di emperan mall lagi. Aku kebingungan bagaimana cara memakan ayam kecap yang telah dioven itu. Mau pakai tangan takut kotor. "Tenang," ujar Dini lalu dia mengeluarkan se-pak plastik bening ukuran 1 kg. Lalu dengan santainya Dini menggunakan plastik itu untuk membungkus tangan dan mulai mempereteli daging ayam kecap dan menaruhnya kedalam roti. Aku cuma bisa terkaget "Sebenarnya apa tujuannya bawa plastik?" tanyaku. "Ya biar bisa dipakai kalo mau makan pakai tangan tapi gamau kotor,"jawabnya santai. Astaga... Sungguh kreatif.

Selepas makan siang, aku kembali bersemangat untuk berfoto dan menjelajah. Hujan pun mulai mereda hanya tinggal gerimis. Aku memasang jas hujan plastik dan mulai berfoto kesana kemari. Kami juga memutuskan untuk masuk ke bangunan sky terrace meski agak sedikit sedih karena tidak bisa naik ke lantai teratas. Males banget kalau harus bayar lagi. Hehe..
I love you ^^

Love Bear


Didepan sky terrace.

'Free to 13th floor'- spanduk itu terpajang di bangunan depan gedung sky terrace. Terang kami sekelompok backpacker tak akan mengindahkan tulisan "Free"!!! Langsung saja kami menuju bangunan tersebut kalau tidak salah namanya bla bla bla Garden.

Bang Asrul di titik tertinggi.

Hujan dan tetap bahagia.

Victoria peak!!

Tak salah kami batal membeli tiket ke sky terrace. Ternyata kami bisa mengakses pemandangan sekeliling Hongkong dengan gratis! Ayeyeye.... Dari titik tertinggi, kami bisa melihat dengan leluasa landscape kota Hongkong. Gerimis pun tak menyurutkan langkah kami untuk menikmati pemandangan itu. Meski awan tebal menyelimuti kota Hongkong, aku masih bisa senyum puas menyaksikan deretan gedung tinggi yang tertata rapi di sepanjang teluk.


Maybe this the poorest backpacker ever but worthed memories ever!!!

Read More

Senin, 30 Maret 2015

Stray Day in Hongkong-Macau (2): Negeri Ribuan TKI

Faktanya setengah dari jumlah pekerja rumah tangga (PRT) asing di Hongkong berasal dari Indonesia. Sekitar 165.000 pekerja itu 99,9% adalah wanita yang berusia 21-35 tahun. Berdasarkan informasi dari detik.com (macam nulis berita -_-), gaji PRT di Hongkong sekitar 8 juta dan ini menjadikan Hongkong sebagai surga bagi para tenaga kerja Indonesia (TKI). Tak heran selama di Hongkong kami menemukan dengan mudah orang Indonesia.

Pemandangan dari Victoria Harbour.

Kapal berhenti di pelabuhan Hongkong pada sore hari. Lalu kami melewati bagian imigrasi Hongkong untuk menerima kertas departure (bukan stempel di paspor). Hongkong dan Macau ini seakan dua negara terpisah dalam negara China. Katanya mereka memiliki dua regulasi hukum dalam satu atap. How come? Tapi untung juga bagi warga Indonesia karena masuk ke 2 negara khusus ini tidak membutuhkan visa seperti halnya masuk negara China.

MRT station.

Kami berlima membeli kartu Octopus yang bisa digunakan untuk transportasi di Hongkong meliputi bis, tram, dan MRT atau kereta bawah tanah. Tak ketinggalan Bang Asrul, Sani,dan Zjarah juga membeli sim card Hongkong. Berhubung aku dan Dini prinsip hemat, manfaakan wifi gratis, jadilah sim card tidak kuperlukan. Saat itu kita buta arah dan posisi dimana kami berada. Setelah melihat peta transportasi ternyata kami harus naik MRT ke central lalu transit ke Tsim Sha Tsui. Kebetulan di kereta kami bertemu dengan mbak-mbak kerudungan orang Indonesia. Dia berbaik hati menunjukkan arah dan kami bertukar nomer telepon. Lalu dia juga menceritakan tempat-tempat yang wajib dikunjungi di Hongkong.

Jalanan di Kowloon.

Ternyata hotel alias hostel paling murah se situs booking.com Hongkong letaknya strategis di dekat stasiun Tsim Sha Tsui dan masjid. Keluar dari pintu keluar D (maklum ya pintu keluarnya ada banyak bisa A-F), masjid sudah didepan mata. Alhamdulillah. Lalu kami bertanya pada ibu-ibu kerudungan yang sepertinya orang Indonesia. "Bu, mirador mansion arah mana ya?" tanya Zjahra pada ibu itu. "Dadi nduk engko nyebrang, mlaku lurus notok jedok. Noleh sebelah kiri ada tulisan Mirador mansion," ujar Ibu berkerudung itu dengan bahasa dan logat Jawa yang kental.

Jalanan ke arah Mirador Mansion.

"Waduh tanya di Hongkong di jawab pakai Bahasa Jowo kental," ujar Zjahra sambil tertawa. Kami akhirnya menemukan Mirador Mansion dimana tempat kami menginap selama dua malam di Backpacker Hostel. Parahnya kami hanya menyewa satu kamar untuk 4 perempuan (aku, Zjahra, Dini, dan Sani) dan 1 laki-laki (Bang Asrul). Bukan muhrim? iyesss tapi sebelumnya kami sudah mempertimbangkan itu semua berdasarkan budget. Hongkong merupakan negara yang padat penduduk, kebanyakan tempat tinggal menggunakan vertikal building. Harga tanah dan bangunan melambung tinggi. Tak heran jika hotel terletak pada suatu apartemen. ( foto apartemen di Hongkong dari Telegraph )

Lorong hostel.

Harga penginapan di Hongkong pun melambung tinggi. Jadi kami memutuskan menyewa kamar untuk 4 orang dengan kamar mandi dalam. Kamarnya berukuran sekitar 3mx3m termasuk kamar mandi yang mungkin hanya berukuran 1mx2m). Terdapat jendela artifisial jika dibuka hanya terlihat tembok --" , mungkin hanya sebagai sugesti supaya terlihat lebih humanis. Pembagiannya, yang perempuan tidur di kasur sedangkan Bang Asrul dapat extra bed dan tidur di lantai. Masalah lainnya yaitu kamar mandi dalamnya, hanya tertutupi kaca buram yang masih terlihat dikit jika ada orang didalamnya. Oh No! Jadilah kami memasang penutup dari selimut yang dikaitkan pada lipatan pintu.

Kamar mandi yang ditutup selimut.

Hari sudah sore saat kami sampai di kamar. Lalu kami mengusir Bang Asrul keluar kamar dengan alasan mau mandi dan sebagainya (maklum cewek rempong) dan nanti di chat lewat Line jika sudah selesai. Hampir satu jam Bang Asrul berada di luar kamar dan kami kaum perempuan sudah mandi sholat dll. "Bang sudah selesai nih,"telepon kami lewat Line *iklan banget. Lalu Bang Asrul datang ke kamar dan menceritakan bahwa banyak orang berjualan makanan di belakang Masjid. Lalu gantian Bang Asrul mandi dan yang perempuan keluar dari kamar.

Suasana kowloon park.
Suasana remang-remang romantis menyambut kedatangan kami di Taman Kowloon, belakang Masjid Kowloon. Terdengar dengunan khas Indonesia: Boso Jowo. Taman Kowloon sudah seperti pasar kaget di Indonesia. Beberapa orang menggelar dagangan yang kebanyakan adalah makanan khas Indonesia. Kami memilih berhenti di lapak yang dekat dengan lampu taman. "Eh, kalian deh yang bilang ke penjualnya. Bahasa Jawa semua, aku gak paham," ujar Bang Asrul yang berasal dari Aceh dan bisa berbahasa Sunda. "Dodolan napa Bu?," tanya kami. "Iki ono pecel, penyetan, karo bakso," ujar penjualnya dengan bahasa yang medok. Akhirnya kami duduk lesehan di dekat penjual itu dan mulai memesan makanan. Kami makan dengan lahap penyetan ayam/ikan plus tempe. Iya tempe!!! Maaf saya jadi heboh. Seumur-umur saya tinggal di Thailand, di pasar ga ada yang namanya tempe. Lha ini malah nemu tempe dan penyetan sedap di Hongkong. Harganya lumayan terjangkau untuk ukuran Hongkong,seporsi besar sekitar 30 ribu rupiah setara dengan makanan di McD Hongkong. Bahkan kami sempat meminta mangkok sterofoam untuk tempat membuat mi instant besok pagi (parah).

Penyetan ala Hongkong.

Bang Asrul bercerita tentang pengalamannya ke daerah itu saat menunggu kami yang perempuan mandi. Katanya saat duduk-duduk sendiri di bawah pohon, ada perempuan yang mendekati dan mereka berdua pun bercakap-cakap. "Mbak, disini mana makanan yang halal?," tanya Bang Asrul. "Disini makanannya halal  semua kok Mas,termasuk saya juga halal," ujar perempuan itu memberi kode. Oh men!!!Singkat cerita Bang Asrul pun merinding dan sedikit ketakutan."Tenang mas, ada kita berempat yang akan melindungi Bang Asrul," ujarku. Wkkwkwk,,, kalau di film F4, Sanchai dilindungi oleh 4 laki-laki, kalau di kehidupan nyata di Hongkong malah Bang Asrul yang dilindungi oleh 4 orang perempuan.

Jalanan di Hongkong.

By the way, masuk akal sih kalau Bang Asrul digodain cewek Indonesia. Pasalnya seperti fakta yang kuungkapkan di paragraf pertama: sekitar 160.000 TKW berusia masih muda dan (mungkin) single. Bahkan aku pernah sharing dengan temanku orang Indonesia juga yang pernah pengabdian masyarakat ke Hongkong. Katanya bahkan ada TKW yang lesbi saking susahnya cari laki-laki Indonesia.Wooo.....

Destinasi setelah kenyang adalah Victoria Harbour yang dapat ditempuh dengan jalan kaki dari taman Kowloon. Kami berlima amazing dengan keadaan Hongkong. Deretan bangunan tinggi menjulang dan tertata indah. Huruf cacing-cacing Hongkong pada billboard bertebaran. Jalan untuk pejalan kaki tidak hanya di trotoar tetapi juga terdapat banyak jalan bawah tanah yang tersambung dengan fasilitas MRT. Pedestarian di pelabuhan Hongkong bertambah meriah dengan adanya Avenue of Star cetak tangan dari bintang -bintang terkenal Hongkong, layaknya jalanan di Hollywood. Kami bahkan rela foto ngesot-ngesot dengan beberapa nama terkenal seperti Jackie Chan atau Bruce Lee.

Salah satu bangunan di Hongkong (credit:Zjahra).

Ngesot (credit: Bang Asrul).

Foto dengan Bruce Lee (credit: Dini).

Terdengar celoteh Bahasa Indonesia dari sekumpulan tante-tante cantik berwajah Tiongkok. Lalu kami berfoto di dekat kumpulan itu dan menggunakan Bahasa Indonesia, sempat hampir menyapa rombongan itu. Ehh mendadak tante-tante itu ganti bicara dengan bahasa Tiongkok saat tahu kami bicara dengan Bahasa Indonesia. Akhirnya kami berbicara menggunakan bahasa Thai "Setani tongpai..." biar sama-sama adil ga paham yang dicarakan. Ehhh?? Well?? Bukannya rasis atau gimana. Maaf banget ya buat orang Tiongkok di Indonesia, terkadang mereka merasa superior dari kami yang berkulit sawo. Tapi ga semua kayak gitu juga sih, banyak kok orang Chinese-Indonesia yang baik hati dan tidak sombong. Hanya tooolong aja kalau ketemu sesama orang Indonesia bisa saling sapa.
Sani dan patung di avenue of star.

aku :p (credit: Zjahra).

Well, kami menikmati Victori Harbour. Gedung tinggi berkelip di ujung pulau sana. Lautan yang memantulkan cahaya warna-warni. Kapal tradisional dengan bendera warna merah lewat. Cocok buat foto Pre Wed (Ehhh :p).

Full team.

kawaiii (credit: Sani)

Poto poto.

Pinggiran teluk victoria.

Pemusik dan penari jalanan.





Read More

Jumat, 21 November 2014

Stray Day in Hongkokng-Macau (1): Ajakan Sesat


Perjalanan ini dimulai gara-gara hasutan Dini akan tiket pesawat promo Air Asia Bangkok-Macau sekitar bulan Maret 2013. "Nggak lah Din, kayaknya bagusan Hongkong juga ya," tolakku karena tidak mau di cap gadis pembolang yang suka menghamburkan uang, apalagi saat itu aku baru saja dari Kamboja. "Kita emang ke Hongkong juga El , bisa naik kapal kesana kok," hasutnya. Really? Secepat itu aku berubah pikiran dan akhirnya mengikuti ajakan sesat Dini untuk membeli tiket pesawat Bangkok-Macau PP sekitar 3000 Baht (sekitar 1 juta rupiah). Plus orang Indonesia bebas visa ke dua negara ini: Macau dan Hongkong.

Perjalanan sesat itu dilakukan tanggal 1-4 September 2013. Dini juga berhasil menghasut Sani, Zjahra, dan Bang Asrul untuk ikut. Pemilihan tanggal yang 'baik' sekali, mengingat Dini dan Zjahra memang sudah lulus pada tanggal itu. Sedangkan aku, Sani, dan Bang Asrul masih harus kuliah. Untungnya saat itu advisorku sedang pulang kampung untuk merayakan Idul Fitri. Jadi aku bisa bernafas sedikit lega untuk tidak 'menghadap' pada tanggal itu.

Seperti biasanya, aku didapuk menjadi tur leader dadakan. Persoalan itenari, aku hanya berbekal pada aplikasi Trip Advisor dan tidak menyusunnya dengan matang. Hal yang paling penting adalah melakukan penghematan. Akhirnya kupilih penginapan yang paling murah di Hongkong dan tidak memesan penginapan saat di Macau. Aku juga berpesan kepada yang lain untuk membawa bekal makanan paling tidak 3 bungkus mi untuk tiap sarapan selama tiga hari.

Tanggal 1 September jam 7 pagi kami berlima sudah bersiap menuju bandara. Sedihnya lagi aku harus membayar sekitar 900 Baht untuk keluar dari Thailand demi memperpanjang visa yang hanya single entry. Pesawat lepas landas dari Don Muang Bangkok sekitar pukul 10:00 dan sampai di bandara Macau sekitar pukul 14:00 waktu Macau. Macau dan Bangkok memiliki perbedaan waktu lebih cepat dari satu jam.

Menunggu di bandara Don Mueang (credit: Sani).
Itu adalah kali pertama kami menginjakkan kaki di Macau. Tulisan pertama yang terlihat adalah "Aeroporto Internacional de Macau cacing cacing". Seperti orang desa yang baru pertama kali ke kota, kami foto-foto bandara dan di depan pesawat Thai Air Asia. Sampai akhirnya petugas bandara Macau mengusir kami. Parah. Foto tak berhenti disana saja, didalam bandara sebelum ke imigrasi pun kami menyempatkan foto dengan banner bertuliskan "Welcome to Macau". Paling kalau ada orang Indonesia lain mikirnya 'Ih dasar TKI baru, foto dimana-mana' lalu mereka macak bukan orang Indonesia.

Hello Macau.

Foto di parkiran pesawat (credit: Bang Asrul).

Setelah tersesat dan beretemu dengan beberapa orang Indonesia berwajah Tiongkok, dia menyarankan transportasi bis dan menukar uang kertas dengan receh. Kami menukarkan sedikit dollar hongkong ke uang receh Macau yaitu Pataca yang digunakan untuk menaiki bis. Tarif bis bervariatif tergantung dari jarak dan cara pembayarannya dengan menggunakan uang receh yang dimasukkan ke kotak disamping supir. Tujuan kami selanjutnya yaitu ke pelabuhan Macau dan menaiki kapal Feri ke Hongkong. Naik bis pun rempong dan harus tanya sana sini dimana letak pelabuhan. Alhasil pelabuhan terlewati sekitar 500 meter dan kami baru sadar setelah melihat peta.

Penampakan luar bandara Macau.

Tersesat saat itu tidak menjadi masalah karena kami masih bersemangat menenteng tas ransel sambil menikmati jalanan Macau. Macau merupakan daerah administrasi instimewa milik China. Macau merupakan pulau yang terletak 64 km dari barat laut Hongkong. Negara istimewa ini terkenal sebagai daerah dengan populasi terpadat yaitu 624.000 penduduk di area  31.3 km persegi (wikipedia banget). Awalnya Macau disewa oleh Portugis sebagai pusat perdagangan sejak tahun 1557 lalu diberikan kembali ke China pada tahun 1999. Tak heran bahasa Portugis merupakan bahasa utama setelah bahasa China Kanton. 50% pendapatan Macau dudapatkan dari wisata judi.

Pemandangan Macau dari dalam bis.

Jalanan ke pelabuhan Macau sepi di siang hari. Hanya ada kami berlima dan orang yang bisa dihitung dengan jari. Hal ini tidak sesuai dengan gelarnya sebagai daerah terpadat. Mungkin aku saat itu berada di daerah "gedung tinggi" dan bukan pemukiman. Kebanyakan gedung tinggi itu adalah tempat karaoke, hotel, dan tempat judi yang terlihat dari plangnya. Sepertinya daerah tersebut akan ramai pada malam hari.

Kesasar (credit: Dini).

Pedestrian Macau yang sepi.

Setelah berjalan sekitar 15 menit sembari foto-foto, akhirnya kami sampai di pelabuhan Macau dan membeli tiket ke Hongkong. Harga tiket ferry Macau-Hongkong adalah 161 Dollar Hongkong. Ternyata di Macau kita bisa membayar menggunakan Pataca atau dollar Hongkong dimana nilai tukarnya 1 Pataca=1 Dollar Hongkong. Sebelum menaiki ferry, kami harus ke imigrasi Macau sebagai tanda bukti telah keluar dari negara ini. Oh ya di Macau dan Hongkong tidak menggunakan cap paspor tapi menggunakan kertas kecil yang diselipkan di paspor. Setelah melewati imigrasi, kami harus cek in dan memasuki ruang tunggu layaknya di bandara.

Pintu gerbang pelabuhan (credit: Dini).

Tiket Macau-Hongkong (credit: Dini).

Itu adalah kali pertama aku menaiki kapal ferry cepat yang wah. Meski kelas ekonomi, aku bisa duduk dengan nyaman di ruangan ber AC sambil nonton TV. Goncangan hanya terasa saat ferry akan berangkat atau berlabuh. Selebihnya aku bisa tidur nyenyak meski kulihat gelombang menghantam kaca kapal. Jarak Macau-Hongkong 64 km ditempuh dalam waktu sekitar 1,5 jam tanpa mabuk. Bandingkan dengan ferry tujuan Jepara-Karimun Jawa yang harus ditempuh selama 5 jam sambil mabuk padahal jaraknya hanya 86 km. Luar biasa! Ada harga, ada rupa.

Bagian dalam ferry cepat (credit: Dini).

Suasana di ferry cepat.

Then, welcome to Hongkong. Negeri ribuan TKI!
Read More

© More Than a Choice, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena