a choice that change my life

Tampilkan postingan dengan label Cambodia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cambodia. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Mei 2013

Petualangan di Kamboja (8): Budget dan Tips ke Kamboja

Setiap perjalanan mbolangku pasti kulengkapi budget dan tips di akhir rentetan tulisan. Mungkin saja ini berguna bagi para pembolang lain, terutama yang akan ke Kamboja. Apalagi notabene nya negara ini lebih complicated daripada Indonesia. Jadi detail perjalanan harus benar-benar disiapkan.Terlebih lagi negara ini terkenal akan scam(penipuan). Berikut ini akan ku share pengalaman dan informasi travelling di Kamboja.


Budget Travelling di Kamboja

Aku ke Kamboja bersama lima orang teman dan dua hari terakhir bersama dua orang teman. Rute yang kutempuh dimulai dari Bangkok-Aranyaprathet-Poipet-Siem Reap-Phnom Penh-Sihanoukville dan pulang dengan rute yang sama. Semuanya ditempuh dalam 5 hari, empat malam, dan 3 malamnya di hotel.

Hari Pertama (Siem Reap)
Van Bangkok- Aranyaprathet = 230 Baht
Nasi goreng di 7-11= 40 Baht
Taksi Poipet-Siem Reap= 9 $
Penginapan Home Sweet Home 25$ share 5 orang = 5$
Taksi ke Tonle Sap 5$ share 6 orang= 0.8$
Wisata sedih tonle sap (kapal PP dan guide)= 25$
Tuk-tuk PP pasar malam-hotel 5$ share = 0.8$
Makan cumi goreng+nasi di pasar malam= 4$
Oleh-oleh kartu pos (isi 10)= 1$
Total= 54.56 $

Hari Kedua (Siem Reap-Phnom Penh)
Tuk-tuk Angkor Wat 15$ share= 3$
Tiket masuk Angkor Wat= 20$ untuk seharian
Makan siang KFC= 3$
Van Siem Reap-Phnom Penh= 12$
Tuk-tuk terminal-hotel 5$ share 6 orang= 0.8$
Penginapan Velkommen Guesthouse 35$ share 5 orang= 7$
Makan mi instant (mama) rasa tom yam= 0.6$
Souvenir kaos Cambodia= 2$
Total= 48.4 $

Hari Ketiga (Phnom Penh-Sihanoukville)
Tuk-Tuk seharian 23$ share 6 orang= 3.8 $
Makan di KFC= 3$
Tiket masuk Grand Palace= 7$
Tiket masuk Cheung Ek= 2$
Bis Phnom Penh-Sihanoukville= 9$
Tuk-tuk terminal-hotel 4$ share 3 orang= 1.3$
Penginapan Malibu Bungalow= 15$
Tuk-tuk keliling Sihanoukville 7$ share 3orang= 2.3$
Makan di restoran 1 piring udang+3 nasi putih+air putih 6$ share 3 orang= 2$
Total=45.4 $

Hari Keempat (Sihanoukville)
Makan siang= 2$
Tuk-tuk =1.5$
Makan mi instant= 1 $
Bis Sihanoukville-Bangkok= 23$
Total= 27.5 $

Hari Kelima (Perjalanan)
Sarapan mi instant= 1$
Taksi Khaosan Road-Victory monument 150 Baht share 3 orang= 50 Baht
Van Victory Monument-Rangsit= 30 Baht
Total= 3.5$

Total keseluruhan= 179.36 $

Yah itu nominalnya memang sedikit tapi itu dollar (T_T). Lumayan habis banyak juga.

Tips Menghindari Scam (Penipuan)


1. Daerah yang rentan scam adalah perbatasan. Hindari orang yang tiba-tiba baik, berbahasa Inggris, dan menguntit terus. Jika kalian berangkat dari Aranyaprathet, pos imigrasi Poipet sekitar 50 meter. Tinggal berjalan lurus melewati jembatan dan pos imigrasi Poipet Kamboja berada di sebelah kiri. Siapkan bolpen. Lalu jalan saja terus sekitar 5 meter ada shuttle bus gratis ke terminal. Sedangkan dari arah Poipet ke Aranyaprathet: jalan ke sebelah kanan untuk keluar dari perbatasan Kamboja. Lalu melewati jembatan, jalan disebelah kiri, disana sudah ada pos imigrasi Thailand.

2. Simpan baik-baik semua bukti pembayaran karena ada kejadian turis membayar lagi uang bis karena menghilangkan tanda 'isolasi' yang diberikan oleh agent travel.

3. Siapkan semua peta lokasi yang dituju, ini sangat berguna saat menawar harga tuk-tuk. Biasanya mereka mematok harga yang tinggi jika kita tidak tahu seberapa jauh jaraknya. Minimal harga tuk-tuk sekali naik adalah 2$. Tanya harga tuk-tuk sebelum naik dan jika ada tempat diluar kesepakatan silahkan tanya kembali berapa harganya.

4. Booking hotel sebelum datang karena kita akan disesatkan supir taksi ke hotel mahal jika kita belum booking. pengalaman Bapak Austria, dia harus membayar sekitar 15$-25$ per malam untuk hotel yang biasa saja.

5. Jangan memberi uang kepada anak kecil! Entah itu anak kecil membawa selebaran "help me" maupun anak kecil yang meminta langsung. Tradisi itu tak boleh dilestarikan.

6. Jangan membeli bantuan di toko yang disarankan oleh "tuk-tuk/taksi/kapal/guide" dengan harga selangit. Jika ingin berpartisipasi memberi bantuan untuk warga Kamboja bisa melalui organisasi internasional, silakan dicari  websitenya :) ada yang menawarkan program mengajar atau bantuan langsung.

7. Berhati-hatilah dengan orang yang tertarik dengan Anda dan menawarkan mampir ke rumah dengan alasan ingin mempelajari Bahasa Inggris dan tradisi karena ada kasus perampokan modus seperti ini.

8. Jangan percaya pada informasi yang berasal dari satu orang. Silahkan cross check dengan orang lain: pemilik hotel, pemilik travel, supir taksi, supir tuk-tuk, dan penjual di toko.

9. Jika hanya memiliki waktu terbatas, misal: keliling Vietnam-Kamboja-Thailand-Malaysia-Singapore. Saya sarankan hanya mampir di Siem Reap ketimbang Phnom Penh.

10. Pada dasarnya semua manusia normal itu baik jika kita juga bersikap baik. Jadi, jaga sikap =D

Happy Travelling in Cambodia!

Read More

Petualangan di Kamboja (7): Bersantai (Tak Tenang) di Sihanoukville

Sihanoukville merupakan kota di selatan Kamboja. Menurut orang Kamboja, inilah kota terbaik untuk destinasi wisata alam. Bisa dibilang inilah propinsi atau kota terbaik di Kamboja dalam hal alamnya. Sihanoukville berada di pesisir namun juga memiliki daerah pegunungan yang subur didekatnya. Pemandangan yang kulihat juga berbeda dengan sebelumnya, indikatornya adalah sapi, disana sapinya gendut-gendut yang menandakan daerah tersebut subur.


Kami enam orang pembolang dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama, Kak Lila, Putri, dan Odi melanjutkan perjalanan kembali ke Thailand malam itu (13 April 2013). Sedangkan kelompok kedua: aku, Zjahra dan Dini melanjutkan perjalanan ke Sihanoukville. Kami bertiga naik bis ke Sihanoukville karena trauma dengan van tagada dari Siem Reap ke Phnom Penh. Ternyata bisnya sama saja, ACnya tak berfungsi dengan benar dan goyangnya tak hanya ke depan-belakang (tergantung laju kendaraan), atas-bawah (tergantung jendulan), tapi juga goyang ke kanan-kiri. Jadi kayak naik kapal karena goyang kanan-kiri, tapi sebenarnya naik bis. Perjalanan sekitar 5 jam dari Phnom Penh ke Sihanoukville.

Strategi wisataku di Kamboja: sejarah, urban, dan alam. Wisata sejarah di Siem Reap, mengintari Angkor Wat yang sebesar itu (http://elitachoice.blogspot.com/2013/04/petualangan-di-kamboja-3-angkor-bekas.html ). Wisata urban di Phnom Penh ( http://elitachoice.blogspot.com/2013/04/petualangan-di-kamboja-5-mengupas.html ). Akhirnya wisata alam yaitu pantai di Sihanoukville. Wisata yang tidak terencana adalah wisata sedih di Tonle Sap -_- (http://elitachoice.blogspot.com/2013/04/petualangan-di-kamboja-2-wisata-sedih.html ). Berdasarkan strategi ini, aku memutuskan untuk menyewa penginapan yang agak mahal di hari terakhir. Pilihanku jatuh ke Malibu Bungalow.



Malibu Bungalow memiliki konsep bungalow ala rumah tradisional Kamboja yaitu rumah susun yang terbuat dari kayu. Letak bungalow ini berada di tebing yang menghadap pantai. Bungalow yang kami pesan tanpa menggunakan AC, namun didalamnya tersedia TV kabel berukuran lebar, kulkas, dua kasur (double dan single), dan sebagainya. Baru datang saja sudah disediakan welcome drink. Jadi serasa menjadi orang kaya sehari. Setelah itu bokek >_<.

Rencananya kami akan melanjutkan perjalanan dari Sihanoukville ke perbatasan Kamboja-Thailand: Koh Kong-Trang, yang berdekatan dengan Koh Chang. Jalur ini lebih cepat daripada menempuh perbatasan Poipet-Aranyaprathet yang mengharuskan kembali lewat Phnom Penh dan Siem Reap. Apesnya pemilik hotel Malibu Bungalow mengatakan "No transportation for tomorrow because it is holiday," ujarnya. Keringat dingin sudah menetes, kami benar-benar khawatir akan keberadaan kami di Kamboja. Udah uang tinggal sekitar 30 dollar dan bagaimana nasib kuliah kami. Apalagi kalau menunggu hari libur Khmer bisa-bisa kami harus tinggal disana dua hari lagi.

Muka kami semakin pucat dan mendadak demam manakala sang pemilik hotel telpon kesana-kemari untuk mencarikan transportasi Sihanoukville-Bangkok tapi hasilnya nihil. Akhirnya kami memutuskan untuk naik tuk-tuk ke pusat kota. Hwaa,,, paling ga seneng kalau naik tuk-tuk mesti bayarnya mahal. Pak tuk-tuk minta harga 5$ untuk satu tempat dan 7$ untuk muter-muter. Bayangin jaraknya cuma 2-5 km bayarnya 7$?? Lha naik taksi di Bangkok atau Surabaya aja jaraknya yang lebih jauh aja bayarnya cuma 5$.

Setelah bergalau-galau ke beberapa travel agent, kami menemukan travel yang menyediakan tiket Sihanoukville-Bangkok untuk besok. Rasanya seperti mendapat angin segar. Tapi apesnya jalur transportasinya: sihanoukville-Phnom Penh-Siem Reap-Poipet-Aranyaprathet-Bangkok. Astaga sama mbuletnya, balik kucing lagi seperti perjalananku sebelumnya.

Keuangan yang semakin menipis membuat kami membeli  satu menu: udang dan nasi,ditambah nasi dua piringlagi. Kebacut ga sihh? Sama kayak beli penyetan sebungkus nambah dua bungkus nasi lalu dimakan bertiga. Namun apa daya keuangan terbatas apalagi  harga 1 porsi sekitar 3 dollar. Bisa bokek bro. Not too bad lah makan cara ini, apalagi seporsi berisi 4 udang bakar. Lumayan 1 anak dapat 1 1/3 jatah udang dimakan dengan sepiring nasi. "Ayo segera menyingkir dari tempat ini, tuh pelayannya udah bisik-bisik, kayaknya ngerasani kita,"ungkap dini. "Wah iyo ta? Ayo dibayar," ujarku sambil siap-siap take away botol air putih yang masih sisa (maklum penghematan). Namun ternyata saat Zjahrah selesai membayar, dia menceritakan pelayannya malah tanya "I love you dalam bahasa arab apa?" ehh buset, kami juga ga ngerti. Zjahrah menjelaskan kalau kami orang Indonesia. Lalu mengartikan I love you dalam bahasa Indonesia. "Ohh berarti tadi pelayannya ngerasani karena kita cantik,"ujar Dini PD. Hhee,,,kalau menurutku sih pasti mereka penasaran asal kita darimana karena kita berwajah Asia Tenggara tapi memakai kerudung dan berbahasa Inggris, dan kere. Seringkali mereka terkecoh dengan penampilan kami. Kebanyakan menebak asal kami dari Thailand Selatan bahkan Filipina. Padahal Indonesia >_< mungkin ini gara-gara publikasi wisata Indonesia yang menonjolkan suku pedalam yang memakai ... ahh sudahlah.

Malam itu kami tertidur lelap di kasur empuk sambil menonton TV kabel berbahasa Inggris. Pagi hari kami langsung menuju pantai yang dimiliki Malibu Bungalow. Mandi adalah nomer sekian setelah bermain di pantai.

Kami juga menyelinap teranr-terangan ke pantai Sokha disebelah yang sebenarnya milik Sokha Hotel Resort. Namun saat security menegur kami dengan bahasa Kamboja, kami hanya bengong dan bicara bahasa Inggris. Akhirnya security nya membiarkan kami bermain di pantai yang tenang, bersih, sepi, dan berpasir putih ini. Aku sempat mengecek harga kamar di hotel ini, paling murah 125$. Bujubune... untung bisa menyelinap.






Enak-enak mainan pasir bikin candi borobudur, ehh tiba-tiba hujan deras. Kontan kami berlari kembali ke Malibu Bungalow. Sekalian saja kami sarapan, mumpung melewati 'restoran mungil' Malibu Bungalow yang menghadap ke pantai. Untung saja kami tak perlu membayar untuk sarapan. Menu yang ditawarkan untuk sarapan  pun bervariasi tak seperti di hostel yang sekedar roti dan teh. Disini kita bisa menikmati roti panggang dengan berbagai macam selai, kentang goreng, telur mata sapi, buah-buahan, es lemon, kopi, dan susu. Pokoknya komplet dan kenyang.


Kami menanti hujan reda di dalam bungalow sambil menyaksikan acara di TV kabel. Lalu checkout sekitar jam 12. Kami berencana hengkang dari Malibu Bungalow sekitar jam 3 sore ke daerah kota untuk menanti bis ke Bangkok yang berangkat jam 7 malam. Banyak kejadian lucu nan ngeselin selang penantian bis:

1. Letak Malibu Bungalow yang berada di atas bukit membuat kami penasaran untuk menjelajah sisi bukit satunya dan menemukan Serenditpity Beach (menurut peta). Tengah perjalanan, ada bangunan yang memiliki anjing dan pagarnya dibuka. Anjingnya tiba-tiba menggonggong kencang saat kami lewat."Anjing menggonggong, khafilah berlalu" kata pepatah, iya kalau anjingnya dirantai, ini anjingnya berkeliaran bebas. Kontan saja kami bertiga yang memang takut anjing langsung lari terbirit-birit sambil jerit-jerit ke arah teras salah satu bule yang asyik baca koran di Malibu Bungalow.

2. Kami naik tuk-tuk menuju travel agent untuk menunggu bis, dan membayar skitar 5$. Saat turun kami baru sadar sebenarnya travel agent ini berada dibalik bukit sisi lainnya dari Malibu Bungalow. Andaikan kami tidak dikejar anjing, jalan kaki kesini hanya memakan waktu 5 menit menuruni bukit. Aseem.

Trotoar di tengah jalan -_-"

3. Sembari menunggu bis, kami mencari spot menarik di Sihanoukville. Disana tertulis Golden Lion Plaza. Sudah kubayangkan mall yang lebih kecil dari Tunjungan Plaza. Ehh ekspektasiku salah. Golden Lion Plaza adalah kumpulan bar yang seperti ruko rumah kecil. Kuciing.

Penduduk lokal dan anjingnya.

Sore hari dihabiskan berjalan-jalan di Serendipity Beach yang sangat ramai. Niat mau melihat sunset tak terlaksana karena pergantian sore ke malam hanya ditandai dengan kegelapan alias tanpa semburat oranye matahari. Tiba-tiba gelap!

Setelah jam 7 malam, kami diantar tuk-tuk travel ke perempatan berbarengan dengan orang Austria. "When the bus will come?" tanya kami. "5 minutes," jawab supir tuk-tuk. Belakangan dia menurunkan lagi penumpang lain dan menjawab hal yang sama. Oalah,,, semua 5menit pada kenyataanya kami berempat (aku, Zjahrah, Dini, dan Paman Austria) menunggu sekitar 45 menit untuk bis tujuan Thailand.

Narsis didalam bis malam.

Travel agent mengatakan perjalanan Sihanoukville-Bangkok sekitar 14-15 jam. Salah besar! Perjalanan Sihanoukville-Bangkok adalah 24 jam. Inilah perjalanan terpanjang sepanjang hayatku. Kami menaiki bis malam Sihanoukville-Siem Reap. Ini adalah pertama kalinya aku menaiki bis malam yang benar-benar bis malam yaitu ada tempat tidurnya berbentuk matras, lengkap dengan selimut. Rute bis ini Sihanoukville- Phnom Penh-Siem Reap ditempuh selama 12 jam lengkap dengan ngedon dan perjalanannya. Kami diturunkan di Siem Reap dan ganti dengan bisa biasa. Namun bis pertama yang datang sudah penuh dan kami harus menunggu bis kedua. Kami baru sampai di perbatasan sekitar jam 11 siang. Ngantri di perbatasan sampai jam 1 siang. Sekitar jam 1 lebih, van yang berangkat ke Bangkok baru berangkat. Van ini berhenti di Khaosan Road sekitar jam 6 sore. Lalu kami naik taksi ke Victory Monument untuk oper van ke Rangsit. Sampai di asrama jam 8 malam. Jadi, aku naik tuk-tuk-bis malam-bis-van-taksi-van dari jam 7 malam sampai jam 8 malam esoknya. Satu kata: teler!
Read More

Jumat, 26 April 2013

Petualangan di Kamboja (6): Museum Genocide di Choeung Ek, Mengerikan!

Musem Genocide atau Killing Field ini terletak 15 km dari kota Phnom Penh. Sumpah ini adalah museum horor yang pertama kali kukunjungi. Bahkan saat aku menulis posting ini tengah malam sambil menggali informasi dan mencari foto dokumentasi tentang Museum ini, aku merinding sendiri. Apalagi tengkorak manusia masih kerap ditemukan setelah hujan. Museum ini juga tergolong baru karena diresmikan sekitar tahun 2005. Korban yang dibunuh disini antara 1975-1979.


Sejarah Kamboja Saat Rezim Pol Pot


Sejarah sedih rakyat Kamboja dimulai sejak adanya kekuasaan komunis dari Pol Pot. Penguasa kejam ini berkuasa tahun 1975-1979 dan membunuh 25% dari populasi Cambodian (orang Kamboja) yaitu sekitar 2 juta orang.

Pol Pot lahir pada tahun 1925 dari keluarga petani di Kamboja Tengah. Pada umur 20 tahun, dia mendapat beasiswa untuk sekolah di Paris jurusan radio elektronika. Lalu dia bergabung dengan paham Marxisme atau komunis sehingga dia gagal dan dikembalikan ke Kamboja. Saat itu, Kamboja telah memperoleh kemerdekaan yang diberikan oleh Prancis. Tahun 1962, Pol Pot menjadi ketua Partai Komunis Kamboja dan melarikan diri ke hutan karena diancam oleh Raja Kamboja- Norodom Sihanouk. Lalu dia menyusun kekuatan untuk menghancurkan pemerintahan Sihanouk.


Tahun 1970, Raja Sihanouk malah dihancurkan oleh kemiliteran US (United States/Amerika Serikat) dimana saat itu US juga menguasai Vietnam. Hal itu membuat Raja Sihanouk bersekutu dengan Pol Pot untuk menghancurkan kekuasaan US. Pada saat yang sama, US melancarkan serangan bom ke Vietnam. Masyarakat Vietnam utara memilih bergabung dengan Pol Pot dan menetap di Kamboja.

Tahun 1975, US menarik pasukan dari Vietnam. Pemerintahan Kamboja sudah kehilangan kekuasaan karena korupsi dan dukungan. Kesempatan ini dimanfaatkan Pol Pot untuk menginvasi Phnom Penh dan mengambil alih kekuasaan.

Disinilah rezim Pol Pot yang radikal dimulai. Dia mengaplikasikan Revolusi Mao Zedong dari Komunis China untuk mendirikan negara agraris. "Great Leap Forward" ekonomi milik Mao dilakukan oleh Pol Pot termasuk membersihkan "musuh atau pemberontak" yang tidak menyetujui idenya. Pol Pot juga mengganti nama Kerajaan Kamboja menjadi Republik Demokrasi Kamboja. Dia menyatakan tahun awal kekuasaanya sebagai "Tahun Nol" dan "memurnikan" masyarakat. Pol Pot menghapus segala bentuk kapitalisme, budaya barat, kehidupan kota, agama dan pengaruh asing lalu memasukkan doktrin komunis ektrim.


Semua orang asing diusir, kedutaan besar ditutup, penggunaan bahasa asing dilarang, segala media ditutup, agama dilarang, pendidikan dihentikan, perawatan kesehatan dicabut. Kamboja tertutup dari dunia luar. Bahkan di Phnom Penh dua juta penduduk dievakuasi dibawah todongan senjata dan berjalan kaki ke pedesaan. Semua orang dievakuasi paksa untuk kerja rodi di pertanian. Mereka diminta meningkatkan hasil pertanian tiga kali lipat.

Jutaan orang Kamboja mulai sekarat dengan ulah Pol Pot. Mereka juga hanya diberi makan sekaleng beras (180 gr) per orang setiap dua hari. Hari kerja dimulai 04.00 sampai 10 malam. Semuanya diawasi oleh pengawas bersenjata Pol Pot dan mereka membunuh siapapun yang melakukan pelanggaran.

Di seluruh Kamboja dilakukan "pembersihan" terhadap orang berpendidikan, orang kaya, biksu, polisi, dokter, pengacara, guru, dan pejabat besrta keluarga mereka. Termasuk pendukung Pol Pot yang dicurigai membangkang juga dibunuh. Slogannya " Semua yang busuk harus dihilangkan".

Tuol Sleng, sekolah yang diubah menjadi penjara juga merupakan saksi dimana lebih dari 20.000 orang disiksa bahkan langsung dibunuh tanpa ditanya. Kelompok minoritas: Vietnam, China, dan Muslim juga diserang. Diperkirakan 50% orang China yang tinggal di kamboja tewas. Bahkan kaum muslim dipaksa memakan babi, siapapun yang menolak langsung tewas.

Tahun 1978, Vietnam meluncurkan serangan besara-besaran ke Kamboja untuk mempertahankan perbatasan mereka. Phnom Penh jatuh ke tangan pembelot Pol Pot. Pol Pot mundur sampai perbatasan Thailand dan bergerilya melawan pemerintahan Kamboja. Setelah bergerilya selama 17 tahun sampai 1990, dia kehilangan kekuasaan. tahun 1998, Pol Pot meninggal akibat serangan jantung sebelum dibawa ke pengadilan internasional. (sumber: http://www.historyplace.com/worldhistory/genocide/pol-pot.htm)

Choeung Ek, Tempat Pembantaian Massal


Mengunjungi museum ini, kita seolah menjadi saksi hidup pembantaian masa lampau. apalagi tempat dimana museum tersebut berdiri adalah tempat pembunuhan yang sesungguhnya. Museum ini hanya berupa tempat terbuka dengan tulisan alur 1-16 (aku lupa karena aku tidak membeli paket audio) dan dilengkapi dengan audio di setiap titiknya. Pengunjung serasa akan menjadi korban pembunuhan. Berikut ini tulisan di papan yang tertampang.

1. Masa-masa hukuman kegelapan. Disinilah tempat korban dari penjara Tuol Sleng tiba. Mereka diangkut dengan truk dan dieksekusi secepatnya setelah truk itu tiba. Angka orang yang di eksekusi semakin meningkat mencapai 300 orang per hari. Eksekutor yang gagal membunuh akan dibunuh di hari berikutnya. Mereka dibunuh dengan hukum pancung di ruang gelap bahkan sesama korban tidak bisa saling melihat.


Membaca ini saja sudah membuatku merinding. Apalagi kalau membayangkan disinilah dulu truknya berhenti.

2. Kantor Eksekutor (pembunuh). Disinilah berdiri kantor eksekutor. Mereka dilengkapi dengan peralatan elektronik untuk membaca tanda dan melangsungkan eksekusi.


Tambah merinding, untung saja aku tidak memesan paket audio. Apalagi saat kulihat di museumnya, setiap korban yang akan dibunuh dicatat dan catatanya masih ada hingga sekarang.

3. Tempat penyimpanan zat kimia. Disinilah tempat penyimpanan zat kimia seperti DDT dsb. Eksekutors melumurkan zat ini ke mayat untuk menghilangkan bau mayat dan juga membunuh apabila mayat tersebut masih hidup saat dikubur.


Jadi pembunuhan ini dilakukan secara rahasia saat rezim Pol Pot. Menakutkan juga tiba-tiba seperempat penduduknya hilang. Tapi tak ada yang menuntut, hal ini karena jika membunuh satu, maka satu keluarga juga dibunuh termasuk anak dan istrinya.

4. Konservasi Kanal. Kanal ini dibangun untuk melindungi kuburan dari banjir yang menyebabkan mayatnya keluar.

Kanal tersebut juga digunakan sebagai pembunuhan, langsung ditenggelamkan ek dalam kanal. Disekitar kanal terdapat tebu yang juga digunakan untuk membunuh.

5. Pohon Ajaib. Pohon ini digunakan untuk menggantungkan sound system. Bunyi lagu disetel keras untuk mengalahkan bunyi orang yang menjerit.


Horor banget!!Apalagi kalau lihat pohon itu masih berdiri kokoh.

6. Pohon Beracun

Entah apanya yang digunakan untuk membunuh, yang jelas menakutkan juga.

7. Pohon untuk Menggantung. Di sinilah kaki bayi digantung di dahan pohon lalu kepalanya dipukul sampai mati.

Spechless. Bahkan di audio di katakan jika memperhatikan pohon dengan lebih jelas, maka ditemukan bekas darah.

8. Tengkorak dan Gigi. Meski sudah dilakukan penggalian pada tahun 1980. Sampai saat ini masih ada tengkorak yang muncul ke permukaan terutama setelah banjir dan hujan.


9. Kuburan 166 tengkorak tanpa kepala

10. Kuburan bayi dan perempuan yang ditemukan telanjang.

11. Mohon tenang dan hormati korban yang terbunuh selama Rezim Pol Pot.

Pemberhentian terakhir adalah menara tengkorak. Menara ini digunakan untuk menghormati korban,didalamnya berisi tengkorak kepala yang telah diidentifikasi dan diawetkan. Sekian, aku sudah tak mampu menulis banyak karena ngeri. Silahkan datang sendiri ke lokasi.

(masih ngeri sendirian di kamar).


Read More

Petualangan di Kamboja (5): Mengupas Kehidupan Cambodian di Phnom Penh

Pertanyaan besar tentang kehidupan di Kamboja (http://elitachoice.blogspot.com/2013/04/petualangan-di-kamboja-1-sekedar-review.html) membuatku berpikir pasti ada sesuatu yang buruk menimpa negara ini. Ternyata itu memang benar adanya. Pertanyaan itu terjawab saat aku mengunjungi Phnom Penh, terutama di Museum Genocide, Choeung Ek. Ini adalah pengalaman pertamaku berwisata menakutkan dan mendapat banyak hikmah.

Royal palace (Throne Hall) di Kamboja.

Kami berangkat menuju Phnom Penh- ibukota Kamboja dari Siem Reap. Kami naik van dan menempuh perjalanan selama enam jam. Ini travelnya agak nggapleki juga. Kita cewek-cewek pembolang, diberi tempat duduk paling tidak enak se-van yaitu bagian belakang. Bayangkan udah kursinya tidak bisa diatur maju-mundur, pijakan kaki ketinggian (kakiku ga nyampe dasar), duduk harus menekuk, pas diatas ban, yang paling parah adalah jalan di Kamboja bolong-bolong (mirip jalan Romokalisari Gresik-Surabaya sebelum direnovasi). Sumpah duduk di belakang itu kayak main Tagada selama enam jam. Tahu kan permainan Tagada? yang kita duduk di piringan yang berputar, di goyang atas-bawah, diputar-putar dengan kemiringan tertentu. Mirip wes! Bedanya di Tagada sungguhan diputer lagu goyang disko, lha di 'Tagada van' diputer lagu melow Kamboja. Jadi kami di ayak (memilih beras dengan cara melempar dengan tempeh) di van sambil ditemani lagu slow. 

Separah apa 'Tagada' di dalam van? Putri yang terhitung tinggi sampai kejedok atap mobil van kalau ada lubang atau jendulan, sedangkan aku selalu ketatap jendela berkali-kali. Kerudung sudah tak karu-karuan, makanan didalam perut serasa mau keluar, kadang kami berempat (aku, Kak Lila, Dini, Putri) tindih-tindihan setelah terlempar, dan itu terjadi selama enam jam (backsound: jeng jeng). Apa yang bisa kami lakukan? Pasrah, berdoa, dan sambil sesekali mengumpat jalanan dan sopir Kamboja. Ternyata doa kami ada yang langsung di kabulkan yaitu bermain 'Tagada' dengan diiringi lagu disko. Entah kesambet setan apa, sopir van tiba-tiba mengganti lagu melow Kamboja dengan lagu disko macam Pitbull, PSY, dan sebagainya. Jadilah kami berempat bule gila didalam van: Clubbing gratisan di dalam van. Kepala goyang-goyang, tangan melambai kekiri dan ke kanan. Malah seneng kalau ada jendulan atau lubang, tangan diangkat ke atas macam naik roller coaster (backsound: ...dancing on the floor.on the floor...) Yihaa!

Odi & Aku di pasar malam Phnom Penh (Bukan skandal,karena tak nemu foto lain). Taken by: kak Lila.

Akhirnya van laknat itu sampai juga di Phnom Penh. Keluar dari van rasanya pusing dan masih goyang-goyang akibat efek Tagada. Lalu kami menuju penginapan Velkommen Guesthouse dengan van. Ternyata sampai sana, Odi tidak kebagian kamar dan menginap di kamar mix-dormitory alias campur cewek dan cowok. Memang kamar jenis seperti itu sudah biasa untuk pelancong dengan budget terbatas. "Tahu gitu, aku nginep di kamar kalian aja," ungkap Odi karena sebenarnya kamar besar yang kita tempati tersedia untuk enam orang. Tapi aku menolak (yang lain setuju kalau Odi nginep), kenapa? untuk pengalaman :p . Maaf ya di, aku jahat. Kan ikutnya ndadak, lagipula aku juga pernah nginep di hostel macam mix-dormitory, untungnya saat itu cewek semua. Aku sebenarnya malah seneng nginep di dormitory (female) karena aku bisa berkenalan dengan para pelancong lain. Perasaan kalau jalan-jalan sendirian aku selalu nginep di dormitory, mulai dari Singapore- Kuala Lumpur-Penang-Pattaya, aku lebih memilih kamar jenis ini. Siapa tahu dapet sahabat baru untuk mbolang [pengalaman:http://elitachoice.blogspot.com/2013/03/cerita-mudik-iv-penang-heritage-town.html ] :)

Pemandangan di pinggiran sungai. taken by: Kak Lila.

Kami keluar malam hari menuju Pasar Malam menyusuri pinggiran sungai dari danau Tonle Sap yang nantinya akan menjadi satu dengan Sungai Mehkong. Malam itu sebenarnya malam pergantian tahun di Kaboja. Tapi krik krik krik.. Sepi. Bahkan pasar malamnya juga sepi. Namun sebagai bangsa Indonesia yang tinggal di Thailand, kami pasti belanja. Aku juga belanja kaos 2$, lumayan murah dengan kualitas yang bagus. Tempat dinner kami: KFC, ternyata sudah tutup. Jadilah aku beli jagung rebus sambil duduk di tepian sungai. Terlihat lampu kuning yang dipasang di seberang sungai, dan beberapa gedung tinggi. Angin sepoi-sepoi. Romantis. Tiba-tiba "Pyarrr". Sekelompok pemuda gila beberapa meter dari kami, melempar botol bir ke arah sungai. Kami langsung menyingkir secara cepat dan hampir lari. Sungguh sangat disayangkan, tempat seindah itu malah menjadi tempat yang menakutkan. Perjalanan kami malam itu berakhir dengan makan mi gelas di toko kelontong.

Keesokan harinya di tanggal 14 April 2013, kami menjelajahi dua tempat: Royal Palace dan Museum Genocide. Kami juga sempat mampir ke Central Market yang sepi karena hari libur.

Royal Palace, Kamboja Juga Punya Kerajaan


Bisa dibilang ini adalah fakta yang membuatku terkejut yaitu Kamboja menganut asas monarki atau kerajaan seperti halnya Thailand. Pasalnya aku tak melihat tanda-tanda adanya raja kalau tidak berkunjung ke Royal Palace. Tak ada foto Raja Kamboja yang di agungkan seperti halnya foto Raja Thailand yang tertampang dimana-mana. Menurut opiniku, sistem kerajaan disini tidak memberi dampak yang signifikan terhadap kemakmuran penduduk.
Model: aku :p . taken by: Zjahra.
Grup photo! Kak Lila-Dini-Zjahra-Odi-Putri-Aku.

Royal Palace atau istana raja di Kamboja indah tapi sederhana. Mungkin ini gara-gara aku sudah melihat duluan Royal Palace milik Thailand yang ngejreng dan mewah, jadi Royal Palace Kamboja terlihat biasa saja. Namun tetap saja ini istana yang besar dan mewah jika di komparasikan dengan kemakmuran masyarakat Kamboja.

Silver Pagoda.

Masih ingat tentang kerajaan Angkor yang kubahas di post sebelumnya (http://elitachoice.blogspot.com/2013/04/petualangan-di-kamboja-4-sejarah-angkor.html) ? Ini adalah kerajaan yang sama, pusat kerajaan dipindahkan dari Siem Reap ke Phnom Penh. Pusat pemerintahan dipindahkans ekitar abad ke -15 setelah Siem Reap di hancurkan oleh kerajaan Siam. Sedangkan Royal Palace atau Preah Barum Reachea Veang Nei Preah Reacheanachak Kampuchea mulai dibangun pada tahun 1866.

Taman didepan Silver Pagoda.

The Royal Palace (Khmer: ព្រះបរមរាជាវាំងនៃរាជាណាចក្រកម្ពុជា, Preah Barum Reachea Veang Nei Preah Reacheanachak Kampuchea), in Phnom Penh, Cambodia, is a complex of buildings which serves as the royal residence of the king of Cambodia. Its full name in the Khmer language is Preah Barum Reachea Veang Chaktomuk Serei Mongkol (Khmer: ព្រះបរមរាជវាំងចតុមុខសិរីមង្គល). The Kings of Cambodia have occupied it since it was built in 1860's, with a period of absence when the country came into turmoil during and after the reign of the Khmer Rouge.The palace was constructed after King Norodom relocated the royal capital from Oudong to Phnom Penh in the mid-19th century. It was gradually built atop an old citadel called Banteay Kev. It faces towards the East and is situated at the Western bank of the cross division of the Tonle Sap River and the Mekong River called Chaktomuk (an allusion to Brahma). Sumber: wikipedia

Salah satu stupa di Royal Palace.

Ketara saya males banget terjemahin dari bahasa Inggris X_X. Intinya di dalam Royal Palace terdapat beberapa bangunan. Pertama, Throne Hall digunakan untuk tempat duduk raja dan didalamnya terdapat singgasana yang wah. Atapnya terdapat lukisan tentang kehidupan Kamboja dengan gaya yang sama seperti relief di Angkor wat bedanya ini berwarna. Moonlight Pavilion, digunakan untuk latihan dan pertunjukan tari. Ada juga tempat persembahyangan untuk Budha, didalamnya ada patung Budha emas seberat 90 kg. Katanya hal yang juga unik adalah Silver Pagoda. Saat kulihat biasa saja, warnanya pun tidak silver malah mendekati warna batuan tak jelas. Namun saat kucari informasi, ternyata Silver pagoda ya tempat persembahyangan tadi. Logam perak asli terdekorasi didalam bangunan dan mungkin aku tak memperhatikannya.
Gajah putih??Ini ikon Thailand apa Kamboja hayo?

Museum Genocide di Choeung Ek, Mengerikan!

Choeng Ek, Genocidal Museum.

Musem Genocide atau Killing Field ini terletak 15 km dari kota Phnom Penh. Sumpah ini adalah museum horor yang pertama kali kukunjungi. Bahkan saat aku menulis posting ini tengah malam sambil menggali informasi dan mencari foto dokumentasi tentang Museum ini, aku merinding sendiri. Museum ini juga tergolong baru karena diresmikan sekitar tahun 2005. Korban yang dibunuh disini antara 1975-1979. 

Bersambung... di episode Petualangan di Kamboja (6). Maaf ya kalau kayak sinetron (^_^)v.
Read More

Rabu, 24 April 2013

Petualangan di Kamboja (4): Sejarah Angkor, Bekas Kerajaan Terbesar di ASEAN

Menjelajahi tempat sebesar Angkor Wat membuatku bertanya seperti apa kehidupan kerajaan ini dulunya? Sekilas aku bandingkan dengan pusat kerajaan Majapahit di Mojokerto, daerahnya memang luas namun menurutku candinya sudah banyak yang hancur, beberapa yang tersisa seperti: Candi Bajang Ratu, Candi Tikus, Candi Brahu, Kolam besar dan sebagainya. Berikut ini cerita yang kutulis saat menyambangi situs Majapahit http://elitachoice.blogspot.com/2012/01/menelusuri-sejarah-majapahit-di.html . Aku berpikir seharusnya pusat Majapahit lebih indah daripada yang tersisa sekarang karena ada bukti yang menyebutkan bahwa pusat kerajaan ini sangat besar bahkan istananya dilapisi emas dan perak. Sedangkan Angko Wat, luar biasa besarnya dan nilai plusnya candinya masih utuh, meski hanya berupa batu. Seharian takkan cukup menyambangi seluruh candi di Angkor Wat. Bahkan tersedia tiket pass tiga hari untuk menjelajah Angkor Wat.

Siluet Angkor Wat.

Di sisi lain, aku juga heran kenapa candi di Angkor Wat agak mirip dengan candi di Indonesia yaitu bentuk menjulang seperti gunung. Namun bahan yang dipakai agak berbeda yaitu batu hitam, sedangkan di Indonesia menggunakan bahan yang mirip bata merah. Justru bahan ini malah mirip dengan candi di Ayutthaya Thailand. Aslinya kerajaan jaman dulu di ASEAN itu mbulet ae. Berikut ini sejarah dari kerajaan Angkor yang kutulis ulang dari buku The Siem Reap Visitor Guide.

Bagian dalam komplek Angko Wat, setelah jembatan.

Angkor artinya Ibukota atau Kota Suci. Sedangkan Khmer berarti etns dominan yang menempati Kamboja. Kerajaan Angkor pada saat itu disebut juga Khmer Empire berkuasa di abad ke 12. Diperkirakan Kerajaan Angkor ditempati oleh jutaan, hal ini dibuktikan dengan adanya sistem irigasi dan bangunan besar (candi) dan perekonomian, kemiliteran, dan budaya terlihat kental di daerah Kamboja dan juga kekuasaan Kerajaan Angkor (Thailand, Laos, dan Vietnam).

Abad Pertama: Indianisasi

ASEAN digunakan sebagai jalur perdagangan Mediterania ke China. Hal ini otomatis juga akan mempengaruhi agama, budaya, politik, dan juga edukasi. Pengaruh India yang kuat menjadikan tumbuhnya sistem kekuasaan seperti India. Sebenarnya Indonesia juga mengalami hal yang serupa, dibuktikan dengan adanya kerajaan Hindhu dan Budha yang berkembang. Kerajaan Hindu pertama adalah Kutai di Kalimantan.

Salah satu stupa yang menjulang didalam Angkor Wat.

Funan dan Chendia: Pre- Angkor

Kerajaan yang dipengaruhi oleh India, kekuasaannya tidak seberapa luas. Funan merupakan contoh kerajaan pada saat itu. Kebudayaan China juga mulai mempengaruhi wilayah tersebut. Salah satu bagian dari kerajaan Funan adalah Chendia. Lalu Chendia memberontak dan menjadi kerajaan yang berpengaruh. Raja yang berkuasa di jaman ini adalah Jayawarman I. Setelah itu Chendia terbagi menjadi dua Kerajaan yaitu Chendia darat di daerah Laos dan Chendia Air di daerah Kamboja.


Pemandangan dari puncak Angkor Wat.

Awal Kerajaan Angkor

Awal pendirian kerajaan Angkor dimulai pada masa Jayavarman II. Sebenarnya raja ini ada hubungannya dengan kerajaan di Indonesia karena Jayavarman II pernah menimba ilmu dari Indonesia, tepatnya di Pulau Jawa. Dia terpesona dengan kemakmuran pada jaman Syailendra (Kerajaan Kalingga-Mataram-Sriwijaya). Sehingga dia terinspirasi untuk membangun kerajaan yang serupa di daerah Kamboja. Sebenarnya bukti sejarah pada saat itu agak rancu. Ada yang menyebutkan bahwa raja keturunan wangsa Syailendra berasal dari Funan-Kamboja yang mengungsi karena kekacauan di negaranya. Artinya kita (bangsa Indonesia) masih memiliki silsilah dengan penduduk Kamboja. Namun fakta lain  menyebutkan bahwa wangsa Syailendra sudah ada turun-temurun dan bermukim di daerah Sumatra sejak jaman lampau.

Lantas bagaimana Jayavarman II bisa sampai ke pulau Jawa dan kembali lagi ke Kamboja? Kemungkinan yang paling besar adalah kerajaan Mataram yang dimotori oleh Raja Dharanidra menaklukan daerah Chendia Air (sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Wangsa_Sailendra ). Jayavarman II sebagai keturunan raja ikut dibawa ke Pulau Jawa, yang saat itu Jawa Tengah adalah pusat pemerintahan. seperti yang kita lihat, bukti keemasan era jaman itu adalah Candi Borobudur. Jayavarman besar di era kerajaan Mataram yang juga berhasil menguasai Sriwijaya. Menurut opiniku, Raja Mataram mengirim kembali Jayavarman II ke Kamboja karena daerahnya terlalu jauh. Raja Mataram ingin Jayavarman II dapat mengontrol di daerah itu.

Singkatnya Jayavarman II mengenalkan diri sebagai sosok raja tunggal pengganti Jayavarman I di daerah Chandia-Kamboja. Tak heran, dia menerapkan apa yang sudah dipelajari dari pulau Jawa: politik, seni, agama, dan arsitektur. Jadi kita boleh sedikit bangga karena bangsa lain menimba ilmu dari bangsa kita dan sedikit banyak bisa mengklaim bahwa Angkor Wat "anak" dari Borobudur (tapi bukan jenis klaim pulau-pulauan kayak Indonesia-Malaysia lho). Well,  kita bangsa ASEAN sebenarnya punya ikatan persaudaraan yang kuat.

Rolous: Ibukota Pertama

Jayavarman II melebarkan kekuasaan dan memiliki ibukota di Rolous, 13 km dari Siem Reap. Area tersebut dinamakan Hariharalaya yang menggabungkan nama dewa Hindu, Shiva dan Wisnu. 30 tahun setelah Jayavarman II meninggal, kekuasaan diteruskan oleh Indravarman I. Dia membangun candi bernama Preah Ko untuk menghormati Jayavarman II. Lalu dia juga membangun Bakong yang memiliki arsitektur seperti gunung, layaknya Borobudur. Sedangkan pada jaman Raja Indravarman III, dia membangun tempat penyimpanan air.

Terrace of elephant di Angkor Thom.

Khmer Empire di Angkor

Raja Yasovarman I, meneruskan tradisi dari ayahnya yaitu Indravarman III untuk membangun candi  di daerah Angkor. Sekitar era tersebut, daerah kekuasan semakin berkembang. Jaman keemasan terjadi saat dipimpin Raja Suryavarman I. Dia memiliki kemiliteran yang sangat kuat dan sanggup menaklukkan kerajaan Mon Empire (Thailand/Siam) yang termasuk seluruh daerah di thailand dan sebagian Myanmar, Kerajaan Champa (Vietnam). Pada jaman ini juga dibangun banyak candi, salah satunya Angkor Wat yang tersohor.

Bayon yang terletak di komplek Angkor Thom.

Sekitar akhir abad ke 12, Raja dari Champa muncul lagi dan memberontak dari dalam pemerintahan Khmer sehingga Raja Khmer bisa dibunuh. Saat itu terjadi perang di daerah Ibukota yaitu Siem Reap antara Kerajaan Khmer dan Champa. Kerajaan Champa menerima bantuan dari daerahnya lewat sungai Tonle Sap ke danau Tonle Sap dan menyerang ibukota. Bukti adanya perang digambarkan di candi Bayon yaitu adanya perang dengan kapal. Champa menang dan menguasai daerah Siem Reap selama empat tahun.

Detail ukiran candi Bayon.

Kerajaan Champa dapat dipukul mundur oleh Khmer Empire yaitu Jayavarman VII. Raja yang beraliran Budha ini membangun kembali ibukota dengan lebih baik. Pada jaman itu dibangun daerah Angkor Thom yang luas, termasuk candi Bayon (stupanya berwajah manusia), Ta phrom, Kdei, Preah Khan. Pada saat yang sama, Raja ini juga menyerang kembali kerajaan Champa dan berhasil menaklukkannya.
Ta Phrom.

Bagian dalam Ta Phrom

Ta Phrom dengan nuansa hutan.

Akhir dari Khmer Empire

Sekitar abad ke 15, Kerajaan Siam (Thailand) yang beribukota di Ayutthaya memberontak dan berhasil melepaskan diri dari kekuasaan kerajaan Khmer. Cham juga memanfaatkan kesempatan itu untuk melepaskan diri. Sejak saat itu Khmer kehilangan sebagian besar wilayahnya dan memindahkan ibukotanya ke Phnom Penh. Daerah tersebut dipilih karena faktor agraris dan memiliki pertemuan dua sungai, satu sungai mekong dan lainnya sungai dari danau Tonle Sap. Kerajaan Khmer masih ada sampai saat ini di kota Phnom Penh. Rajanya juga ada namun yang kurasakan kerajaan tidak memberi pengaruh signifikan terhadap kemakmuran Kamboja. Hal ini sangat berbeda dengan Thailand dimana Raja dielu-elukan rakyatnya.

Sekian cerita sejarah dari saya. Semoga bermanfaat :)

"Bangsa yang besar adalah bangsa yang mempelajari sejarahnya"- Ir. Soekarno
Read More

Minggu, 21 April 2013

Petualangan di Kamboja (3): Angkor, Bekas Kerajaan Terbesar di ASEAN

"How many temple in here, Bong?" tanya Dini (Bong adalah panggilan 'Pak' di Kamboja). "Many," jawab Bong tuk-tuk asal. Ehh bercanda Bapak tuk-tuk ini,pikirku. Namun saat kulihat buku panduan Siem Reap, aku kebingungan sendiri menghitung jumlah temple yang ada di kawasan Angkor ini. Temple yang tercatat di buku tersebut berjumlah 55. Pantas- many!

Kami berangkat pagi buta dari hotel sekitar jam 5.30, padahal janjinya jam 05.00. Gara-gara kami pulalah pemilik hotel kerepotan menyiapkan sarapan dan membungkus roti baquette bagi kami berlima (Odi tidak dapat jatah karena tanpa booking). Kami memakan roti baguette rame-rame di dalam tuk-tuk yang membawa kami ke situs tersohor di dunia, Angkor Wat. 20$ untuk tiket seharian penuh mengintari situs bersejarah tersebut. Tiketnya lucu lagi, ada foto kita disana. Lumayanlah buat kenang-kenangan.

Sunrise di Angkor Wat adalah sunset terindah yang pernah kulihat.

Sunrise di Angkor Wat adalah sunrise terindah, bahkan lebih indah daripada sunrise yang terlihat dari pantai manapun. Warnyanya oranye manis berpadu dengan peach dan semburat biru pucat. Sang photographer profesional (Kak Lila,Om Odi, dan Zjahra) bahkan meminta Bong tuk-tuk untuk berhenti di tengah jalan dan memotret sunrise. Sedangkan aku cuma 'jepret' dan buyar. "Ayook selak kehabisan sunrise di Angkor Wat," teriakku dan Putri kepada para penjepret sunrise.

Siluet Angkor Wat berpadu dengan sunrise.

Bong melarikan tuk-tuk ke parkiran Angkor Wat. Wow, sunrise yang muncul dari balik Angkor Wat adalah sesuatu! Keindahan era kerajaan masa lampau yang dibawa ke era tahun 2000 masih terlihat jelas. Kilauan matahari pagi mencuat dari balik bangunan temple. Latar langit berwarna oranye pudar, siluet Angkor Wat hitam dan pemandangan tersebut terpantul dari kolam yang dibangun mengelilingi temple. So,wow! Aku terpesona hingga warna indah sunrise memudar dan matahari semakin tinggi.

Kami melangkah gembira menuju bangunan inti melalui jalan besar yang sebenarnya jembatan dan lantainya tersusun dari batuan yang dipahat kotak-kotak. Kanan kiri jembatan terlihat pegangan berbentuk ular nagini berkepala banyak. Masuk ke komplek lewat gate tinggi yang mengelilingi temple, ternyata masih harus melewati jalan setapak lebar,di kanan-kirinya lapangan luas dan berdiri temple kecil. Di depan temple itu ada kolam teratai. Sedangkan bangunan inti tepat di ujung jalan setapak. Tiga ujung temple mencuat, inilah simbol negara di bendera Kamboja. Luas dari Angkor Wat ini 1300 mx 1500m. Kusentuh batuan yang berumur ratusan tahun itu, terlihat hitam dengan hiasan lumut kering. Beberapa bagian direnovasi dan direkatkan dengan semen.

Acara seremoni tahun baru Khmer.

Didepan bangunan utama, terdapat acara seremoni. Kemungkinan perayaan tahun baru Khmer, tahun baru di negara Thailand, Myanmar, Kamboja, dan Laos sama yaitu sekitar bulan April dan menyambut musim panas. Sayangnya di Kamboja tidak ada festival air seperti di negara lainnya. Upacara seremoni itu diisi tari-tarian khas Kamboja.
Aku,Putri,Odi, Dini, Zjahra, dan Kak Lila. Photo by: orang asing yang dirayu minta fotoin kita.

Akhirnya kami memasuki inti dari Angkor Wat. Pucuk temple yang terlihat tiga, sebenarnya ada lima. Bentuk bangunan jika dilihat dari atas adalah persegi, empat candi menjulang 65 meter dari tanah,dibangun di empat sudut dan tengah persegi. Jika dilihat dari depan hanya terlihat 3 pucuk temple yang sebenarnya ada lima.  Lima puncak tersebut menggambarkan bunga teratai. Temple ini beraliran Hindu namun didalamnya terdapat banyak patung Budha karena agama ini menjadi dominan setelah masa keemasan Hindu. Kabarnya temple ini dibangun sebagai temple pemakaman bagi Raja Suyavarman II. Sepertinya temple ini dibangun dengan rancangan yang matang dan masing-masing sisi mengarah tepat pada mata angin. Buktinya matahari bisa terbit dengan indahnya tepat di sela-sela temple.

Bagian dalam Angkor Wat. Photo credit: Kak Lila.

Aku menyusuri ruangan-ruangan tersembunyi di Angkor Wat. Lorong panjang dengan ukiran manusia. Bekas kolam mandi tanpa air. Ruangan terbuka di dalam Angkor Wat. Semua itu mengindikasikan seni manusia yang indah pada jamannya.

Kami terpisah menjadi dua, aku bersama Odi dan Kak lila masih berkutat di dalam AngkorWat dan tak melewatkan kesempatan memanjat tangga tertinggi di AngkorWat. Sedangkan Putri, Zjahra dan Dini sudah berlalu. Benar saja, saat aku sampai parkiran."Nang ndi ae? Sampe keturon,"celoteh anak-anak. Maaf, jarang-jarang bisa mendaki Angkor Wat sampai puncak.

Perjalanan dilanjutkan ke kawasan Angkor Thom. Kawasan ini dilewati sungai dan dikelilingi benteng dengan tinggi sekitar lima meter. Hanya ada empat pintu masuk ke kawasan ini dan semua pintu sesuai dengan arah 4 mata angin. Kawasan dengan luas 3 km persegi ini adalah pusat pemerintahan terakhir kerajaan Angkor. Di tengah kawasan tersebut, terdapat temple Bayon. Temple unik ini terdiri dari empat wajah yang menghadap ke empat sisi benteng.

Berfoto di Bayon. Camera: Odi, yang ambil foto? culik bule.

Udara diluar sangat panas, uniknya saat kami masuk kedalam temple Bayon malah terasa sejuk. Apalagi kalau menempel di batunya, dingin. Benar-benar juara yang merancang ini, dia memperhatikan juga faktor HVAC. Didaerah sini, Putri juga sempat dimintai sumbangan oleh anak kecil. Mintanya ga nanggung-nanggung lagi 10$. Dikasi 50 Baht, ga mau. Ckck,,, akhirnya ditinggal sama Putri.

Model: aku :p. Photo by: Odi.

Perjalanan dari Bayon dilanjutkan dengan jalan kaki ke Baphuon yang masih dalam kawasan Angkor Thom. Katanya sih ini adalah pusat pembelajaran jaman dulu. Banyak siswa yang berasal dari kerajaan lain menimba ilmu disini. Setelah foto geje-geje, kami melanjutkan ke parkiran dan mencari supir tuk-tuk. Masalahnya jam sudah menunjukkan pukul 11. Sedangkan jam 2 siang, van kami akan berangkat ke Phnom Penh.

Mau ke parkiran saja harus jalan jauh tapi untungnya melewati situs yang unik yaitu Terrace of Elephant. Jadi seperti ada jalan yang lebih tinggi sekitar 2 meter dari tanah. Di bagian jalan tersebut terdapat ukiran gajah sepanjang 500 meter. Tapi itu juga membuatku mikir, biasanya di film kerajaan Indonesia semacam 'Angling Dharmo' kan selalu menggunakan transportasi kuda atau yang ga masuk akal dikit dengan elang. Lha kerajaan ini malah menggunakan gajah. Ga kebayang kalau mau ke pasar naik gajah. "Gajah, yo!!" teriak orang jaman dulu. Lalu gajahnya jalan pelan-pelan, bum, bum, bum. Kapan sampainya? Parkirnya dimana?

Foto bareng di Ta Phrom.

Destinasi terakhir adalah Ta Prhom. Temple ini terkenal karena dipakai syuting film Tomb Rider. Ini cuplikannya http://www.youtube.com/watch?v=JrNyuFi2m6M . Sebenarnya aku sendiri belum pernah lihat sih :p. Keunikan temple ini terletak pada pohon yang tumbuh bersatu dengan bagunan, seolah bangunan muncul secara ajaib dari balik akar-akar pohon.

Salah satu setting di film Tomb Rider. Model:Putri.

Sebenarnya bagaimana kerajaan Angkor itu? Kenapa nama daerahnya Siem Reap= Siam R.I.P (Siam=kerajaan Thailand)? Kenapa nama raja Angkor mirip dengan raja Indonesia (Jayawarman/ Indrawarman/ Suryawarman)? Ceritanya akan aku kupas (kayak buah aja) di entri selanjutnya.

In Summary, Angkor Wat is worth to see :p

Narsis biar eksis (^_^)v

Note: Maaf foto narsis semua, maklum masih muda dan agak alay. Apalagi backgroundnya juga cocok buat foto semacam majalah . Foto temple tanpa terkontaminasi orang akan aku upload di posting berikutnya. Suerr (^_^)v
Read More

© More Than a Choice, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena