a choice that change my life

Tampilkan postingan dengan label Cerita Mudik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Mudik. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 Mei 2013

7 Objek Wisata Malam Hari di Bangkok

Menjelajah Bangkok-Thailand saat malam hari juga mengasyikkan. Berikut ini spot penjelajahan malam hari yang pernah kukunjungi.

1. Asiatique



Semboyannya: Asiatique-The Riverfront. Terletak di pinggir sungai Chao Phraya, tempat ini bekas pelabuhan sungai tua pada jaman lampau. Saat ini dimanfaatkan sebagai tempat rekreasi, pusat kuliner, hiburan, dan tentu saja perbelanjaan. Didalamnya didesain semacam eropa, ada bianglala yang super gede, menara jam, pertokoan mungil nan cantik, restoran eye-catching, dan ada juga patung tiruan Juliet. Paling afdol kesini malam hari karena tatanan pencahayaan yang cantik dan juga bisa menyaksikan gemerlap lampu gedung pencakar langit dari sisi sungai Chao Phraya yang lain.



Rata-rata harga makanan disana berkisar 300 Baht (sekitar 90 ribu). Jika uang terbatas, sah-sah aja hanya berfoto-foto disana. Sedangkan untuk naik bianglala membayar 200 Baht (sekitar 60 ribu). Saya yang takut dengan ketinggian nekat mencoba bianglala super besar ini. Awalnya was-was, tapi pas sampai titik yang tinggi, pemandangan malam kota Bangkok sepertinya worth to see. Apalagi bianglala ini aman bukan jenis yang terbuka, bianglala ini tertutup bahkan ada AC dan juga speaker yang menyetel lagu-lagu.



Bagi kaum muslim, disana terdapat masjid. Tinggal menyebrang jalan di depan Asiatique. Didepan masjid juga terdapat stand makanan kaki lima yang Insya Allah halal (untuk memastikan silahkan tanya penjualnya). Saat itu, saya yang kere tak makan didalam Asiatique malah makan spageti di kaki lima.

2. Sanam Luang


Sanam Luang adalah lapangan besar yang terletak tepat di depan gerbang masuk Grand Palace. Lapangan ini biasa digunakan untuk upacara kerajaan. Jika tidak ada acara seremonial, lapangan ini ramai oleh orang yang bersantai. Paling cocok kesini saat sore menjelang malam. Cahaya keemasan matahari sore menyinari Sanam Luang lewat celah pohon. Kita bisa bersantai di bangku taman sambil leyeh-leyeh menyaksikan anak-anak yang asyik bermain layangan. Atau bisa juga menggelar tikar di lapangan hijau dan piknik. Saat gelap, lampu Grand Palace dinyalakan. Terlihat gemerlap Wat (candi) keemasan dari dalam temple di kegelapan. Jalan disekitar Sanam Luang juga dipasangi lampu-lampu.


Aku dan Zjahrah pernah mengalami kejadian lucu disini. Saat itu kami berencana ke Dusit Palace namun tak tahu harus ke arah mana dan mencegat bis nomer berapa. Kami ogah naik taksi karena rata-rata semua supir mencharge dengan harga 200 Baht sekali jalan. Kami sudah menanyakan dua orang di Sanam Luang namun tidak mendapat jawaban yang memuaskan. Lalu kami melihat anak kecil laki-laki unyu gendut kira-kira SD kelas 6 atau SMP. "Can you speak English?" tanya Zjahrah. "Yes," jawab anak itu. "Where is Dusit Palace?" tanya kami sambil menunjukkan gambar di HP. "anni ljgughghvsajg%^%*$$##," jawab anak itu menggunakan Bahasa Thailand."Pu thai mai chai," ungkap kami yang artinya aku ga isok bahasa Thailand. Tapi anak itu tetep nyerocos Bahasa Thailand.Oh la la. Akhirnya kami melakukan pilihan terakhir: naik taksi! Untung saja Bapak taksinya baik hati saat tahu kita mahasiswi Thailand dan kami cuma diminta membayar 60 Baht dari 150 Baht.

3. Khaosan Road


Ini adalah pusat penginapan backpacker. Ramai 24 jam bahkan tengah malam. Kawasan di Jalan Khaosan Road disupap menjadi pasar dan pedagang makanan yang selalu buka dan hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki. Penginapan murah juga berada di kawasan ini. Saat aku kesini tengah malam, kawasan ini ramai. Sangat berkebalikan dengan kawasan disekitarnya yang sunyi senyap.


Pedagang baju berteriak menawarkan dagangannya "Alaykha". Bar-bar ramai dan menyetel musik disko. Beberapa orang asing yang sepertinya mabuk menari ditengah jalan. Banyak orang yang makan dengan santai di pinggir jalan. Ada juga pedagang yang menjual camilan ekstrem seperti: ulat, laba-laba, kalajengking, lipan, dan serangga lain yang dikemas dalam bentuk goreng garing atau lolipop. Jadi permen lolipop bening tapi didalamnya ada kalajengking. Pas aku mau ambil foto, kubaca tulisan "20 Baht to take photo". Ihh males banget, mending aku beli keripik kalajengkingnya sekalian -_-".

4. Victory Monument

Tempat ini semacam bundaran simpang siur di Bali, setidaknya terdapat lebih dari empat jalan raya di bundaran ini. Victory Monument juga tempat interchange atau berganti kendaraan. Setiap bis pasti melewati tempat ini. Disini juga terdapat jalur BTS Sky Train. Jadi jembatan layangnya melingkar panjang banget. Keliling jalan layang saja sudah capek. Bahkan jalan layangnya bisa tembus juga ke mall.

Hal yang harus dilakukan disini adalah shopping. Hihi,, apalagi kalau kamu perempuan dan suka fashion. Disini berjajar mall-mall sepanjang jalan. Tapi jangan masuk mall. Berkelilinglah ke penjual kaki lima yang menjual baju-baju unik. Setelah aku bandingkan harganya, harga di Victory Monument lebih murah daripada yang lain jika kalian membeli satuan (Jika membeli grosir, silahkan ke mall Platinum). Saking kebacutnya aku hunting baju, sampai-sampai aku hapal letak dagangan disana. Uniknya banyak toko yang baru buka sekitar jam 6 malam. Terkadang yang jualan di tempat gelap, sampai-sampai bajunya ga jelas warna apa. Kalau sudah begitu, kita sampai-sampai membawa bajunya ke tempat yang lebih terang.

5. Chinatown

Ini adalah tempat yang selalu ramai 24 jam. Sayangnya aku kesini pada saat siang hari terik-teriknya. Padahal tempat ini lebih hidup saat malam hari. Huruf cacing Thailand dan cacing China bercampur aduk disini. Baliho-baliho neon menyala-nyala di sepanjang jalan. Hal yang dilakukan disini adalah shopping (Behh shopping lagi). Begitulah adanya masyarakat Thailand memang lebih konsumtif dari kita. Barang murah yang bisa dibeli disini adalah barang khas Chinese dan berbagai macam perhiasan yang unyu-unyu. Murah banget aksesoris disana apalagi kalau beli banyak. Gelang yang disini dijual 30rb an, disana paling hanya 10rb an. Kalau tak suka shopping, kita bisa menikmati blusukan di pasar-pasar di Chinatown dan juga ke temple pagoda. Ada juga bangunan unik gerbang merah yang besar.

6. Shukumvit Street

Nah ini juga pusat keramaian, banyak hotel yang terletak didaerah ini. Bermacam hiburan ditawarkan disini mulai dari kuliner, belanja,nongkrong dan wisata malam. 


Kuliner, disana tersedia bermacam-macam mulai masakan Thailand, Timur Tengah, Asia Selatan, Jepang, Korea dan lain-lain. Asal pandai memilih tempat karena jalan Shukumvit ini sangat panjang dan terdapat banyak soi, bahasa Thailand dari gang. Setiap soi merupakan komunitas tersendiri. Misalnya soi 24 untuk komunitas Korea. Disana terdapat banyak restoran, hotel, tempat karaoke berbau Korea. Ada juga soi (kurang tahu) yang berbau Timur Tengah, disana menawarkan kuliner halal dan juga shisa.

Tempat nongkrong cafe di Shukumvit Road.

Belanja, silahkan mengintari kaki lima di Shukumvit street sampai gempor. Aku pernah jalan mulai dari soi 1 sampai soi 30 an. Mau balik lagi ke soi 1 gak kuat dan akhirnya naik BTS dan melewati 2 stasiun. Disepanjang jalan Shukumvit banyak toko kecil sampai mall. Mall yang wajib dimasuki adalah Terminal 21. Cobalah toiletnya dan rasakan perbedaanya =D karena ada yang berbeda di setiap lantainya.

Shukumvit street ini juga terkenal akan hiburan malamnya. Nana atau red district terdapat di salah satu soi, disini semacam d*lly di Suarabaya tapi lebih kecil. Soi Koboy juga terletak di jalan ini, yaitu gang khusus komunitas gay. Yakk semuanya ada disini, semakin malam semakin (entahlah). Tapi jangan coba-coba jalan sendirian disekitar red district ini saat malam hari. Kalau laki-laki bisa disangka gay atau diajak 'ayam', harus kuat iman. Sedangkan kalau perempuan bisa-bisa ditawar orang.

7. Dusit Palace



Ini adalah tempat berdiamnya keluarga kerajaan. Istana ini memiliki arsitektur seperti gedung putih Amerika. Semuanya serba putih. Istana ini didedikasikan untuk King Rama V. Didepannya ada patung King Rama V yang naik kuda. Masyarakat Thailand sangat menghormati Raja ke V karena dianggap memberikan perubahan besar bagi bangsa Thailand. Bahkan jangan heran kalau terdapat beberapa orang sembahyang di depan patung ini.



Istana ini indah saat siang hari dan didominasi warna putih. Spektakuler saat malam hari karena warna putih disinari oleh lampu yang berwarna kuning. Aku dan Zjahrah kesana bertepatan dengan Bazaar Palang Merah. Wuihh semacam pasar bandeng di Gresik tapi besarnya 30 kali lipat dari pasar Bandeng. Beberapa ruas jalan besar di dekat Dusit Palace ditutup. Semua orang Bangkok tumplek blek disana. Bahkan mau jalan pun desak-desakan. Apalagi setiap stand mempublikasikan dagangan dengan pengeras suara. Tau sendiri kan kalau suara orang Thailand itu memiliki nada tinggi. Huwaa....
Read More

Rabu, 17 April 2013

Cerita Mudik (X): Budget Mudik ala Backpacker ke 3 Negara (Thailand, Malaysia, dan Indonesia)


Akhirnya sampai juga di penghujung tulisan Cerita Mudik, perjalanan mudik melewati tiga negara yaitu Thailand, Malaysia, dan Indonesia. Singgah di enam tempat: Phuket, Phi Phi Island, Krabi, Penang, Kuala Lumpur dan Jakarta (Surabaya termasuk nggak XD). Perjalanan ini kulakukan dari tanggal 17 Desember malam hari dari Bangkok Thailand dan sampai pada tanggal 26 Desember dini hari di Surabaya. Transportasi yang kugunakan adalah bis, songthew, kapal, sepeda motor, dan pesawat. Seperti biasa, aku akan sharing tentang tips dan budget untuk berjalan-jalan dengan rute yang mirip denganku.

Thailand

Bangkok (17 Desember 2012)

Berangkat dari Victory Monument naik taxi ke Terminal Selatan Mai Sai Tai (semoga gak salah namanya) lalu naik bis level dua (kelas ekonomi), berangkat jam 8 malam ke Phuket. Jika ingin nyaman silahkan dipilih bis VIP, harganya sekitar 500-600 Baht namun fasilitasnya beda jauh. Sebagai contoh bis level da tidak menyediakan apa-apa selain selimut. Sedangkan bis VIP punya pramugari, musik, kursi pijat, makan berat sekali, snack dua kali, dan fasilitas lainnya. Altenatif lain yaitu berangkat dari stasiun Mo Chit, sayangnya aku kurang tahu letak pastinya dimana dan tipe bisnya bagaimana.

Naik Taxi 100 Baht (share 5orang) = 20 Baht
Bis Bangkok-Phuket = 420 Baht
Total = 440 Baht

Phuket (18-19 Desember 2012)

Sampai di Phuket sekitar jam 8 pagi. Kami diturunkan di terminal bis yang letaknya jauh dari kota. Dari sini harus nyewa songthew (semcam taksi terbuka) untuk menuju kota Phuket. Perjalanan sekitar 30 menit, songthew akan berhenti di travel agent. Silahkan tawar-tawaran sampai menemukan harga yang cocok. Kalau tidak cocok, Anda bisa menolak. Saat itu kami sepakat menyewa dua kamar hotel dan tiket Phuket-Phi Phi-Krabi. Lalu kami diantarkan songthew ke hotel yang letaknya pas di pantai. Fasilitas hotel: kamar twin, AC, handuk, peralatan mandi, kulkas, pemanas air dan teh/kopi gratis. Esoknya kami dijemput oleh travel jam 7 pagi dengan van ke pelabuhan boat.

Hotel Time Out =500 Baht
Makan siang (nasi goreng nanas)= 120 Baht
Makan malam (mi instant dan susu)= 50 Baht
Sarapan (roti)=20 Baht
Travel Phi Phi (termasuk boat Phuket-Phi Phi, Phi-Phi Krabi, snorkling, dan makan siang ala buffet)= 1500 Baht
Total= 2240 Baht

Tips: teman saya bisa mendapat harga 1000 Baht untuk trip boat Phuket-PhiPhi-Phuket, snorkling, dan makan buffet). Rata-rata untuk paket ini dipatok harga 1200 Baht.

Phi-Phi Island (19 Desember 2012)

Perjalanan dengan boat sekitar 1,5 jam dari Phuket ke Phi Phi Island. Lalu pindah ke kapal lebih kecil untuk snorkling. Sekitar jam 1 siang makan siang ala buffet di hotel. Lalu jam 3 siang naik kapal ke Krabi.

Tiket masuk Phi Phi Island= 40 Baht

Krabi (19 Desember-20 Desember 2012)

Kapal sampai sekitar jam 5 sore di Ao Nang Krabi. Lalu sewa taksi ke hotel di pantai Nopharathara. Check in di Cashew Nut Bungalow. Fasilitas: kamar besar (untuk ber 4), AC, dan handuk. Paginya bisa jalan-jalan di pantai dan jam 11 siang aku dijemput van ke Penang.

Taksi 300 Baht (5orang) =60 Baht
Cashewnut Bungalow =300 Baht
Van Krabi-Penang = 600 Baht
Total=960 Baht

Total Keseluruhan di Thailand= 3680 Baht

Malaysia

Penang (20 Desember-21 Desember 2012)

Van dari Krabi ke Hat Yai sekitar 4 jam. Ganti van di Hatyai, nunggu sekitar satu jam. Van Hatyai-Penang sekitar 6 jam. Untungnya naik van adalah diantarkan sampai penginapan. Lalu menginap di Old Penang Guesthouse. Esoknya jalan-jalan ke Temple Kek Lok Si, Penang Hill, Chocolate Boutique, dan sekitar kota George Town. Jangan lupa naik bis CAT gratisan yang bisa dinaikin dari terminal Komtar. Bis ini membawa ke sekeliling kota George Town yang cantik. Lalu sorehari pesan tiket ke Kuala Lumpurdari travel agent disekitar Komtar untuk perjalanan malam ke Kuala Lumpur.

Bayar komisi perbatasan= 1 RM
Old Penang Guesthouse (6 Mix Dormitory)= 26RM
Muter-muter naik Rapid KL= 4 RM
Naik kereta di Kek Lok Si Temple= 5 RM
Naik Kereta di Penang Hill (student)= 15 RM
Makan Laksa Penang di Pasar dekat Kek Lok Si= 4 RM
Makan mi=2 RM
Bis Penang-Kuala Lumpur= 40 RM
Total= 97 RM

Kuala Lumpur (22 Desember 2012)

Berangkat dari Penang sekitar jam 00.00, perjalanan 5 jam ke Kuala Lumpur. Jam 5 pagi belum ada yang buka dan nunggu sampai jam 6 pagi. Naik MRT dari Stasiun Masjid Jamek ke KL Sentral. Lalu beli tiket Fast Train ke Putrajaya. Sampai Putrajaya, naik bis Nadi Putra ke sentral Putrajaya (terminal Alamanda). Masuk ke masjid Putra. Lalu kembali ke terminal Alamanda dan naik bis ke stasiun Fast Train. Lalu beli tiket sampai bandara LCCT. Fast Train turun di Salak Tinggi dan ganti bis ke bandara LCCT.

MRT= 2 RM
Fat Train KL Sentral-Putrajaya= 12 RM
Bis Nadi Putra PP= 3 RM
Fast Train Putrajaya-LCCT= 8 RM
Makan Mc D= 7RM
Total= 32 RM

Total Keseluruhan di Malaysia= 129 RM

Pesawat Kuala Lumpur-Jakarta= 250 ribu rupiah.

Indonesia

Jakarta (21-22 Desember 2012)

Hehe jangan nanya ya. Ini aku nebeng-nebeng nginep dan makan dibayarin.

Pesawat Jakarta-Surabaya= 420 ribu rupiah

Total Biaya Mudik= 3680 Baht+32 RM+ Rp.670.000 (asumsi 1 Baht=Rp 300; 1 RM=Rp 3000)
Total Biaya Mudik=Rp 2.734.000,-

Lebih mahal memang daripada aku membeli tiket pesawat Bangkok-Surabaya. Namun semua pengalaman  lebih berharga dari uang yang kubayarkan. Bila ingin mudik sepertiku tapi ingin lebih hemat lagi bisa juga! Tipsnya: booking hotel murah dari situs booking, soal transportasi naik yang biasa-biasa saja, kalau soal taksi dan travel bisa tawar-tawaran sampai malu, tak perlu beli bagasi pesawat, makan yang murah dan kenyang, dan beli oleh-oleh seperlunya.

Stay awake in Phuket, Exotism of Phi Phi Island, Calm of Krabi, Historical of George Town, and Crowdedly Jakarta are perfect way go back to home. How a nice Mudik!!

Read More

Cerita Mudik (IX): Ini, Monas!

Akhirnya aku bisa berfoto di monas! Simbol ibukota negara. Maaf ya monas, aku sudah melangkahimu untuk foto duluan di Petronas. Tapi setidaknya aku bangga padamu kok :)

Akhirnya bisa foto di Monas :D
Monumen Nasional atau yang populer disingkat dengan Monas atau Tugu Monas adalah monumen peringatan setinggi 132 meter (433 kaki) yang didirikan untuk mengenang perlawanan dan perjuangan rakyat Indonesia untuk merebut kemerdekaan dari pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Pembangunan monumen ini dimulai pada tanggal 17 Agustus 1961 di bawah perintah presiden Sukarno, dan dibuka untuk umum pada tanggal 12 Juli 1975. Tugu ini dimahkotai lidah api yang dilapisi lembaran emas yang melambangkan semangat perjuangan yang menyala-nyala. Monumen Nasional terletak tepat di tengah Lapangan Medan Merdeka, Jakarta Pusat. (sumber: wikipedia)

Bagaimana sejarah monas?

Monas. Photo by: Elita :)

 Presiden Sukarno mulai memikirkan pembangunan sebuah monumen nasional yang setara dengan Menara Eiffel di lapangan tepat di depan Istana Merdeka. Pembangunan tugu Monas bertujuan mengenang dan melestarikan perjuangan bangsa Indonesia pada masa revolusi kemerdekaan 1945, agar terus membangkitkan inspirasi dan semangat patriotisme generasi saat ini dan mendatang.
Cupa didepan caption Monas (Monumen Nasional) 
Pada tanggal 17 Agustus 1954 sebuah komite nasional dibentuk dan sayembara perancangan monumen nasional digelar pada tahun 1955. Terdapat 51 karya yang masuk, akan tetapi hanya satu karya yang dibuat oleh Frederich Silaban yang memenuhi kriteria yang ditentukan komite, antara lain menggambarkan karakter bangsa Indonesia dan dapat bertahan selama berabad-abad. Sayembara kedua digelar pada tahun 1960 tapi sekali lagi tak satupun dari 136 peserta yang memenuhi kriteria. Ketua juri kemudian meminta Silaban untuk menunjukkan rancangannya kepada Sukarno. Akan tetapi Sukarno kurang menyukai rancangan itu dan ia menginginkan monumen itu berbentuk lingga dan yoni. Silaban kemudian diminta merancang monumen dengan tema seperti itu, akan tetapi rancangan yang diajukan Silaban terlalu luar biasa sehingga biayanya sangat besar dan tidak mampu ditanggung oleh anggaran negara, terlebih kondisi ekonomi saat itu cukup buruk. Silaban menolak merancang bangunan yang lebih kecil, dan menyarankan pembangunan ditunda hingga ekonomi Indonesia membaik. Sukarno kemudian meminta arsitek R.M. Soedarsono untuk melanjutkan rancangan itu. Soedarsono memasukkan angka 17, 8 dan 45, melambangkan 17 Agustus 1945 memulai Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, ke dalam rancangan monumen itu.Tugu Peringatan Nasional ini kemudian dibangun di areal seluas 80 hektar. Tugu ini diarsiteki oleh Friedrich Silaban dan R. M. Soedarsono, mulai dibangun 17 Agustus 1961. (Sumber: Wikipedia)

Apa maksud dari bangunan monas?


Lingga dan Yoni pada arsitektur Monas.
Rancang bangun Tugu Monas berdasarkan pada konsep pasangan universal yang abadi; Lingga dan Yoni. Tugu obelisk yang menjulang tinggi adalah lingga yang melambangkan laki-laki, elemen maskulin yang bersifat aktif dan positif, serta melambangkan siang hari. Sementara pelataran cawan landasan obelisk adalah Yoni yang melambangkan perempuan, elemen feminin yang pasif dan negatif, serta melambangkan malam hari.[6] Lingga dan yoni merupakan lambang kesuburan dan kesatuan harmonis yang saling melengkapi sedari masa prasejarah Indonesia. Selain itu bentuk Tugu Monas juga dapat ditafsirkan sebagai sepasang "alu" dan "Lesung", alat penumbuk padi yang didapati dalam setiap rumah tangga petani tradisional Indonesia. Dengan demikian rancang bangun Monas penuh dimensi khas budaya bangsa Indonesia. Monumen terdiri atas 117,7 meter obelisk di atas landasan persegi setinggi The 17 meter, pelataran cawan. Monumen ini dilapisi dengan marmer Italia. (Sumber: Wikipedia)
Wisata Delman.

Haha lama-lama tulisan wikipedia kupindah ke blogku. Bukan maksud hanya meng copy-paste, tapi aku mempelajari sejarah monas juga perlu dilakukan saat berwisata. Bukan hanya melulu melancong untuk senang-senang belaka. Apalagi saat itu aku terpaksa tidak bisa masuk kedalam monas saking ramenya. Jadi kupikir wikipedia adalah sumber yang relevan.

Didepan Patung Diponegoro.


Hari itu tanggal 25 Desember adalah hari terakhir perjalanan mudikku. Aku hanya berputar-putar di pelataran monas yang panas. Di pelatarannya terdapat wisata delman, foto dengan ondel-ondel,tandhak bedhes, dan penjual. Aku menikmati tingginya monas dari bawah pohon. Aku bangga Indonesia memiliki monas yang telah dibangun sejak lama. Monas adalah simbol kemerdekaan bangsa Indonesia bahwa kita dapat meraih kemerdekaan dengan tangan kita sendiri. Ini adalah pengingat generasi sekarang untuk terus menggemilangkan semangat kemerdekaan seperti layaknya kilau emas di ujung monas.

Hari itu kuakhiri dengan memborong batik untuk oleh-oleh teman-temanku di AIT. Kebanggaan lain adalah batik, kain khas Indonesia yang sekarang bisa didesain dengan modern. Pesawatku berangkat sekitar pukul 11 malam ke Juanda. Benar, perjalanan mudik selama hampir dua minggu ini akhirnya selesai.
Read More

Cerita Mudik (VIII): Menggila di Dufan

Pagi-pagi Cupa sudah menjemputku dengan sepeda motor pinjaman ke Hotel 4season.Kami akan berangkat ke Dufan untuk bergembira.Sebelum sampai sana, Cupa berputar-putar di sekitar kawasan Monas yang dikelilingi bangunan pemerintahan, Masjid Istiqlal, dan Katedral.Sekitar jam 9, kami sudah sampai di kawasan Dufan dan hebatnya sudah banyak orang yang menunggu disana untuk membeli karcis.

Bagian depan Dufan.

Setelah terpontang-panting mbolang dari Bangkok sampai Jakarta lebih dari seminggu, kini saatnya pontang-panting sungguhan di wahana Dufan. Yang bikin sumpek adalah mengantri! Maklum saat itu liburan Natal dan semua orang berbondong-bondong ke tempat wisata.b Beli tiket saja sudah antri, masuk juga antri. Alhamdulillah masyarakat Indonesia masih antri meski sedikit ndusel karena sumpek. Tiket masuk Dufan (sebenarnya aku ga tau karena dibeliin) sekitar 250 ribu rupiah.

Berikut ini wahana yang kucoba di Dufan dari pagi sampai malam:
1. Hysteria
Hysteria.
Baru datang sudah langsung naik ini. Permainan ini mengangkat orang ke ketinggian puluhan meter dan menjatuhkannya dengan cara jatuh bebas. Rasanya nyawa masih ada diatas tapi badan sudah dibawah. Tapi setelah dijatuhkan rasanya lega dan bisa tertawa sepuasnya.

2. Treasure Land
Atraksi di Treasure Land (dua kali sehari).

Ini adalah atraksi baru di Do Fun (Dufan). Dimana ada drama yang ceritanya tentang pemburu harta karun suku maya. Disini terdapat banyak atraksi action dan banyak efek api.

3. Giant Wheel
Layakya flyer atau bianglala tapi ini ukurannya besar dan jika terkena hembusan angin goyang-goyang gimana gitu. Apalagi pengaman hanya tutup besi biasa dan bolong-bolong. Jadi, aku yang agak parno dengan ketinggian selalu memegang kursi. Aku lebih memilih naik Hysteria daripada naik ini -__-.

3. Perang Bintang
Permainan ini lucu, jadi kita naik di semacam kereta dan menembaki alien dengan senjata laser. Aliennya gerak-gerak dan ada suara-suaranya. Nanti jumlah yang tertembak terdisplay di monitor kendaraan, Whussa aku dapat nilai tertinggi lho :P (yaiyalah lawannya anak kecil semua).

5. Rumah Boneka
Ini sebenarnya lucu tapi entah kenapa kok bonekanya semacam horor gitu ya kalau dikunjungi malam hari. Lha bonekanya seperti boneka Susan, mukanya datar tapi bisa nari-nari dan gerak-gerak. Tapi rumah boneka ini menampilkan banyak jenis boneka mulai yang berpakaian adat Indonesia sampai suasana internasional.

6. Rumah Jahil
Ini adalah rumah kaca. Muter-muter 50 meter di kaca dan cermin. Selesai.

7. Ontang Anting

Jadi ini adalah permainan ayunan yang diputar-putardan diangkat ke atas. Isis sih isis tapi serem juga kalausudah di ketinggian.

8. Ombang Ambing
Semacam piringan besar yang diisi orang dipinggirnya lalu diombang-ambingkan berputardan miring hampir 80 derajad. Parah tapi asik.

9. Kora Kora
Permainan favoritku yaitu berbentuk kapal dan diayun-ayunkan dengan kecepatan tinggi. Asik karena seperti ayunan besar. Kalau permainan seperti ini, aku kuat tapi kalau sudah permainan yang kepalanya bisa ada dibawah: ogah!

10.  Niagara gara
Permainan air yang naik di kapal lalu meluncur dari ketinggian. Yee ga basah, maklum aku pakai jas hujan :P

11. Happy Feet
Ini termasuk permainan baru yaitu bioskop 4D. Ceritanya tentang kartun penguin yang kakinya bisa bermusik. Disini kita bisa merasakan efek seluncuran di salju dengan simulator kursi gerak.

12. Rango Rango
Kalau jalan jadi ikut miring.
Rango-rango adalah rumah miring. Bener luarnya biasa aja tapi dalamnya benar-benar miring!

Parade Dufan.
Itulah sekelumit permainan yang pernah kucoba karena sehari tidak cukup untuk mencoba semuanya. Maklum ngantri aja bisa hampir satu jam. Rata-rata antri adalah 30-45 menit. Apalagi itu musim liburan. Jika dibandingkan dengan dunia gembira yang pernah kucoba, Dufan memiliki banyak wahana yang memacu adrenalin namun tempatnya ya untuk permainan saja. Beda dengan Wisata Bahari Lamongan (WBL) atau Jatim Park yang menawarkan permainan dan ke khasan. Misalnya WBL dengan pantainya dan Jatim Park dengan suhu pegunungannya dan banyak informasi untuk belajar (Pakaian adat dan Rumah Pintar).
Read More

Selasa, 09 April 2013

Cerita Mudik (VII): Menelusuri Batavia

Lagi-lagi tulisan di blogku mengalir lancar saat mendekati deadline untuk bertemu advisor. Alih-alih mengerjakan thesis, malah menulis blog. Inilah contoh mahasiswa yang kreatif (dalam ngeles). Oke, kali ini aku akan melanjutkan cerita perjalanan mudikku. Tanggal 23 Desember 2012 adalah hari keduaku di Jakarta. Kali itu aku mengungsi dari kosan Cupa ke kosan Ade yang kebetulan dekat dengan Kota Tua, destinasi yang akan kutuju.

Jakarta atau yang lebih dikenal dengan Batavia ini merupakan pusat perdagangan di masa penjajahan. Tak heran banyak bangunan bersejarah yang terletak disini, utamanya yang masih terjaga di daerah Kota Tua Jakarta. Kami berepat (aku, Ade, Cupa, dan Levi) mengantarkankan aku berkeliling daerah ini. Daerah kota tua memiliki banyak museum dengan gedung jaman kolonial: Museum Bank Indonesia, Museum Fatahillah, Museum Wayang, Museum Bank Mandiri, Museum VOC, dan lain-lain.
Bagian dalam Museum Bank Indonesia
Diorama perbankan zaman lampau.
Museum pertama yang kami kunjungi adalah Museum Bank Indonesia, kebetulan ini adalah museum baru yang diresmikan padatahun 2009. Gedung putih bersih dengan arsitektur zaman penjajah yang dibangun tahun 1828 dihidupkan kembali dengan tatanan bank. Tiket masuknya gratis tapi isinya melebihi ekspektasi. Bagunannya indah dan ada brankasnya pula seperti di film-film Hollywood.
Papan: Rempah seharga emas

With Cupa ^^

Diorama
Museum ini menyajikan informasi peran Bank Indonesia dalam perjalanan sejarah bangsa yang dimulai sejak sebelum kedatangan bangsa barat di Nusantara hingga terbentuknya Bank Indonesia pada tahun 1953 dan kebijakan-kebijakan Bank Indonesia, meliputi pula latar belakang dan dampak kebijakan Bank Indonesia bagi masyarakat sampai dengan tahun 2005. Penyajiannya dikemas sedemikian rupa dengan memanfaatkan teknologi modern dan multi media, seperti display elektronik, panel statik, televisi plasma, dan diorama sehingga menciptakan kenyamanan pengunjung dalam menikmati Museum Bank Indonesia. Selain itu terdapat pula fakta dan koleksi benda bersejarah pada masa sebelum terbentuknya Bank Indonesia, seperti pada masa kerajaan-kerajaan Nusantara, antara lain berupa koleksi uang numismatik yang ditampilkan juga secara menarik. (wikipedia)
Emas (sepertinya palsu) yang dipamerkan didalam brankas raksasa.

Cupa, aku, Ade, dan Levi.

Setelah itu kami beranjak ke kawasan bangunan di kota tua. Menurutku, kota tua itu cantik sayang saking tuanya sampai-sampai lupa membersihkan diri dan banyak yang mengunjungi. Banyak pedagang yang tak teratur dan juga sampah. Namun kabarnya kota tua saat ini telah berbenah, ada pengaturan berdagang. Di sepanjang jalan, terdapat fotografer dadakan yang menjajakan foto di studio berlatar suasana Kota Tua.

Wajah kota tua Jakarta.
Tampak depan Museum Fatahillah.
Kami menuju museum Fatahillah yang penuh sesak, maklum saat itu adalah libur hari Natal. Lagi-lagi bangunan ini terlihat tua dan antik, pantas karena bangunan ini dikonstruksi sejak tahun 1620 dan digunakan sebagai tempat pemerintahan VOC. Alasnya menggunakan lantai kayu dan catnya pun putih kusam. Didalam museum ini terdapat banyak benda bersejarah mulai jaman kerajaan (prasasti huruf cacing dan tapak kaki raja), kolonial, kemerdekaan dan  zaman setelah pra kemerdekaan. Semuanya tersimpan di museum ini.

Inilah: becak! transportasi yang semakin langka.

Ga tau apa artinya XD

Gedung ini dulu adalah sebuah Balai Kota (bahasa Belanda: Stadhuis) yang dibangun pada tahun 1707-1710 atas perintah Gubernur Jendral Johan van Hoorn. Bangunan itu menyerupai Istana Dam di Amsterdam, terdiri atas bangunan utama dengan dua sayap di bagian timur dan barat serta bangunan sanding yang digunakan sebagai kantor, ruang pengadilan, dan ruang-ruang bawah tanah yang dipakai sebagai penjara.(wikipedia)
Ade dan Levi didepan patung perdagangan.

Pemandangan dari lantai dua Museum Fatahillah.

Diluar Museum Fatahillah terdapat lapangan yang luas. Kali itu terdapat hiburan ondel-ondel yang mengundang keramaian. Hebatnya yang memainkan ondel-ondel beserta alat musiknya adalah anak-anak. Entah harus bilang hebat atau miris. Mereka memainkan musik khas Betawi dengan piawai. Sedangkan ondel-ondel yang berukuran besar lincah menari kesana kemari.

Gerahnya kota Jakarta membuat kami mengakhiri perjalanan siang itu dan melanjutkan jalan-jalan di mall. Seperti halnya Surabaya, mall adalah jujukan warga kota disaat penat. Mungkin inilah alasannya mengapa sebagian besar perempuan Indonesia gila belanja karena hiburan paling mudah dicari di Indonesia ya belanja. Kami makan di Solaria,mau makan tempe lagi tapi apa daya tak tersedia di restoran sophiscated ini.

Koloke.
Malamnya aku mengungsi dari kosan Ade ke hotel 4 season untuk bertemu Dimi, sahabatku yang kebetulan berlibur di Jakarta. Dimi berlibur besama ibu dan dua adiknya. Dia mengundang aku dan Ade untuk menginap semalam di hotel itu. Mau menuju kedaerah sana dari kosan Ade saja rempong banget. Naik trans Jakarta, entah oper berapa kali. Lalu naik taksi. Ade sampai narik-narik dan mengkomando aku karena aku masih lolak-lolok dan lugu dengan keramaian Jakarta.

Ade, aku, Dimi :)

 Hari itu adalah reuni bagi kami bertiga, sahabat semasa kuliah. Rasanya sudah lama tidak bertemu, padahal baru empat bulan. Tapi kami bertiga sudah di jalan masing-masing, Ade bekerja sebagai officer di BNI (jangan tanya gajinya, yang jelas dia bisa hedon tiap bulan membeli barang ber merk), sedangkan Dimi telah diterima sebagai engineer di KBR Jakarta dan akan bekerja pada bulan Februari, dan aku ---> mahasiswa traveller :P . Jadi yang sudah kerja kebanyakan membiayai temannya yang berstatus mahasiswa. Hohoo dasar mahasiswa, otak gratisan >_< tapi ya aku ga gitu-gitu banget sih. Aku kan punya penghasilan,enggg dari beasiswa :P.Hari itu, kami bertiga bercerita sepanjang malam.

Batavia, Tempat Mengenang Sejarah Indonesia bagi Aku dan Kita.

Read More

Rabu, 20 Maret 2013

Cerita Mudik (VI): Rumitnya Jakarta

Meski aku sudah tamat sekolah, namun aku belum pernah menginjakkan kaki di ibukota Jakarta. Selain belum ada kesempatan, aku juga belum tertarik untuk mengunjungi ibukota yang kabarnya lebih jahat daripada ibu tiri ini. Namun kali ini lain ceritanya, masa sebagai bangsa Indonesia pernah jalan-jalan ke ibukota Malaysia, Kuala Lumpur, dan tinggal di dekat ibukota Thailand tapi belum pernah ke ibukota negara sendiri. Lagipula teman dekat saya, ehemm :p kerja di Jakarta, dan banyak sahabat yang tinggal disana. Jadi saya putuskan pulang ke Indonesia lewat Jakarta pada tanggal 22 Desember 2012 lampau.

Perjalanan Kuala Lumpur-Jakarta memakan waktu sekitar 1,5 jam. Aku dijemput Cupa saat itu. Kata-kata pertama yang kuucapkan adalah "Aku pengen makan tempe". Lalu aku dan Cupa naik bis dari bandara ke (lupa) daerah dekat terminal trans jakarta di Pancoran. Saat itu langsung kurasakan perbedaan antara Bangkok dan Jakarta. Kalau naik transportasi, orang Thailand antri dulu satu-satu teratur, disini langsung gruduk sengggol kanan-kiri. Saat itu bis yang kami tumpangi kebetulan penuh. Tapi masih naikin penumpang aja. Kebetulan aku menjadi penumpang yang tidak kebagian kursi. Jadi aku duduk di emperan lorong bis, beralaskan kardus. Oke ini kebacut tapi begitulah adanya. welcome to Jakarta, nak :D

Kerumitan Jakarta untukku, baru saja dimulai. Beberapa menit bis berjalan, lalu merangkak, lalu berhenti. Benar sekali, aku terjebak macet yang merupakan salah satu problem di kota Jakarta. Apalagi saat itu sedang hujan deras, beberapa titik jalan di Jakarta tidak bisa dilewati. Parah. Teringat dua minggu lalu, masih enak menikmati transportasi kota Bangkok: Sky Train, cepat, nyaman, dan mudah. Ohh MRT Jakarta, kapan mulai bisa digunakan? Keburu mobil dan sepeda motor pribadi memenuhi jalan raya. Perjalanan dengan bis dari bandara memakan waktu hampir dua jam, lebih lama dari perjalanan Kuala Lumpur-Jakarta.

Cupa dan aku turun di dekat Pancoran. Nyebrang tanpa zebra cross, melewati kendaraan yang terjebak macet. Kami menuju halte bis Trans Jakarta. Emosiku diuji disini. Udah nunggunya lama, setiap kali ada bis, penuh semua. "Ini masih mending haltenya sepi, biasanya antrinya sampai luar," terang Cupa. Aku tidak mau membayangkan mengantri seperti itu. Gak efektif dan efisien banget. Akhirnya datang bis Trans Jakarta, aku berusaha ndusel di bis yang sudah penuh itu. Salutnya, Trans Jakarta punya kondektur yang memantau keluar masuk penumpang dengan aman. Lalu dipisah antara perempuan dan laki-laki, sehingga nduselnya dengan gender yang sama. Saat bis sudah berjalan, aku baru sadar kalau Cupa tidak naik bis ini karena di bagian laki-laki sudah penuh sesak. Triing kemanakah aku akan berhenti?? Untung saja Cupa sudah memberi ancer-ancer untuk turun di halte Cawang.

Aku menunggu Cupa di terminal sambil memandangi hujan rintik-rintik diluar. Teringat lagi kalau naik bis di Thailand. Ga perlu rebutan, meski penuh tapi tidak sesak, dan meski tak memiliki jalur sendiri namun bis umum bisa lewat dengan nyaman dan hanya sesekali terjebak kemacetan. Atau teringat lagi kota Surabaya yang nyaman. Oh Jakarta... Selang belasan menit, Cupa datang dengan bis Trans Jakarta berikutnya. Kami turun dari halte dan menuju Carefour. Akhirnya aku bisa makan bebek penyet dan tempe di salah satu restoran di Carefour. Ternyata.... tempe itu enak :D

I love tempe XD

Bebek penyet. hmm...

Setelah itu kami berbelanja beberapa barang. Semuanya biayaku disana ditanggung Cupa sebagai tuan rumah. Terima kasih :D :D :D maklum saya masih mahasiswa, beda sama yang udah kerja sebagai engineer. Kami menaiki jembatan ke tempat kosnya Cupa. Rencananya aku akan menaruh barang dan menyusul teman-teman lain yang sudah menunggu di mall untuk nobar film Habibie & Ainun. Tiba-tiba ditengah jembatan, Cupa menarikku "Hati-hati," katanya. Wheeerr,,,,, sepeda motor melintas. What the h*ll??? ini kan jembatan penyebrangan untuk pejalan kaki,tinggi lagi, kok bisa sepeda motor lewat sini. Sungguh warga Jakarta canggih banget dalam atraksi sepeda motor.

Halte Trans Jakarta.

Malam itu aku bertemu Ade dan Levi. Ade memelukku, huwaa rasanya udah lamaa ga ketemu (padahal ya cuma 4 bulan). Lalu kami ber-empat menonton film Habibie & Ainun. Akhirnya aku bisa melihat bioskop dengan Bahasa Indonesia. Sebelumnya aku melihat The Hobbit di Thailand dengan subtittle cacing >_<. Malam itu aku dan Ade tidur di kamar Cupa dan Cupa pindah ke kamar Levi. Memang kalau malam hari, daerah kos Ade yang berada di kota tua termasuk kawasan angker. Jadi lebih baik menginap semalam di kos Cupa.

Entahlah hari itu aku belum menemukan indahnya hidup di Jakarta. Yang kutemui hanya jalan becek dan gang sempit. Wisatanya hanya seputar mall dengan transportasi minim. Tapi tetap saja ini Indonesia dan ada tempe :p aku bersyukur. Entah surprise apalagi yang kudapatkan dari Jakarta esok hari, setelah: macet, becek, banjir, sumpek, dan rumit. Aku berharap surprise yang menyenangkan saja :D
Read More

Sabtu, 16 Maret 2013

Cerita Mudik (V): Deja Vu di Putrajaya, Kuala Lumpur

Bis malam yang kutumpangi berangkat sekitar jam 00.00 dari Penang ke Kuala Lumpur. Aku tertidur lelap didalam bis, kelelahanku mengintari Penang terakumulasi saat itu. Aku terbangun dan melihat ke jendela, kerlipan lampu hias berwarna warni menerangi bangunan yang modern. Wah ini dimana ya, kenapa semua kota di Malaysia keren seperti ini. Lalu kulihat beton MRT, pantesan saja kota ini keren, lha aku sudah sampai di ibukota Malaysia-Kuala Lumpur. Bis menurunkan penumpang di daerah Masjid Jamek. Aku sudah familiar dengan daerah ini karena setahun lampau pernah menjelajah tempat ini selama dua hari. Penginapanku dulu juga berada disekitar sana. Apalagi aku pernah memutari Kuala Lumpur dengan jalan kaki. Ulangi: jalan kaki! http://elitachoice.blogspot.com/2012/02/day-25-menawannya-negara-saingan.html , http://elitachoice.blogspot.com/2012/02/day-3-jelajah-jalan-kaki-kuala-lumpur.html dan http://elitachoice.blogspot.com/2012/02/day-35-jelajah-jalan-kaki-kuala-lumpur.html .

Jam menunjukkan pukul lima pagi. Suasana di Kuala Lumpur masih sunyi dan gelap gulita. Aku ingin menangis, mengapa? Karena tidak menemukan toilet disekitar sana! Padahal aku belum ke toilet sama sekali semenjak dari Penang. Aku yang mengingat semua detail daerah itu, berjalan kaki menuju stasiun MRT Masjid Jamek dan berharap bisa numpang toilet di Masjid sekalian sholat. Tapi aku juga lupa kalau jam di Kuala Lumpur lebih cepat sejam daripada WIB, jadi waktu shalat Shubuh itu jam 6 pagi. Alhasil aku hanya menemui pintu gerbang Masjid Jamek yang terkunci. Ada pasangan suami istri di bis yang sama denganku tadi melihatku sendirian. Perempuan, sendirian, dan mukaku pucet lagi. "Mau kemana?" tanya Si Suami. "Toilet," jawabku jujur. "You lebih baik tunggu di depan pintu MRT saja. Nanti open jam enam," ujar Si Suami dalam bahasa campuran melayu dan inggris. Akhirnya aku duduk menyendiri di tangga jalan masuk ke MRT Masjid Jamek yang akan buka sejam lagi. Sumpah aku mirip TKW (Tenaga Kerja Wanita) yang tersesat. Ternyata pasangan suami istri itu juga menunggu di dekat sana. Kutanyakan saja pada mereka bagaimana mencapai Putrajaya dengan naik bis. Ternyata mereka juga bingung. Good.

Putrajaya. Bisa dibilang aku jatuh cinta dengan daerah ini sejak mengunjungi pertama kalinya pada Februari lalu http://elitachoice.blogspot.com/2012/02/day-2-menawannya-negara-saingan.html . Jadi aku tak bisa melawatkan begitu saja destinasi ini saat kembali ke Kuala Lumpur. Hari itu tanggal 22 Desember 2012, pesawatku akan lepas landas dari Bandara LCCT Kuala Lumpur jam 13.30. Aku hanya memiliki sedikit waktu di pagi hari untuk menjelajah. Sebenarnya landmark Kuala Lumpur adalah Petronas dan aku belum pernah naik ke menara itu, dulu aku hanya berfoto didepannya. Namun setelah kupikir matang-matang, aku lebih memilih ke Putrajaya lagi daripada Petronas.

Jam 06.00, pintu gerbang MRT Masjid Jamek terbuka. Aku segera berlari kedalam dan membeli token MRT dengan tujuan KL Sentral. Saat masuk, pertama kali yang kucari adalah toilet :p . Mungkin karena agak mengantuk, aku salah naik MRT yang jalur sebaliknya. Untung saja aku sadar saat di stasiun pertama. Setelah itu aku ganti MRT ke arah sebaliknya, lewat MRT Masjid Jamek lagi -_- lalu MRT Pasar Seni lalu MRT KL Sentral. Semua pusat interchange transportasi ada di KL Sentral. Disana ada stasiun MRT, LRT, Komuter, Fast Train, bis, dan taksi. Februari lalu aku sudah mencoba naik Fast Train ke Putrajaya, jadi aku ingin mencoba naik bis biar lebih murah dan lama. Tapi karena malas mikir, akhirnya aku naik Fast Train lagi ke Putrajaya.

Ini adalah kali ketigaku naik Fast Train. Tapi tetap saja kereta ini membuatku ndeso dan tercengang oleh interior dan kecepatannya. Aku sampai di stasiun Putrajaya jam 7 pagi, dari sini aku oper bis Nadi Putra ke Putrajaya Sentral. Aku menelusuri kembali perjalananku hampir setahun yang lalu.

Taman Dataran Putra.
Aku turun di terminal yang sama dengan dulu. Suasana ini. Udara ini. Pemandangan ini. Tas ransel sebesar gajah ini. Setiap detail membuatku deja vu. Aku menyusuri taman yang sama. Beberapa berubah disana sini. Sepertinya Putrajaya saat ini lebih dikomersialkan, terlihat taman yang dulunya bersih dan indah kini dipenuhi meja dan kursi untuk makan dan sampah makanan terlihat berserakan. Lalu aku duduk di anak tangga yang sama saat beberapa bulan lalu. Bedanya kali ini aku menikmati pemandangan Putrajaya seorang diri tanpa partner backpacker-ku dulu: Asthy dan Adit. Bahkan suasana saat itu juga sama, pagi hari yang cerah. Aku melihat pemandangan yang sama, bendera Malaysia dan bendera propinsi yang berdiri di bundaran yang besar, belakangnya terlihat jembatan futuristik yang indah.

Duduk di anak tangga yang sama saat Februari lalu.
Tujuan utamaku adalah Masjid Putra. sayangnya Masjid itu baru buka pada pukul 9 pagi. aku harus menunggu lebih dari 1 jam untuk masuk ke tempat itu. Aku memilih berputar-putar disekitar Masjid. Lalu duduk di pedestrian melihat orang-orang beraktivitas. Ada sekumpulan ibu-ibu yang sedang senam. Ada segerombolan anak muda yang melakukan parkour sampai kejebur kolam. Ada turis yang juga melakukan hal sama sepertiku, menunggu Masjid Putra buka.

Pemandangan Dataran Putra.

Akhirnya jam 09.00 Masjid Putra buka. Hal pertama yang kulakukan adalah masuk ke tempat wudhu di underground, mengambil wudhu dan shalat Dhuha. Setelah shalat Dhuha, aku hampir saja menitikkan air mata. Permohonanku hampir setahun lalu dikabulkan oleh Allah yaitu shalat Dhuha lagi di Masjid Putra. Dan kurasa permohonanku kali itu dikabulkan dengan cepat. Dalam setahun, aku mengunjungi Masjid ini dua kali. Sepertinya masjid ini adalah tujuan wajibku di Kuala Lumpur.

Masjid Putra.
Lalu aku beranjak ke pelataran Masjid Putra. Pemandangan kota Putrajaya dari sudut ini masih saja membuatku tercengang. Terlihat sungai yang melingkari daerah sekitar masjid. Terdapat dua jembatan yang satu futuristik dan lainnya jembatan tua khas Malaysia. Lalu dari kejauhan terlihat bangunan yang tertata apik. di bawah Masjid terlihat pedestrian pinggir sungai yang cantik. Sayangnya foto-foto dari kamera DSLRku terhapus saat aku memindahkan datanya, jadi tak banyak foto yang bisa ku-sharingkan saat disini.

Sekitar jam 10.30 aku sudah naik bis untuk kembali ke stasiun Fast Train. Dari sini, aku naik Fast Train ke Salak Tinggi dan oper bis ke bandara LCCT. Well, lagi-lagi ini membuatku Deja Vu. Terdapat banyak kenangan di bandara ini. Teringat saat pertama kali keluar negeri, tanah yang kuinjak adalah bandara LCCT. bahkan aku bermalam di Mushala Bandara LCCT untuk menghemat pengeluaran! http://elitachoice.blogspot.com/2012/02/day-1-prinsip-backpackermurah.html Bahkan cerita pulang lewat LCCT saat itu tak kalah seru dan menjadi kenangan seumur hidup yang takkan kulupa, seorang Bapak berkewarganegaraan Malaysia rela mengantarkan 3 Backpacker gila yang terlantar di jalan tol : Aku, Asthy, dan UcupS dari sekitar perbatasan Singapore sampai LCCT http://elitachoice.blogspot.com/2012/02/akhir-klimaks-dari-perjalanan.html . Aku menunggu di ruang tunggu sambil mengingat semua kejadian traveling yang pernah kualami, mulai hal gila sampai hal mewah. Sepertinya jalan-jalan sudah menjadi candu bagiku. Candu akan pengalaman baru, bertemu dengan orang baru, kebudayaan baru, dan semua hal itu membuka tempurung yang kubangun sendiri sejak kecil. Guys, bumi Allah itu luas, jejakkan kaki di semua sudut dan temukan keajaiban-Nya. Aku masih ingin melihat keindahan bumi Allah di daerah lainnya. Semoga saja Allah mengijinkanku untuk menjelajahinya.

Aku melihat pasporku yang sudah di cap keluar dari Malaysia. Saatnya kembali ke negara tercinta, Indonesia. Kemanapun aku pergi, selalu ada tempat yang pada akhirnya aku akan kembali- Indonesia, bumi pertiwi.

Welcome to Indonesia. Negeri Tempe. Welcome to Jakarta. Ibukota Indonesia.

Read More

© More Than a Choice, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena